MataIndonesia, Jakarta — Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto mencatatkan tonggak sejarah baru dalam pembangunan nasional dengan diumumkannya keberhasilan swasembada pangan. Capaian ini menandai kembalinya kejayaan pangan Indonesia seperti pada dekade 1980-an, sekaligus menjadi bukti nyata efektivitas kebijakan modernisasi pertanian yang dijalankan secara terintegrasi dan berkelanjutan.
Presiden Prabowo Subianto secara resmi mengumumkan swasembada pangan nasional setelah Indonesia mencatatkan produksi beras tertinggi sepanjang sejarah dalam satu tahun pemerintahan. Keberhasilan tersebut dipandang sebagai kemenangan strategis bangsa dalam memperkuat kemandirian dan ketahanan nasional.
“Hari ini kita telah mencatat suatu kemenangan yang penting. Yang penting hari ini saudara memberi bukti yang nyata. Saudara telah mencatat tonggak penting dalam kemerdekaan bangsa Indonesia. Dengan mengucap bismillah pada 7 Januari 2026, saya Presiden Prabowo Subianto mengumumkan telah tercapainya swasembada pangan bagi rakyat Indonesia,” kata Presiden Prabowo.
Tercapainya swasembada pangan tidak terlepas dari langkah peningkatan produksi yang dilakukan secara masif dan terencana. Pemerintah mengombinasikan strategi intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian secara seimbang. Dari sisi intensifikasi, penguatan benih unggul, pompanisasi, optimasi lahan, perbaikan dan pembangunan irigasi, modernisasi pertanian, serta peremajaan alat dan mesin pertanian (alsintan) dilakukan secara menyeluruh. Sementara itu, dari sisi ekstensifikasi, percepatan cetak sawah baru menjadi fokus utama untuk menambah luas tanam nasional.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa modernisasi pertanian melalui penerapan teknologi dan mekanisasi merupakan kunci utama agar swasembada pangan dapat dicapai secara berkelanjutan. Menurutnya, tantangan pertanian ke depan tidak bisa lagi dihadapi dengan cara-cara konvensional.
“Modernisasi pertanian menjadi kunci dalam menjaga ketahanan pangan nasional,” ujar Mentan Amran.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah terus memperkuat mekanisasi, penyediaan sarana produksi, serta pendampingan petani di berbagai daerah guna meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.
“Kita mendorong pertanian berbasis inovasi dan teknologi. Dengan teknologi, produktivitas meningkat, indeks pertanaman naik, biaya produksi turun, dan kesejahteraan petani meningkat,” jelasnya.
Penerapan teknologi terlihat nyata dalam pelaksanaan panen raya yang menggunakan combine harvester. Penggunaan mesin ini terbukti mampu mempercepat proses panen, menekan kehilangan hasil, serta mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja manual. Selain itu, penggunaan varietas unggul padi Inpari 32 yang dikembangkan Kementerian Pertanian, dengan potensi hasil mencapai 8,42 ton per hektare, menjadi pengungkit signifikan bagi peningkatan produksi nasional.
Keberhasilan swasembada pangan di era pemerintahan Presiden Prabowo menjadi bukti bahwa modernisasi pertanian bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan strategis. Dengan fondasi kebijakan yang kuat, dukungan teknologi, dan keberpihakan pada petani, Indonesia optimistis mampu menjaga ketahanan pangan sekaligus memperkuat kedaulatan ekonomi nasional dalam jangka panjang.
[ed]
