Dirilis Ulang, Basic Instinct Thriller Erotis yang Hingga Kini Belum Terkalahkan

Baca Juga

MATA INDONESIA, LONDON – Basic Instinct merupakan salah satu film thriller erotis yang cukup populer pada dekade 1990-an. Hebatnya, film yang menceritakan  seorang pembunuh berantai dan dektektif polisi itu hingga kini popularitasnya belum terkalahkan. Bahkan, tanggapan kepada film ini sama seperti dulu, masih ramai di sosial media, baik positif maupun negatif.

Saat ini film ini sudah direstorasi dalam resolusi 4.000 piksel yang mewah dan siap diedarkan kembali.  Film yang dibintangi oleh Michael Douglas dan Sharon Stone dikenal ‘berani’ di zamannya. Penampilan Sharon Stone yang membuka celana dalamnya saat diinterogasi oleh polisi menjadi trade mark dan terus menerus dibicarakan hingga kini.

Hal itulah yang membuat Sharon Stone berang ketika tahu filmnya akan diedarkan kembali. Sharon Stone yang populer namanya setelah membintangi film ini mengaku dirinya merasa dieksplotasi secara seksual saat beradegan di film ini.

Ia menyebut bahwa rilisan baru itu sebagai “potongan XXX sutradara”. Meski begitu, pihak Studio Canai, pengedar film ini tetap tidak mengubah, menambah atau mengedit film ini. Restorasi film ini masih berpatokan kepada film yang diedarkan tahun 1992.

Kritikus film Matthew Turner yang juga pembawa acara Attracyions, menilai bahwa Basic Instinct merupakan film terbaik dari 76 tayangan yang pernah ia liput sejauh ini. ”Tanpa Basic Instict, tidak mungkin thriller erotis akan sebesar itu tahun 1990aan dan tidak mungkin kita membicarakanya sekarang,” kata Matthew Turner.

Beberapa adegan dalam film ini yang penuh dengan sensualitas dan kekerasan menjadi pakem film-film erotis di tahun 90 dan 2000. Adegan ranjang antara Michael Douglas dan Sharon Stone banyak ditiru oleh film-film erotis di tahun 90 an. Malah menurut Matthew Turner Basic Instinct menjadi tren film seks sepanjang zaman.

Melihat keberhasilan itu, para produser dan aktor papan atas mulai mencoba untuk membuat film thriller erotis lainnya. Pada tahun 1993, ada Body of Evidence yang dimainkan oleh Madonna, Willem Dafoe dan disutradari oleh Ulie Edel. Kemudian, Color of Night pada tahun 1994 yang dimainkan oleh Bruce Wills dan Jane Marsh, serta Disclosure dengan Douglas dan Demi Moore.

Jurnalis  

Salah satu orang yang berkaitan erat dengan Basic Instinct yaitu Joe Eszterhas. Sebelum menulis cerita Basic Instinct,  ia telah menulis sebuah film thriller erotis, Jagged Edge (1985). Eszterhas merupakan jurnalis dan penulis skenario yang sangat terkenal.

Eszterhas terkenal karena beberapa skenario yang dijual sempat memecahkan rekor pembayaran dan membuat dirinya kaya raya. Saat membuat skenario Basic Instinct ia sedang berfikir membuat cerita soal seorang pria yang dimanipulasi oleh perempuan omiseksual yang jahat.

Ia membuat skenario Basic Instinct dengan cepat dan dibeli pada tahun 1990 oleh studio Carolco, seharga USD 4 juta (setara dengan Rp 56 miliar). Ia mengatakan bahwa sebelumnya judul film itu bukan Basic Instinct, melainkan Love Hurts. Namun karena kurang menarik, akhirnya ia mengubah judul tersebut. Merujuk pada pembuatan Basic Instinct, Joe Eszterhas memilih Milos Forman sebagai sutradara film tersebut. Sayangnya, Carloco tidak menyetujui hal itu dan lebih memilih sutradara asal Belanda, Paul Verhoeven.

Dan benar saja, Paul Verhoeven berhasil memberikan hiburan pada film Basic Instinct. Bahkan, para penonton merasa takjub dan bingung saat menyaksikan film ini. Meski begitu, ada satu kasus dimana Paul Verhoeven dinilai terlalu fokus terhadap pembuatan adegan seksual. Hal itu dikatakan langsung oleh Joe Eszterhas. ”Kita tidak bisa melihat semuanya dengan jelas. Saya ingin adegan itu menggambarkan bayangan dan sudut kamera yang artistik, bukan tentang kulit, dan tentu saja bukan tentang adegan telanjang yang sangat frontal,” kata Joe Eszterhas.

Ia juga menambahkan bahwa dirinya sempat mengeluhkan niat Paul Verhoeven yang menjadikan Basic Instinct sebagai film thriller penuh seksualitas. Dan ketika adegan panas itu pecah dan tidak terkendali, begitu pula dengan kekerasannya. Bagian itu mencapai puncaknya ketika adegan ranjang antara Stone dan Douglas yang berlangsung sangat lama, membuat Basic Instinct terlihat seperti film porno.

Selain adegan seks dan kekerasan yang dinilai sangat menggelikan, cerita film ini dinilai terlalu sensasional dan berbelit belit. Para penonton tidak diberitahu siapa pembunuhnya, melainkan hanya diberi tahu bahwa korbannya adalah seorang pensiunan bintang rock dan pacarnya Catherine Tramell. Kemudian, Douglas yang berperan sebagai detektif polisi tidak bisa melawan godaan para pelaku. Dapat dipastikan, sejak awal penonton tahu bahwa Sharon Stone lah pembunuhnya.

Bahkan plot itu dinilai tidak masuk akal dibandingkan dengan adegan yang ada di Film Fatal Attraction dan Sea of Love yang juga sama-sama mengeksplotasi seks.  Akan tetapi, Joe Eszterhas mampu memberi kejutan baru disetiap lima menit film tersebut berjalan, dimana ia menceritakan soal latar belakang setiap karakternya. Dalam Basic Instinct, polisinya merupakan seorang pecandu alkohol yang pernah menembak beberapa turis.

Kemudian, saat menggambarkan karakter Catherine (Sharon Stone), ia juga sempat membuat karakter yang membingungkan. Dari cerita yang ia tulis, suami pertama Catherine merupakan seorang petinju yang tewas akibat menerima beberapa pukuluan di atas ring. Karena tertekan Catherine sering berkonsultasi dengan psikolog yang kebetulan bekerja di Depatemen Kepolisian.

Lebih dalam lagi tentang karakter Cahterine, ia dikenal sebagai wanita lajang yang sangat kaya. Akan tetapi dirinya lebih tertarik terhadap seks daripada cinta. Ia membunuh orang hanya untuk mengetes apakah dia bisa lolos dari jeratan dia begitu saja. Meski begitu, sosoknya juga punya sisi positif yang dapat menginspirasi orang banyak. Hal itu dikatakan langsung oleh Anna Smith, kritikus film dan pembawa acara podcast Girls on Film. ”Dia adalah karakter perempuan utama yang memiliki karier cukup sukses, dapat memegang kendali, dan lebih pintar dari laki laki sekitarnya,” kata Anna Smith.

Sebaliknya Paul Verhoeven menyebut karakter Catherine sebagai iblis dan setan.

Sharon Stone

Adegan Sharon Stone saat diinterogasi polisi dalam Film Basic Instinct ini menjadi trade mark.
Adegan Sharon Stone saat diinterogasi polisi dalam Film Basic Instinct ini menjadi trade mark.

Dalam memoarnya yang baru baru ini diterbitkan dengan judul The Beauty of Living Twice, Sharon Stone mengulangi tuduhannya bahwa Paul Verhoeven telah meyakinkannya selama pembuatan film tersebut bahwa adegan seks di film ini tidak vulgar tetapi lebih ke seni. Paul menurut Sharon Stone meyakinkan dirinya bahwa karakter yang akan dimainkannya itu hanyalah karakter seorang perempuan yang ingin melepaskan diri dari gangguan para lelaki.

Pada tahun 2006, Sharon Stone kembali berperan di Basic Instinct 2 tanpa kehadiran Verhoeven dan Joe Esztherhas.

Trailer Film Basic Instinct

Reporter : R Al Redho Radja S

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Solusi Nyata untuk Desa

Oleh : Dian Amanda SasmitaKehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi angin segar bagi pembangunanekonomi desa di Indonesia. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi masyarakatpedesaan, mulai dari keterbatasan akses modal hingga minimnya jaringanpemasaran, koperasi hadir sebagai solusi yang berbasis kebersamaan. Konsep initidak hanya menekankan pada keuntungan semata, tetapi juga pada nilai gotong royong yang telah lama menjadi ciri khas kehidupan masyarakat desa. Denganpendekatan yang inklusif, koperasi mampu menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini kurang tersentuh oleh sistem ekonomi formal.Koperasi Desa Merah Putih menawarkan model ekonomi yang lebih adil danberkelanjutan. Dalam praktiknya, koperasi ini mengedepankan partisipasi aktifanggota sebagai pemilik sekaligus pengguna layanan. Hal ini membuat setiapkeputusan yang diambil lebih mencerminkan kebutuhan nyata masyarakat. Berbedadengan sistem ekonomi konvensional yang cenderung terpusat, koperasi memberikanruang bagi masyarakat desa untuk menentukan arah pembangunan ekonomi merekasendiri. Dengan demikian, desa tidak lagi menjadi objek pembangunan, melainkansubjek yang berdaya.Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto menjelaskansalah satu permasalahan utama di desa adalah keterbatasan akses terhadappermodalan. Banyak pelaku usaha kecil yang kesulitan mengembangkan usahanyakarena terbentur oleh persyaratan perbankan yang rumit. Koperasi Desa Merah Putihdapat menjadi solusi karena skema pembiayaan yang lebih sederhana dan ramahbagi masyarakat. Melalui sistem simpan pinjam yang transparan, anggota koperasidapat memperoleh modal usaha tanpa harus menghadapi beban bunga yang tinggi. Ini membuka peluang bagi berkembangnya usaha mikro dan kecil di desa.Selain permodalan, koperasi juga berperan penting dalam memperkuat jaringanpemasaran produk desa. Banyak produk unggulan desa yang sebenarnya memilikikualitas baik, namun kurang dikenal karena keterbatasan akses pasar. Koperasi DesaMerah Putih dapat menjadi jembatan yang menghubungkan produk-produk tersebutdengan pasar yang lebih luas. Dengan memanfaatkan teknologi digital dan kerjasama antar koperasi, distribusi produk desa dapat dilakukan secara lebih efektif danefisien.Kehadiran koperasi juga berdampak pada peningkatan kapasitas sumber dayamanusia di desa. Melalui berbagai pelatihan dan pendampingan, anggota koperasidapat meningkatkan keterampilan mereka dalam mengelola usaha. Tidak hanya itu, koperasi juga mendorong munculnya jiwa kewirausahaan di kalangan masyarakatdesa, terutama generasi muda. Hal ini penting untuk mencegah urbanisasi yang berlebihan, karena desa mampu menyediakan peluang ekonomi yang men janjikan.Menteri Koperasi, Ferry Julianton menjelaskan Koperasi Desa Merah Putih jugamemiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan ekonomi desa. Dalam situasikrisis, seperti pandemi atau gejolak ekonomi global, koperasi terbukti lebih tangguhkarena berbasis pada solidaritas anggota. Sistem yang saling mendukung membuatkoperasi mampu bertahan dan bahkan membantu anggotanya melewati masa sulit. Inimenunjukkan bahwa koperasi bukan hanya solusi jangka pendek, tetapi juga fondasiekonomi yang kokoh untuk jangka panjang.Di berbagai daerah, mulai terlihat dampak positif dari kehadiran Koperasi Desa MerahPutih. Masyarakat desa mulai merasakan peningkatan pendapatan, terbuka nyalapangan kerja baru, serta tumbuhnya kepercayaan diri dalam mengelola potensilokal. Produk-produk desa yang sebelumnya kurang dikenal kini mulai menembuspasar yang lebih luas. Hal ini menunjukkan bahwa koperasi mampu menjadikatalisator perubahan ekonomi yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat desa.Dukungan terhadap Koperasi Desa Merah Putih juga terus menguat dari berbagaipihak, baik pemerintah, dunia usaha, maupun masyarakat itu sendiri. Program pendampingan, kemudahan regulasi, serta akses terhadap teknologi menjadi faktorpenting dalam mempercepat perkembangan koperasi di desa. Partisipasi aktifmasyarakat sebagai anggota juga menjadi kunci keberhasilan, karena koperasi padadasarnya adalah milik bersama yang harus dijaga dan dikembangkan secara kolektif.Dari perspektif akademis, pengamat sosial dari Universitas Syiah Kuala Banda Aceh Firdaus Mirza menjelaskan optimalisasi peran Koperasi Desa Merah Putihmemerlukan penguatan kolaborasi lintas sektor yang lebih terarah dan berkelanjutan. Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, pelaku usaha, akademisi, sertakomunitas lokal perlu difokuskan pada inovasi model bisnis, digitalisasi layanankoperasi, serta peningkatan daya saing produk desa. Dengan langkah tersebut, koperasi tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu bertransformasi menjadi kekuatanekonomi baru yang adaptif terhadap perubahan zaman.Pada akhirnya, Koperasi Desa Merah Putih bukan sekadar lembaga ekonomi, tetapijuga gerakan sosial yang membawa harapan bagi desa. Dengan mengedepankannilai kebersamaan, keadilan, dan kemandirian, koperasi mampu menjadi solusi nyatabagi berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat desa. Jika dikelola denganbaik dan didukung secara berkelanjutan, koperasi ini dapat menjadi motor penggerakyang mempercepat terwujudnya desa yang maju, mandiri, dan sejahtera.)* Penulis Merupakan Pengamat Ekonomi
- Advertisement -

Baca berita yang ini