Oleh : Ricky Rinaldi
Transformasi ekonomi nasional membutuhkan langkah nyata yang mampumengubah struktur perekonomian dari sekadar pengekspor bahan mentah menjadinegara penghasil produk bernilai tambah tinggi. Hilirisasi menjadi strategi utamayang terus didorong pemerintah untuk memperkuat fondasi ekonomi. Setelahmenunjukkan hasil pada tahap awal, pengembangan Hilirisasi Tahap II menjadi buktikeseriusan pemerintah dalam membangun ekonomi berbasis produksi yang kuat, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Selama bertahun-tahun, sebagian besar kekayaan sumber daya alam Indonesia diekspor dalam bentuk bahan mentah. Pola ini membuat nilai tambah yang dihasilkan terbatas dan peluang penciptaan lapangan kerja domestik belum optimal. Hilirisasi hadir sebagai solusi agar sumber daya nasional diolah lebih lanjut di dalamnegeri demi memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pembangunan ekonomi harusbertumpu pada kemampuan produksi nasional. Indonesia tidak boleh lagi hanyamenjadi pemasok bahan baku bagi negara lain, melainkan harus mengembangkanindustri yang memperkuat kemandirian ekonomi. Dalam kerangka tersebut, hilirisasi menjadi pilar penting dalam strategi pembangunan jangka panjang.
Hilirisasi Tahap II dirancang untuk memperluas cakupan sektor. Jika sebelumnyafokus tertuju pada mineral dan pertambangan, tahap lanjutan ini mulai merambahsektor pertanian, perkebunan, perikanan, hingga energi demi menciptakan dampakekonomi yang lebih merata di seluruh wilayah.
Sebagai bagian dari strategi ini, pemerintah bergerak cepat mempercepatpengembangan industri bioetanol nasional untuk memperkuat ketahanan energi. Langkah konkretnya dimulai lewat penjajakan pengembangan bioetanol terintegrasidi Provinsi Lampung, yang diproyeksikan menjadi model energi terbarukan berbasispertanian.
Komitmen tersebut diperkuat melalui sinergi lintas sektor yang dipimpin oleh Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu bersamaPemprov Lampung, PT Pertamina New and Renewable Energy (PNRE), PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), dan PT Toyota Tsusho Indonesia (TTI). Kolaborasi ini dikukuhkan melalui penandatanganan deklarasi bersama untukmembangun rantai pasok bahan baku, fasilitas produksi, serta mempercepatinvestasi nasional. Penjajakan ini juga menindaklanjuti kerja sama internasionalpascakunjungan kerja ke fasilitas riset milik Research Association of Biomass Innovation for Next Generation Automobile Fuels (raBit) di Fukushima, Jepang, yang membuka peluang besar bagi transfer teknologi.
Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani turut menekankan bahwa hilirisasimerupakan instrumen penting untuk memperkuat daya saing nasional. Denganmemperbesar kapasitas pengolahan domestik, Indonesia tidak hanya meningkatkannilai ekonomi produk, tetapi juga memperkuat posisi strategisnya dalam rantai pasokglobal.
Salah satu manfaat utama hilirisasi adalah peningkatan nilai tambah produk. Pada proyek di Lampung, konsep multi-feedstock akan diterapkan dengan mengolahmolases tebu, sorgum, hingga limbah biomassa menjadi bioetanol generasi pertamadan kedua. Proyek ini dibagi dalam dua fase: tahap percontohan berupa penanamansorgum varietas Enryu seluas 10 hektare dengan pabrik berkapasitas 60 KL/tahun, serta tahap komersial yang menargetkan lahan 6.000 hektare dengan pabrikberkapasitas 60.000 KL/tahun. Konstruksi komersial ditargetkan mulai pada kuartalketiga 2027 dan beroperasi penuh pada kuartal keempat 2028.
Selain meningkatkan nilai tambah, hilirisasi berkontribusi pada penguatan industrinasional. Kehadiran fasilitas pengolahan mendorong tumbuhnya sektor pendukungseperti logistik, jasa, teknologi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusiasecara berkelanjutan.
Dalam penciptaan lapangan kerja, Hilirisasi Tahap II memiliki potensi masif. Proyekbioetanol Lampung membuka peluang kemitraan langsung antara industri dan petanilokal melalui budidaya sorgum, yang berdampak positif pada peningkatankesejahteraan masyarakat agrikultur secara langsung.
Negara dengan basis produksi yang kuat cenderung lebih tangguh menghadapigejolak global dibanding negara yang bergantung pada ekspor komoditas mentah. Namun, keberhasilan Hilirisasi Tahap II memerlukan infrastruktur memadai. Lampung dipilih karena memiliki ketersediaan bahan baku paling mumpuni sertaposisi geografis strategis untuk memasok kebutuhan energi Sumatera dan Jawasebagai pusat konsumsi terbesar. Hasil peninjauan lapangan di KecamatanTegineneng dan Desa Rejosari menunjukkan kesiapan logistik kawasan tersebutsangat mendukung untuk dijadikan pusat ekosistem baru.
Pemanfaatan teknologi modern juga penting untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produk agar mampu bersaing di pasar global. Di sisi lain, pengembangan initetap memperhatikan kelestarian lingkungan melalui pendekatan transisi energiterbarukan yang bertanggung jawab.
Keberhasilan agenda besar ini membutuhkan sinergi kokoh dari seluruh pemangkukepentingan. Sebagai tindak lanjut deklarasi, para pihak segera mempercepatpelaksanaan studi kelayakan, perencanaan proyek, dan finalisasi skemapembiayaan. Pemerintah optimistis bahwa integrasi antara pasokan bahan baku, sistem logistik, dan pelibatan masyarakat agrikultur lokal akan memaksimalkan nilaiekonomi wilayah tersebut.
Hilirisasi Tahap II menjadi bukti nyata bahwa pembangunan ekonomi Indonesia diarahkan pada penciptaan nilai tambah. Kolaborasi terintegrasi pada proyekbioetanol di Lampung menunjukkan keseriusan pemerintah dalam membangunekonomi yang tidak hanya tumbuh, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan memperkuat ketahanan nasional menuju Indonesia yang lebih maju.
*) Pengamat Isu Strategis

