Ekonomi RI Tetap Tumbuh, Pemerintah Waspadai Inflasi dan Tekanan Eksternal

Baca Juga

Mata Indonesia, Jakarta – Pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Langkah tersebut difokuskan pada pengendalian inflasi, menjaga daya beli masyarakat, serta memastikan pertumbuhan ekonomi tetap terpelihara sepanjang 2026.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman, mengatakan tekanan inflasi saat ini masih berada dalam kisaran sasaran. Namun, risiko imported inflation akibat kenaikan harga minyak dan komoditas dunia perlu terus diantisipasi karena berpotensi memengaruhi harga di dalam negeri.

“Faktor risiko inflasi yang menjadi perhatian adalah rambatan kenaikan harga global, yaitu harga minyak dan komoditas ke dalam negeri atau imported inflation,” kata Aida.

Menurutnya, penyesuaian harga energi diperkirakan memberikan tambahan inflasi sekitar 0,25 persen. Meski demikian, Bank Indonesia bersama pemerintah pusat dan pemerintah daerah telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi agar dampaknya terhadap masyarakat maupun perekonomian tetap terkendali.

Aida menegaskan proyeksi inflasi masih berada dalam target 2,5 persen dengan toleransi plus minus satu persen. BI juga terus menjalankan bauran kebijakan moneter secara konsisten, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, serta memperkuat koordinasi kebijakan untuk meredam dampak gejolak ekonomi global.

Selain menjaga stabilitas makroekonomi, BI melanjutkan pelonggaran kebijakan makroprudensial, pemberian insentif likuiditas makroprudensial (KLM), percepatan digitalisasi sistem pembayaran, serta penguatan UMKM dan ekonomi inklusif guna mendorong aktivitas sektor riil.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Pada triwulan I 2026, ekonomi nasional tumbuh 5,61 persen secara tahunan, melampaui berbagai proyeksi lembaga internasional dan berada di atas rata-rata pertumbuhan negara-negara ASEAN.

Airlangga mengatakan pemerintah juga terus menjaga inflasi dan permintaan domestik sekaligus memperluas kerja sama ekonomi melalui proses aksesi ke CPTPP dan OECD. Upaya tersebut diharapkan memperkuat daya saing nasional, meningkatkan investasi, serta menjaga pertumbuhan ekonomi tetap berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi global.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Ekonomi Indonesia Tetap di Jalur Positif

Oleh : Rivka Mayangsari *)Di tengah dinamika ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, dan fluktuasi pasar keuangan, Indonesia terusmenunjukkan ketahanan ekonomi yang kuat. Berbagai indikator makroekonomi memperlihatkanbahwa fundamental perekonomian nasional tetap terjaga, didukung oleh kebijakan pemerintahyang adaptif serta sinergi yang erat dengan otoritas moneter. Kondisi tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia untuk mempertahankan momentum pertumbuhan sekaligus memperkuatoptimisme menuju pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa pemerintahterus menjaga stabilitas dan ketahanan perekonomian nasional melalui berbagai kebijakan yang responsif terhadap perkembangan global. Menurutnya, sejumlah indikator makroekonomimenunjukkan kinerja yang tetap kuat sehingga Indonesia mampu mempertahankan jalurpertumbuhan positif meskipun dunia masih menghadapi berbagai tantangan ekonomi.Salah satu indikator yang menunjukkan ketahanan tersebut adalah pertumbuhan ekonomiIndonesia pada triwulan I tahun 2026 yang mencapai 5,61 persen secara tahunan (year on year). Capaian ini melampaui berbagai proyeksi lembaga internasional dan tetap berada di atas rata-rata pertumbuhan negara-negara ASEAN. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas ekonomidomestik masih berjalan dengan baik serta mampu menjadi penopang utama pertumbuhannasional.Kinerja positif juga tercermin dari neraca perdagangan Indonesia yang kembali mencatatkansurplus sebesar 0,09 miliar dolar Amerika Serikat pada April 2026. Surplus tersebutmenunjukkan bahwa daya saing produk nasional tetap terjaga di tengah perlambatanperdagangan dunia. Stabilitas sektor eksternal ini sekaligus memperkuat ketahanan ekonominasional terhadap berbagai tekanan global.Di sektor industri, aktivitas manufaktur juga masih menunjukkan kondisi yang sehat. Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur S&P...
- Advertisement -

Baca berita yang ini