Pembangunan Infrastruktur dan Transformasi Besar sebagai Legasi Berharga Presiden Jokowi

Baca Juga

Oleh: Bambang Prasetyo )*

Sejak menjabat sebagai Presiden RI ketujuh pada tahun 2014, Joko Widodo telah menunjukkan komitmen yang kuat dalam pembangunan infrastruktur di seluruh penjuru negeri. Pembangunan yang masif ini tidak hanya berfokus pada peningkatan konektivitas antarwilayah, tetapi juga bertujuan menciptakan pondasi yang kokoh bagi perekonomian nasional. Langkah-langkah tersebut tidak lepas juga dari transformasi besar sebagai bentuk legasi kepemimpinan Presiden Joko Widodo selama 2 periode atau 10 tahun belakangan ini.

Kepala Negara berusia 63 tahun ini menyadari bahwa pembangunan infrastruktur merupakan kunci untuk mendorong kemajuan sebuah negara. Oleh karena itu, pria kelahiran Kota Surakarta tersebut memprioritaskan pembangunan jalan tol, bandara, pelabuhan, dan jalur kereta api yang menghubungkan berbagai wilayah.

Salah satu proyek terbesar adalah pembangunan Tol Trans-Jawa dan Trans-Sumatra yang memudahkan mobilitas barang dan manusia antarprovinsi, sehingga meningkatkan efisiensi logistik dan menurunkan biaya distribusi. Infrastruktur ini juga mendukung pertumbuhan sektor-sektor lain, seperti pariwisata dan manufaktur, yang semakin berkembang berkat kemudahan akses transportasi.

Selain jalan tol, Kepala Negara juga memfokuskan perhatian pada pembangunan pelabuhan dan bandara di wilayah-wilayah terpencil, termasuk di Indonesia timur. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa seluruh wilayah, terutama yang jauh dari pusat ekonomi, dapat terintegrasi dalam pembangunan nasional.

Presiden Jokowi melihat pentingnya menghilangkan kesenjangan antarwilayah sebagai syarat penting untuk menciptakan Indonesia yang lebih adil dan merata. Salah satu capaian besar Presiden Jokowi adalah pembangunan Pelabuhan Patimban di Subang, Jawa Barat, yang dirancang untuk menjadi pelabuhan terbesar di Asia Tenggara.

Pelabuhan tersebut berperan penting dalam mendorong ekspor, khususnya di sektor otomotif, dan memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan internasional. Pembangunan ini menunjukkan visi jauh ke depan Presiden RI ketujuh dalam mempersiapkan Indonesia untuk bersaing di era global.

Di sektor transportasi publik, pemerintahan pemimpin bangsa yang menjabat sejak tahun 2014 ini juga mencatatkan kemajuan pesat. Pembangunan MRT di Jakarta, LRT Jabodebek, serta revitalisasi moda transportasi massal lainnya, merupakan upaya konkret untuk mengurangi kemacetan di perkotaan dan mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi. Infrastruktur transportasi publik yang modern ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat perkotaan serta mendukung upaya mengurangi emisi gas rumah kaca.

Pembangunan infrastruktur yang merata dan inklusif juga sangat terasa di Papua, wilayah yang selama ini kerap tertinggal dari segi pembangunan. Di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi, Papua menjadi salah satu prioritas dalam pembangunan infrastruktur nasional.

Jalan Trans Papua, yang sepanjang 4.330 kilometer, menjadi proyek monumental yang menghubungkan berbagai wilayah di Papua yang sebelumnya terisolasi. Pembangunan tersebut tidak hanya membawa dampak positif bagi perekonomian lokal, tetapi juga memperkuat integrasi Papua ke dalam struktur pembangunan nasional, serta memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.

Di sektor energi, Presiden Jokowi juga mendorong pembangunan pembangkit listrik di berbagai daerah untuk mengatasi masalah defisit energi dan memastikan pemerataan akses listrik di seluruh Indonesia.

Proyek-proyek pembangkit listrik berbasis energi fosil maupun terbarukan, telah dibangun untuk memenuhi kebutuhan energi nasional yang terus meningkat. Pria kelahiran Kota Surakarta ini juga mendorong pengembangan energi baru dan terbarukan sebagai bagian dari komitmennya terhadap lingkungan dan keberlanjutan.

Salah satu langkah konkret adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di beberapa wilayah, serta pembangkit listrik tenaga air yang memanfaatkan potensi sumber daya air di Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menekankan bahwa pemerintah terus melakukan pembangunan infrastruktur secara merata dan adil. Seperti contoh, yakni pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) infrastruktur yang tidak hanya menekankan biaya logistik saja, namun juga meningkatkan daya saing, terlebih turut mewujudkan pemerataan pembangunan demi keadilan sosial.

Sementara itu, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono menilai bahwa akselerasi pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan dan tangguh bencana jelas mampu mendorong pertumbuhan ekonomi.

Keberhasilan pembangunan infrastruktur di era Jokowi juga didukung oleh reformasi birokrasi yang mengedepankan efisiensi dan transparansi. Program percepatan perizinan investasi yang diterapkan pemerintah, termasuk Online Single Submission (OSS), telah memudahkan proses perizinan bagi investor, sehingga mendorong masuknya investasi asing dan domestik. Hal ini menciptakan lingkungan bisnis yang lebih kompetitif dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Presiden Jokowi juga tidak melupakan pentingnya infrastruktur digital. Di tengah era Revolusi Industri 4.0, pemimpin bangsa ini memprioritaskan pembangunan jaringan internet yang merata di seluruh Indonesia, termasuk di wilayah-wilayah terpencil.

Program Palapa Ring, yang merentangkan jaringan fiber optic ke berbagai daerah, telah berhasil meningkatkan akses internet di wilayah-wilayah yang selama ini sulit dijangkau. Infrastruktur digital ini menjadi tulang punggung bagi pengembangan ekonomi digital yang semakin berkembang pesat di Indonesia.

Pembangunan infrastruktur di era Presiden Jokowi tidak hanya sekadar membangun fisik, tetapi juga membangun konektivitas dan kesempatan bagi seluruh rakyat Indonesia. Langkah-langkah yang diambil oleh Jokowi tersebut telah berhasil memperkuat fondasi ekonomi, menciptakan peluang baru, dan memperkuat persatuan bangsa. Dengan infrastruktur yang maju, Indonesia semakin tangguh dalam menghadapi tantangan global dan siap bersaing di panggung internasional.

*) Pengamat Kebijakan Publik Persada Institute

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Konsistensi Negara Mengawal Keadilan dan Percepatan Pembangunan Papua melalui Otonomi Khusus

Oleh: Manta Wabimbo *) Papua bukan sekadar wilayah administratif di ujung timur Indonesia, melainkan ruangstrategis tempat negara menguji komitmennya terhadap keadilan pembangunan. SejakOtonomi Khusus Papua diberlakukan pada 2001 dan diperkuat melalui Undang-UndangNomor 2 Tahun 2021, arah kebijakan pemerintah semakin tegas: menghadirkan pendekatanpembangunan yang afirmatif, terukur, dan berpihak pada Orang Asli Papua. Dalam kontekstersebut, Otsus tidak lagi dapat dipahami sebagai kebijakan sementara, melainkan sebagaiinstrumen jangka panjang untuk mengoreksi ketimpangan struktural yang diwariskan olehsejarah dan kondisi geografis. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kesinambungan dan penguatanterhadap agenda Otsus. Hal ini tercermin dari intensifikasi koordinasi antara pemerintah pusatdan kepala daerah seluruh Papua yang dilakukan secara langsung di Istana Negara. Langkahtersebut menandakan bahwa Papua tidak diposisikan sebagai wilayah pinggiran, melainkansebagai prioritas nasional yang membutuhkan orkestrasi kebijakan lintas sektor. Pemerintahpusat tidak hanya menyalurkan anggaran, tetapi juga memastikan bahwa desainpembangunan Papua selaras antara pusat dan daerah. Salah satu capaian yang paling nyata dari implementasi Otsus adalah percepatanpembangunan infrastruktur dasar. Jalan penghubung, bandara perintis, dan fasilitas logistiktelah membuka isolasi wilayah yang selama puluhan tahun menjadi penghambat utamapembangunan. Infrastruktur ini tidak semata menghadirkan konektivitas fisik, tetapimenciptakan fondasi ekonomi baru yang memungkinkan distribusi barang lebih efisien danmenurunkan beban biaya hidup masyarakat. Dalam konteks ini, pembangunan infrastrukturmenjadi wujud kehadiran negara yang konkret dan dirasakan langsung oleh rakyat. Dampak lanjutan dari keterbukaan akses tersebut terlihat pada penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mendorong agar aktivitas produksi masyarakat Papua, baik di sektor pertanian, perikanan, maupun usaha mikro, dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas. Otsusmemberi ruang fiskal bagi daerah untuk merancang kebijakan ekonomi yang sesuai dengankarakter lokal, sekaligus menjaga agar manfaat pembangunan tidak terkonsentrasi padakelompok tertentu. Pendekatan ini menegaskan bahwa agenda pemerintah di Papua berorientasi pada pemerataan, bukan sekadar pertumbuhan angka statistik. Pada saat yang sama, Otsus Jilid II menempatkan pembangunan sumber daya manusiasebagai prioritas strategis. Program afirmasi pendidikan, termasuk beasiswa bagi siswa danmahasiswa asli Papua, menjadi investasi jangka panjang yang menentukan arah masa depanPapua. Otsus telah membuka ruang mobilitas sosial yang sebelumnya sulit dijangkau, sekaligus membangun rasa percaya diri generasi muda Papua untuk berkompetisi secaraglobal. Pandangan tersebut memperkuat keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci utamakemandirian Papua di masa depan. Di sektor kesehatan, kebijakan Otsus juga menunjukkan wajah negara yang protektif. Pemerintah memastikan bahwa akses layanan kesehatan bagi Orang Asli Papua tidak lagiterhambat oleh keterbatasan biaya dan fasilitas. Penguatan rumah sakit daerah, distribusitenaga kesehatan, serta jaminan kesehatan khusus bagi OAP mencerminkan pendekatanpembangunan yang berorientasi pada hak dasar warga negara. Dalam kerangka yang sama, pemberdayaan ekonomi perempuan Papua melalui dukungan usaha mikro menjadi strategipenting untuk memperkuat ketahanan keluarga dan ekonomi lokal. Keunikan Otsus juga tercermin dalam pengakuan terhadap struktur sosial dan politikmasyarakat Papua. Keberadaan Majelis Rakyat Papua serta mekanisme afirmasi politik bagiOrang Asli Papua merupakan bentuk penghormatan negara terhadap identitas dan hakkolektif masyarakat adat. Tokoh agama Papua, Pdt. Alberth Yoku, menekankan bahwa Otsusmemberikan ruang bagi orang Papua untuk menjadi subjek pembangunan di tanahnya sendiri, selama dijalankan dengan semangat kolaborasi dan kejujuran. Perspektif ini menegaskanbahwa Otsus bukan ancaman bagi integrasi nasional, melainkan penguat persatuan berbasiskeadilan. Pemerintah juga menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki tata kelola Otsus. Pembentukan Badan Pengarah Percepatan Otonomi Khusus Papua yang dipimpin langsungoleh Wakil Presiden merupakan sinyal kuat bahwa pengawasan dan efektivitas menjadiperhatian utama. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara konsisten menekankanpentingnya sinkronisasi program antara kementerian dan pemerintah daerah agar dana Otsusbenar-benar menghasilkan dampak nyata. Langkah ini menjawab kritik lama tentangfragmentasi kebijakan dan memperlihatkan kemauan politik pemerintah untuk melakukankoreksi. Ke depan, tantangan implementasi tentu masih ada. Namun dengan peningkatan alokasianggaran Otsus menjadi 2,25 persen dari Dana Alokasi Umum nasional serta pengawasanyang semakin ketat, fondasi pembangunan Papua kian kokoh. Yang dibutuhkan kini adalahkonsistensi pelaksanaan dan kepemimpinan daerah yang berorientasi pada pelayanan publik. Papua hari ini adalah Papua yang sedang bergerak maju. Mendukung Otsus berartimendukung agenda besar negara dalam menyempurnakan keadilan pembangunan danmemperkuat persatuan nasional. Ketika Papua tumbuh melalui jalur yang damai, inklusif, danberkelanjutan, Indonesia sedang meneguhkan dirinya sebagai bangsa besar yang tidakmeninggalkan satu pun wilayahnya dalam perjalanan menuju kemajuan. *) Analis Kebijakan Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini