Oleh: Dhita Karuniawati )*
Pemulihan infrastruktur pascabanjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatra menunjukkan hasil yang semakin nyata. Salah satu indikator paling signifikan adalah kembalinya kelancaran distribusi logistik setelah akses jalan nasional, provinsi, dan kabupaten yang sebelumnya rusak atau terputus kini berhasil dipulihkan.
Kondisi ini menjadi bukti konkret percepatan pembangunan dan respons cepat pemerintah dalam menangani dampak bencana sekaligus menjaga stabilitas ekonomi dan sosial masyarakat. Melalui langkah cepat dan terkoordinasi, pemerintah pusat bersama pemerintah daerah bergerak melakukan pemulihan infrastruktur secara masif.
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), didukung TNI, Polri, dan berbagai pemangku kepentingan, mengerahkan alat berat, material konstruksi, serta tenaga teknis untuk membuka kembali akses jalan yang terdampak. Penanganan darurat dilakukan terlebih dahulu agar jalur logistik dapat kembali difungsikan, diikuti dengan perbaikan permanen untuk menjamin ketahanan infrastruktur ke depan.
Hasil dari upaya tersebut kini mulai dirasakan langsung oleh masyarakat dan pelaku usaha. Arus kendaraan logistik yang sempat tersendat kini kembali normal. Truk pengangkut sembako, hasil pertanian, dan barang kebutuhan lainnya dapat melintas tanpa hambatan berarti. Di sejumlah daerah, waktu tempuh distribusi yang sebelumnya meningkat drastis akibat harus memutar jauh, kini kembali efisien. Hal ini berdampak positif terhadap stabilitas harga barang di pasar dan ketersediaan pasokan di berbagai wilayah.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Abdul Muhari, mengatakan bahwa percepatan pemulihan infrastruktur darat menjadi kunci untuk menurunkan jumlah pengungsi sekaligus memperlancar distribusi bantuan dan logistik ke wilayah terdampak. Pembukaan akses jalan menjadi prioritas krusial karena berpengaruh langsung pada evakuasi, distribusi bantuan, dan pemulihan layanan dasar.
BNPB melaporkan sejumlah ruas jalan yang sebelumnya terputus kini mulai dapat dilalui, termasuk jalur dari Bener Meriah menuju Bireuen. Beberapa jalur alternatif telah dibuka dan dapat dilintasi kendaraan roda dua maupun roda empat. Ada tambahan proses pembukaan akses jalan Bener Meriah–Bireuen. Saat ini, beberapa jalur alternatif sudah mulai dilewati.
Abdul Muhari mengatakan Jalan Nasional dari Tekengon menuju Blangkejeren yang sebelumnya proses pemulihan kini telah berfungsi normal. Lalu seluruh jalur yang menghubungkan Banda Aceh menuju Medan juga telah bisa dilintasi.
Abdul Muhari juga menyampaikan jumlah ruas jalan terdampak pasca bencana terdapat 38 titik. Kini dua ruas Jalan alternatif berada di Bts. Bireuen/Bener Meriah – Bener Meriah/Aceh Tengah (Jalan Alternatif di Jembatan Putus Weihni Enang-Enang dan Jamur Ujung) dan Genting Gerbang – Sp. Uning (Jalan Alternatif di Jembatan Putus Titi Merah).
Sementara itu, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memastikan 12 koridor jalan nasional utama di Sumatera Utara kini sudah bisa dilalui setelah terjadinya bencana banjir dan longsor.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo mengatakan pemulihan jalan nasional menjadi prioritas dalam masa tanggap darurat dan transisi menuju rehabilitasi infrastruktur. Kementerian PU bergerak cepat memastikan jalur-jalur utama kembali fungsional agar aktivitas masyarakat dan distribusi logistik tidak terhambat, dengan tetap mengutamakan aspek keselamatan pengguna jalan. Langkah ini penting untuk memastikan kegiatan ekonomi dan distribusi logistik kembali berjalan normal.
Beberapa koridor jalan nasional yang sudah beroperasi antara lain Tarutung – Sipirok sepanjang 68 km dengan penyempurnaan sementara (detour) untuk keselamatan pengguna. Koridor Sibolga – Batangtoru kini terhubung dengan konstruksi timbunan tanah di atas alur sungai baru dan dapat dilalui kendaraan roda empat, meski akan ditutup sementara saat hujan deras. Batangtoru – Singkuang sudah dapat dilalui, terbatas untuk kendaraan ringan, dengan pekerjaan pemadatan agregat dan perbaikan lanjutan mengingat cuaca masih hujan. Koridor Sidikalang – Singkil – Barus – Sorkam – Sibolga juga sudah bisa digunakan, memastikan konektivitas di wilayah Lintas Barat Sumatera.
Selain ruas di Lintas Barat, beberapa koridor penting lain yang sudah dapat dilalui meliputi: Padang Sidempuan – Panyabungan – Batas Provinsi Sumatera Barat, Padang Sidempuan – Batangtoru, dan Singkuang – Natal – Simpang Gambir – Batas Provinsi Sumatera Barat. Ruas Batas Provinsi Aceh – Simpang Pangkalan Susu – Batas Tanjung Pura – Binjai kini beroperasi normal seiring surutnya genangan banjir.
Jalan tol seperti Medan – Pangkalan Brandan, Medan – Sinaksak, dan Tebing Tinggi – Kisaran juga sudah dapat dilewati dan berfungsi seperti biasa. Hal ini memungkinkan distribusi barang dan mobilitas masyarakat kembali lancar pasca bencana.
Keberhasilan pemulihan akses jalan dan kelancaran distribusi logistik pascabanjir Sumatra menjadi gambaran nyata pentingnya kesiapsiagaan dan sinergi lintas sektor dalam penanganan bencana. Respons cepat, perencanaan yang matang, serta komitmen kuat terhadap pembangunan infrastruktur terbukti mampu meminimalkan dampak bencana terhadap kehidupan masyarakat dan perekonomian.
Pemerintah menegaskan akan terus memperkuat pembangunan infrastruktur yang tangguh dan berkelanjutan sebagai fondasi utama pertumbuhan ekonomi nasional. Pengalaman dari pemulihan pascabanjir di Sumatra menjadi pembelajaran berharga untuk meningkatkan kualitas perencanaan, pembangunan, dan pemeliharaan infrastruktur di seluruh wilayah Indonesia. Dengan infrastruktur yang andal, distribusi logistik dapat tetap terjaga, bahkan di tengah tantangan bencana alam, sehingga kesejahteraan masyarakat dapat terus ditingkatkan secara berkelanjutan.
*) Penulis adalah Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia
