Pemerintah Mulai Operasikan Seratus Lokasi Sekolah Rakyat Sebagai Solusi Pendidikan Inklusif

Baca Juga

Oleh: Rinanda Utami )*

Pemerintah mulai mengoperasikan 100 titik lokasi Sekolah Rakyat pada Juli 2025 sebagai bagian dari komitmen memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Sebanyak 9.755 siswa terdata akan mengikuti pembelajaran berasrama yang difasilitasi secara penuh oleh negara. Langkah ini menjadi jawaban konkret atas tantangan pemerataan pendidikan dan kemiskinan yang masih menjadi pekerjaan rumah nasional.

Program Sekolah Rakyat merupakan inisiatif strategis Presiden Prabowo Subianto yang dirancang untuk menyasar anak-anak yang selama ini tertinggal dalam sistem pendidikan formal. Kementerian Sosial ditunjuk sebagai pelaksana utama dengan dukungan lintas kementerian, pemerintah daerah, dan lembaga terkait. Dalam tahap awal, 100 sekolah mulai dioperasikan secara serentak, dengan sistem asrama yang mencakup jenjang SD, SMP, dan SMA.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat dirancang secara khusus untuk menjadi lembaga pendidikan inklusif dan transformatif. Anak-anak tidak hanya mengikuti pembelajaran formal pada siang hari, tetapi juga mengikuti penguatan karakter, pelatihan kepemimpinan, dan keterampilan hidup pada malam hari. Ia memastikan bahwa setiap siswa akan mendapatkan fasilitas setara sekolah unggulan, mulai dari tempat tinggal, makan, perlengkapan belajar, hingga akses teknologi.

Untuk memastikan ketepatan sasaran, pemerintah menggunakan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) dalam rekrutmen siswa. Calon peserta diseleksi secara ketat melalui koordinasi antara pendamping PKH, dinas sosial dan pendidikan, BPS, serta pemerintah daerah. Siswa yang berasal dari kategori Desil 1 atau keluarga dalam kemiskinan ekstrem menjadi prioritas utama. Namun, sistem seleksi tetap fleksibel, memungkinkan anak-anak dari latar belakang serupa untuk diterima setelah proses verifikasi.

Dalam aspek sumber daya manusia, Kementerian Sosial telah menyiapkan lebih dari 1.500 guru dan 3.300 tenaga kependidikan untuk mendukung operasional sekolah. Guru yang terlibat merupakan tenaga profesional yang direkrut melalui mekanisme Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), sementara kepala sekolah berasal dari kalangan aparatur sipil negara. Pengelolaan SDM dilakukan secara kolaboratif bersama Kementerian Pendidikan, Kementerian PAN-RB, dan Badan Kepegawaian Negara untuk menjamin kualitas pengajaran dan manajemen sekolah.

Pemerintah juga menggandeng Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Komisi Perlindungan Anak Indonesia untuk memastikan perlindungan siswa selama berada di lingkungan asrama. Tiga hal utama yang menjadi perhatian adalah pencegahan perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi. Sekolah Rakyat tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga lingkungan aman dan nyaman untuk tumbuh kembang anak.

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo turut menyampaikan bahwa kementeriannya terlibat langsung dalam perencanaan desain dan pembangunan gedung-gedung sekolah rakyat. Kementerian PU bekerja sama dengan Kementerian Sosial dalam menyiapkan fasilitas fisik yang layak dan sesuai standar pendidikan modern. Saat ini, tahap desain sedang dimatangkan bersama instansi terkait, dengan fokus pada efisiensi ruang, kenyamanan siswa, dan keberlanjutan fungsi bangunan setelah tahap rintisan selesai.

Sebaran lokasi Sekolah Rakyat tahap pertama mencakup hampir seluruh wilayah Indonesia, dengan 48 titik di Pulau Jawa, 22 di Sumatra, 15 di Sulawesi, serta lokasi tambahan di Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Maluku, dan Papua. Sebanyak 395 rombongan belajar telah disiapkan untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar. Pemerintah juga memastikan bahwa gedung-gedung sementara yang digunakan dalam tahap awal akan dialihfungsikan secara optimal setelah selesai digunakan, seperti menjadi rumah singgah atau pusat layanan sosial.

Selain tahap pertama, pemerintah juga tengah menyiapkan 100 lokasi tambahan untuk tahap kedua yang ditargetkan mulai berjalan bersamaan. Tahap lanjutan ini akan melibatkan sekitar 10.600 siswa baru, 2.180 guru, dan lebih dari 4.000 tenaga kependidikan. Sebagian besar lokasi tambahan akan memanfaatkan 122 Balai Latihan Kerja milik Kementerian Ketenagakerjaan serta fasilitas milik pemerintah daerah.

Program Sekolah Rakyat juga mendapat perhatian serius dari legislatif. Anggota Komisi VIII DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menyampaikan bahwa pendidikan menjadi instrumen paling kuat untuk memutus mata rantai kemiskinan. Ia menyatakan kesiapannya mengawal pelaksanaan program agar tepat sasaran dan tidak mengulangi kegagalan pendekatan bantuan sosial sebelumnya. Legislator dari dapil Jawa Tengah IX tersebut menekankan pentingnya fokus pada pembinaan karakter, kewirausahaan, dan kepemimpinan, bukan semata-mata pemberian bantuan materi.

Sebagai bentuk komitmen penuh, pemerintah juga telah menyiapkan lahan seluas delapan hektare di Brebes untuk pembangunan sekolah rakyat jangka panjang. Langkah ini mencerminkan pendekatan berbeda yang diambil dalam program pengentasan kemiskinan. Pemerintah tidak memberikan bantuan langsung dalam bentuk uang tunai, melainkan menyediakan sarana untuk membangun masa depan secara mandiri melalui pendidikan.

Sekolah Rakyat hadir sebagai wajah baru pendidikan Indonesia, yang menempatkan anak-anak dari keluarga termiskin sebagai prioritas utama. Program ini menandai pergeseran paradigma dalam penyediaan layanan pendidikan, dari sistem yang eksklusif menjadi inklusif. Pemerintah tidak hanya menjanjikan pendidikan gratis, tetapi juga menyusun ekosistem pembelajaran yang berpihak pada masa depan anak bangsa.

Dengan peluncuran 100 sekolah pertama, pemerintah telah menunjukkan langkah awal yang kuat dan terarah. Program Sekolah Rakyat bukan hanya simbol kepedulian sosial, tetapi juga bukti bahwa negara hadir secara nyata dalam kehidupan rakyatnya yang paling rentan. Dengan dukungan lintas kementerian, legislatif, dan masyarakat, pendidikan inklusif kini bergerak dari konsep menjadi kenyataan.

)* Pemerhati Kebijakan Publik

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Konsistensi Negara Mengawal Keadilan dan Percepatan Pembangunan Papua melalui Otonomi Khusus

Oleh: Manta Wabimbo *) Papua bukan sekadar wilayah administratif di ujung timur Indonesia, melainkan ruangstrategis tempat negara menguji komitmennya terhadap keadilan pembangunan. SejakOtonomi Khusus Papua diberlakukan pada 2001 dan diperkuat melalui Undang-UndangNomor 2 Tahun 2021, arah kebijakan pemerintah semakin tegas: menghadirkan pendekatanpembangunan yang afirmatif, terukur, dan berpihak pada Orang Asli Papua. Dalam kontekstersebut, Otsus tidak lagi dapat dipahami sebagai kebijakan sementara, melainkan sebagaiinstrumen jangka panjang untuk mengoreksi ketimpangan struktural yang diwariskan olehsejarah dan kondisi geografis. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kesinambungan dan penguatanterhadap agenda Otsus. Hal ini tercermin dari intensifikasi koordinasi antara pemerintah pusatdan kepala daerah seluruh Papua yang dilakukan secara langsung di Istana Negara. Langkahtersebut menandakan bahwa Papua tidak diposisikan sebagai wilayah pinggiran, melainkansebagai prioritas nasional yang membutuhkan orkestrasi kebijakan lintas sektor. Pemerintahpusat tidak hanya menyalurkan anggaran, tetapi juga memastikan bahwa desainpembangunan Papua selaras antara pusat dan daerah. Salah satu capaian yang paling nyata dari implementasi Otsus adalah percepatanpembangunan infrastruktur dasar. Jalan penghubung, bandara perintis, dan fasilitas logistiktelah membuka isolasi wilayah yang selama puluhan tahun menjadi penghambat utamapembangunan. Infrastruktur ini tidak semata menghadirkan konektivitas fisik, tetapimenciptakan fondasi ekonomi baru yang memungkinkan distribusi barang lebih efisien danmenurunkan beban biaya hidup masyarakat. Dalam konteks ini, pembangunan infrastrukturmenjadi wujud kehadiran negara yang konkret dan dirasakan langsung oleh rakyat. Dampak lanjutan dari keterbukaan akses tersebut terlihat pada penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mendorong agar aktivitas produksi masyarakat Papua, baik di sektor pertanian, perikanan, maupun usaha mikro, dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas. Otsusmemberi ruang fiskal bagi daerah untuk merancang kebijakan ekonomi yang sesuai dengankarakter lokal, sekaligus menjaga agar manfaat pembangunan tidak terkonsentrasi padakelompok tertentu. Pendekatan ini menegaskan bahwa agenda pemerintah di Papua berorientasi pada pemerataan, bukan sekadar pertumbuhan angka statistik. Pada saat yang sama, Otsus Jilid II menempatkan pembangunan sumber daya manusiasebagai prioritas strategis. Program afirmasi pendidikan, termasuk beasiswa bagi siswa danmahasiswa asli Papua, menjadi investasi jangka panjang yang menentukan arah masa depanPapua. Otsus telah membuka ruang mobilitas sosial yang sebelumnya sulit dijangkau, sekaligus membangun rasa percaya diri generasi muda Papua untuk berkompetisi secaraglobal. Pandangan tersebut memperkuat keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci utamakemandirian Papua di masa depan. Di sektor kesehatan, kebijakan Otsus juga menunjukkan wajah negara yang protektif. Pemerintah memastikan bahwa akses layanan kesehatan bagi Orang Asli Papua tidak lagiterhambat oleh keterbatasan biaya dan fasilitas. Penguatan rumah sakit daerah, distribusitenaga kesehatan, serta jaminan kesehatan khusus bagi OAP mencerminkan pendekatanpembangunan yang berorientasi pada hak dasar warga negara. Dalam kerangka yang sama, pemberdayaan ekonomi perempuan Papua melalui dukungan usaha mikro menjadi strategipenting untuk memperkuat ketahanan keluarga dan ekonomi lokal. Keunikan Otsus juga tercermin dalam pengakuan terhadap struktur sosial dan politikmasyarakat Papua. Keberadaan Majelis Rakyat Papua serta mekanisme afirmasi politik bagiOrang Asli Papua merupakan bentuk penghormatan negara terhadap identitas dan hakkolektif masyarakat adat. Tokoh agama Papua, Pdt. Alberth Yoku, menekankan bahwa Otsusmemberikan ruang bagi orang Papua untuk menjadi subjek pembangunan di tanahnya sendiri, selama dijalankan dengan semangat kolaborasi dan kejujuran. Perspektif ini menegaskanbahwa Otsus bukan ancaman bagi integrasi nasional, melainkan penguat persatuan berbasiskeadilan. Pemerintah juga menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki tata kelola Otsus. Pembentukan Badan Pengarah Percepatan Otonomi Khusus Papua yang dipimpin langsungoleh Wakil Presiden merupakan sinyal kuat bahwa pengawasan dan efektivitas menjadiperhatian utama. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara konsisten menekankanpentingnya sinkronisasi program antara kementerian dan pemerintah daerah agar dana Otsusbenar-benar menghasilkan dampak nyata. Langkah ini menjawab kritik lama tentangfragmentasi kebijakan dan memperlihatkan kemauan politik pemerintah untuk melakukankoreksi. Ke depan, tantangan implementasi tentu masih ada. Namun dengan peningkatan alokasianggaran Otsus menjadi 2,25 persen dari Dana Alokasi Umum nasional serta pengawasanyang semakin ketat, fondasi pembangunan Papua kian kokoh. Yang dibutuhkan kini adalahkonsistensi pelaksanaan dan kepemimpinan daerah yang berorientasi pada pelayanan publik. Papua hari ini adalah Papua yang sedang bergerak maju. Mendukung Otsus berartimendukung agenda besar negara dalam menyempurnakan keadilan pembangunan danmemperkuat persatuan nasional. Ketika Papua tumbuh melalui jalur yang damai, inklusif, danberkelanjutan, Indonesia sedang meneguhkan dirinya sebagai bangsa besar yang tidakmeninggalkan satu pun wilayahnya dalam perjalanan menuju kemajuan. *) Analis Kebijakan Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini