TANGERANG SELATAN, Minews – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) tengah mengakselerasi pengembangan ekosistem ekonomi kreatif sebagai motor penggerak ekonomi daerah. Langkah ini diambil melalui penguatan infrastruktur fisik dan digital guna merespons dinamika industri global.
Fokus kebijakan ini diarahkan pada penciptaan iklim usaha yang kondusif bagi 17 subsektor ekonomi kreatif, mulai dari aplikasi dan gim hingga kriya dan kuliner. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah penyediaan fasilitas bagi para pelaku industri kreatif di wilayah tersebut.
Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie, melalui Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Tangsel, TB Asep Nurdin, menegaskan bahwa pemerintah kota sangat fokus pada penciptaan iklim usaha yang kondusif terbukti bahwa kini Tangsel telah memiliki gedung ekonomi kreatif atau Creative Hub setinggi 8 lantai.
“Gedung tersebut menjadi wadah pengembangan sektor ekonomi kreatif sekaligus membuka lapangan pekerjaan yang luas pada 17 subsektor kreatif. Ini adalah komitmen kami untuk memposisikan Tangsel sebagai pusat inovasi nasional,” ujar TB Asep Nurdin di Serpong, Minggu (22/2/2026).
Sektor ekonomi kreatif dinilai sangat potensial di Tangsel. Hal ini terlihat dari kontribusinya terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang tergolong tinggi. Tercatat, sektor ini menyumbang sekitar 20 persen dari total PAD di Tangsel. Secara nominal, kontribusi ekonomi kreatif mencapai sekitar Rp300 miliar, dari total PAD Tangsel yang berada di angka kurang lebih Rp1,5 triliun.
Selain kontribusi fiskal, jumlah pelaku ekonomi kreatif di Tangsel juga menunjukkan tren positif. Pada tahun ini, jumlah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang bergerak di sektor tersebut mencapai sekitar 104.000 unit. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang sebanyak 90.000 UMKM.
TB Asep Nurdin menjelaskan bahwa mengingat keterbatasan sumber daya alam, fokus pembangunan Tangsel dialihkan pada penguatan modal intelektual. Diskominfo bertugas memastikan infrastruktur digital mumpuni agar seluruh pelaku kreatif memiliki akses setara ke pasar global.
“Pak Wali Kota menginstruksikan agar transformasi digital tidak hanya berhenti pada penyediaan aplikasi, tetapi berdampak langsung pada peningkatan nilai ekonomi produk kreatif warga. Kami berupaya menjembatani kebutuhan pelaku usaha, termasuk mendorong fasilitasi sertifikasi Hak Kekayaan Intelektual (HAKI),” tambah Asep.
Integrasi layanan melalui sistem cerdas (Smart City) juga menjadi kunci dalam memangkas hambatan birokrasi bagi para kreator lokal. Dengan kemudahan administratif, pelaku usaha diharapkan dapat lebih fokus pada inovasi produk dan ekspansi pasar.
Melalui sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan dalam model Pentahelix, Pemkot Tangsel berupaya menghidupkan pusat-pusat kreatif yang memungkinkan terjadinya transfer pengetahuan antar-komunitas. Keberadaan kawasan seperti BSD Digital Hub turut memperkuat posisi Tangsel dalam peta ekonomi nasional.
Di bawah komando TB Asep Nurdin, Diskominfo Tangsel juga terus memperkuat infrastruktur pendukung seperti Free Wi-Fi di ruang publik dan aplikasi Tangsel Belajar agar akses informasi semakin inklusif.
“Kami menyediakan panggung digitalnya. Tugas kami adalah memastikan infrastruktur IT tidak hanya canggih, tapi juga fungsional bagi pelaku UMKM kreatif agar mereka bisa melakukan digital branding secara mandiri,” ungkapnya.
Meskipun sektor kuliner dan fesyen tetap menjadi penyumbang terbesar, subsektor aplikasi dan game developer di wilayah Serpong dan Ciputat mulai menunjukkan taringnya dengan menyerap ribuan tenaga kerja terampil setiap tahun.
“Kami ingin setiap anak muda di Tangsel tidak lagi bertanya ‘di mana saya harus melamar kerja?’, tapi ‘apa yang bisa saya ciptakan hari ini?’. Itulah esensi sejati dari kota kreatif,” tutup Asep Nurdin.
