Di Zaman Kolonial, Belanda Suka Seenaknya Ganti Nama Budak

Baca Juga

MATA INDONESIA, AMSTERDARM – Negara-negara penjajah seperti Belanda memang suka seenaknya memperlakukan warga yang dijajahnya.

Dalam kurun waktu 3 abad, Belanda telah mengirimkan lebih dari setengah juta orang Afrika menyeberangi samudra untuk bekerja di perkebunan. Budak-budak itu diperlakukan dengan kejam hingga nama mereka pun diganti seenaknya.

Barulah saat Prancis menjajah Belanda tahun 1830, praktik perbudakan pun dihapuskan. Para pemilik budak tidak rela penghapusan ini. Sehingga mereka mengganti nama budak yang bebas dengan nama palsu. Nama-namanya tetap mengacu pada pemilik budak, perkebunan, atau nama kota-kota di Belanda. Misalnya Madertsma, yang merupakan ejaan terbalik dari Amsterdam.

Linda Nooitmeer, Kepala Institut Nasional untuk Sejarah Belanda mengatakan perlakuan ini sebagai tanda bahwa warga Belanda ingin mengikat para budaknya saat penghapusan perbudakan. Ia menilai masih banyak warga Belanda yang merasa warga Belanda keturunan Afrika adalah budak dan tidak setara dengan mereka.

Belum lama ini, Dewan Kota Utrech memberikan kelonggaran kepada warga Belanda keturunan Afrika untuk menghapus dan mengganti nama mereka. Dewan Kota menghapus 835 Gulden atau sekitar Rp 14 Juta, biaya pergantian nama yang biasanya menjadi syarat pergantian nama warga Belanda. Tak hanya itu, birokrasi soal penghapusan nama pun menjadi lebih mudah sehingga tidak menyulitkan warganya.

Perubahan nama di Belanda, berdasarkan peraturan yang berlaku dari zaman dulu dan ada biayanya. Apalagi bila pemilik nama berasal dari warisan kolonial Belanda, pemilik nama harus mengocek biaya lebih mahal untuk menjalani tes kejiwaan.

Penghapusan biaya dengan persyaratan kelengkapan dokumen ini menggiurkan banyak orang. Pada tahun 2020 sudah hampir 3000 orang yang mengubah nama keluarga mereka. Nama keluarga ini mereka temukan dengan cara mencari asal-usul Afrika mereka, agar mereka dapat menemukan nama yang lebih mencerminkan jati diri mereka.

Salah satunya adalah Yaw, yang melakukan kunjungan ke Ghana untuk mencari nama yang sesuai. Ia mengubah nama sekarang yaitu Guno Mac Intosch. ”Begitu pintu terbuka saya berada di antrean paling depan, ” ujarnya sambil menunjuk ke arah Balai Kota.

Warga Belanda keturunan Afrika, Guno Mac Intosch menyambut baik kesempatan mengubah namanya secara resmi menjadi Yaw.
Warga Belanda keturunan Afrika, Guno Mac Intosch menyambut baik kesempatan mengubah namanya secara resmi menjadi Yaw.

Linda Nooitmer mengatakan, nama mereka adalah bagian integral dari identitas. Ia menjelaskan, mungkin nama yang mereka ubah tidak sama dengan leluhur mereka, tetapi nama itu mencerminkan semangat Arfika.

Salah satu contoh lainnya adalah Valika Smuelders. Warga keturunan Afrika ini sekarang menjadi Kepala Bagian Sejarah Museum Nasional Belanda. Ia baru saja menjadi kurator Pameran Perbudakan Rijksmuseum, di Amsterdam.

Smuelders adalah orang berdarah campuran dan keturunan dari budak. Namanya sarat dengan masa kolonial namun mengandung unsur Belanda, Skotlandia, dan Portugis. Ia beranggapan bahwa mengubah nama belakang adalah suatu hal yang rumit dan pilihan pribadi.

Masalahnya di Belanda, nama yang terdengar asing beresiko menimbulkan diskriminasi dalam bidang pendidikan, perumahan, atau lapangan kerja. Hal itulah yang menyebabkan beberapa orang yang memiliki nama  enggan untuk mengubahnya.

Isu sosial seperti rasisme juga masih banyak terjadi. ”Anda bukan orang Afrika hanya karena kulit Anda hitam. Jika Anda berpikir sebagai orang Afrika, pulanglah.” Kata-kata tersebut secara lantang terucap oleh seorang anak laki-laki kepadanya ketika sedang berada di luar balai kota Utrech.

Meskipun cukup terkejut, tetapi Yaw menanggapi peristiwa itu dengan tenang. ”Orang Belanda mengaku sebagai orang yang bebas dan negaranya bebas. Tapi ternyata kita mengalami hal-hal ini, sikap ini, ” kata Yaw.

Reporter: Sheila Permatasari 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

MBG sebagai Pilar Strategis Mewujudkan Generasi Emas Indonesia

Oleh: Dewi Puteri Lestari* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan langkah visioner yang menegaskan keberpihakan negara terhadap masa depan generasi muda. Kebijakan ini tidak dapat dipandang secarasempit sebagai program distribusi makanan semata, melainkan sebagai strategi besar pembangunan sumber daya manusia yang dirancang secara sistematis, terukur, dan berorientasi jangka panjang. Dalam konteks persaingan global yang semakin kompetitif, kualitas manusia menjadi faktor penentu daya saing bangsa. Karena itu, intervensi negara pada aspek gizi anak sekolah merupakan keputusanstrategis yang mencerminkan kepemimpinan yang berpandangan jauh ke depan. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa MBG tidak mengurangiprogram maupun anggaran pendidikan. Anggaran pendidikan tetap berada pada porsi 20 persen APBN dengan nilai Rp 769,1 triliun, sesuai amanat konstitusi. Seluruh program pendidikan tetap berjalan sebagaimana mestinya dan bahkanmengalami penguatan. Penegasan ini menunjukkan bahwa pemerintah bekerjadengan perencanaan fiskal yang matang, berbasis data, serta melalui koordinasiintensif dengan DPR. Dengan fondasi anggaran yang kokoh dan legitimasi politikyang kuat, MBG hadir sebagai penguat ekosistem pendidikan nasional. Dukungan parlemen terhadap MBG juga memperlihatkan kesadaran kolektif bahwainvestasi pada generasi muda harus ditempatkan sebagai prioritas utama. KetuaBadan Anggaran DPR RI...
- Advertisement -

Baca berita yang ini