Awalnya Tertarik Nonton di Youtube, Seorang Anak 13 Tahun Berhasil Menemukan Asteroid

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Orbita CL 130 merupakan organisasi yang fokus mendampingi anak-anak Venezuela yang memiliki bakat luar biasa. Miguel Rojas merupakan salah satunya. Pencapaiannya tidak main-main. Bocah berusia 13 tahun ini berhasil menemukan Asteroid.

Apa sih Asteroid?

Asteroid menurut NASA adalah benda serupa batu tanpa udara yang tersisa dari pembentukan awal tata surya sekitar 4,6 miliar tahun lalu. Ukurannya bermacam-macam. Ada yang sampai 530 Kilometer tapi ada juga yang hanya 10 meter. Asteroid tidak sama dengan komet. Asteroid biasanya berupa bebatuan, tanah liat, atau logam. Sedangkan komet terbuat dari es dan debu.

Sejauh ini NASA belum mendapatkan informasi mengenai Asteroid yang berpeluang menabrak bumi. Namun hal itu mungkin terjadi seiring berjalannya waktu. Ketika hal tersebut terjadi dan fragmennya mencapai permukaan atmosfer, maka namanya sudah bukan Asteroid melainkan meteor.

Pada April 2021 Miguel berhasil menemukan Asteroid baru yang diberi nama “2021GG40”. Penemuan ini memakan waktu berbulan-bulan dan perlu persetujuan dari berbagai pihak untuk mendapatkan pengakuan bahwa itu adalah obyek baru. Miguel memulai pencarian sejak tahun 2020.

Bagaimana seorang anak bisa menemukan Asteroid?

Awalnya NASA melakukan kampanye pencarian benda asing di angkasa. NASA bekerjasama dengan Teleskop Pan-STARSS yang terletak di Haleakala Observatory, Hawaii, Amerika mencoba mendeteksi asteroid baru dan obyek lain di dekat bumi.

NASA akan memberikan gambar-gambar hasil rekaman Teleskop Pan-STARSS.  International Astronomical Search Collaboration (IASC), sebuah organisasi astronom kemudian membagikannya ke berbagai organisasi yang ikut dalam mengkampanyekan pencarian asteroid. Salah satunya Orbital CL 130 yang menaungi Miguel.

Anak berusia 13 tahun ini kemudian menganalisa gambar-gambar tersebut dengan perangkat lunak khusus. Selanjutnya, Miguel menulis laporan mengenai obyek yang sudah Ia amati termasuk obyek (asteroid) baru. Laporan tersebut kemudian ditinjau oleh Astronom Profesional.

Obyek tersebut akan disebut sebagai “Penemuan Awal” jika memang terbukti kalau objek yang ditemukan tergolong baru. Tidak berhenti sampai disitu, “Penemuan Awal” ini akan kembali dikirimkan ke peneliti lainnya untuk diamati melalui teleskop.

Setelah melewati semua tahap dan sudah mendapat persetujuan berbagai pihak, status “Penemuan Awal” akan berganti menjadi “Penemuan Sementara”. Pada Desember 2021, Miguel menerima sertifikat atas penemuannya. IASC, NASA, dan juga Institut Astronomi Universitas Hawaii menandatangani sertifikat tersebut.

Miguel Rojas memiliki ketertarikan yang luar biasa pada Astronomi. Menurut Ibunya, Mary Ramos, ketertarikan Miguel pada astronomi berawal dari video Youtube. Miguel yang saat itu masih berusia lima atau enam tahun tiba-tiba tertarik dengan buku karya Stephen Hawking yang berjudul “Atlas of Space”.

Tentu tidak mudah untuk mendapatkan buku tersebut di Venezuela. Sehingga orangtuanya memesan buku tersebut dari luar negeri. Buku itulah yang semakin menimbulkan ketertarikan lebih jauh Miguel terhadap Astronomi dan Sains.

Umumnya bocah seusia Miguel lebih tertarik untuk membaca buku-buku fiksi seperti Harry Potter. Tapi Bagi Miguel, buku-buku yang membahas tentang mengapa waktu melengkung? Apa itu lubang cacing? Apakah perjalanan lintas waktu memungkinkan? Lebih menarik.

Buku-buku yang bahkan orang dewasa kalau membaca belum tentu mengerti. Ramos bahkan pernah mendapat penjelasan oleh Miguel tentang apapun yang ada di buku. Alih-alih mengerti, Ramos sama sekali tidak memahami apa yang anaknya jelaskan.

Miguel memiliki mimpi untuk bekerja di NASA sebagai astronom dan berkontribusi pada dunia. Beruntungnya orang tuanya menemukan organisasi Orbital CL 130. Organisasi yang mampu membantu dalam melancarkan Miguel menggapai cita-citanya.

Miguel yang belum cukup umur bergabung dengan Orbital CL 130 sebagai peserta. Gerardo Garcia, Presiden dari Foundation for Peace yang membawahi Orbital CL 130 mengatakan tidak hanya anak yang berbakat di bidang astronomi. Melainkan juga di bidang lain seperti matematika, robotika, geometri, fisika, biologi, dan bahasa.

David Oviedo, merupakan mentor Miguel dan pemuda asal Venezuela yang pernah menemukan asteroid juga pada tahun 2012. Pemuda inilah yang mengkampanyekan pencarian asteroid melalui organisasi Orbital CL 130 yang bekerja sama dengan Larense Astronomy Association.

Reporter: Desmonth Redemptus Flores So

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Sekolah Rakyat, Ruang Perubahan Generasi

Oleh: Jaya Abdi Keningar *) Sekolah Rakyat tidak lahir sebagai proyek pendidikan biasa. Ia hadir sebagai jawaban ataspersoalan yang selama puluhan tahun menjadi simpul ketimpangan pembangunan manusiaIndonesia: kemiskinan ekstrem yang diwariskan lintas generasi melalui keterbatasan aksespendidikan bermutu. Dalam konteks ini, Sekolah Rakyat bukan sekadar institusi belajar, melainkan ruang perubahan, tempat negara secara sadar mencoba memutus rantaiketertinggalan dari hulunya. Berbeda dengan sekolah formal pada umumnya, Sekolah Rakyat dirancang denganpendekatan yang menyentuh akar persoalan sosial. Pendekatan ini menjelaskan mengapaleading sector program ini berada di Kementerian Sosial, bukan semata di kementerianpendidikan. Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menilai desain tersebut sebagaipilihan kebijakan yang logis karena sasaran utama Sekolah Rakyat adalah kelompok desilsatu dan dua, masyarakat miskin ekstrem yang selama ini tertinggal dari sistem pendidikanreguler. Menurutnya, orientasi ini menegaskan bahwa pendidikan diposisikan sebagaiinstrumen mobilitas sosial, bukan hanya pemenuhan administratif. Dalam perspektif pendidikan, kebijakan ini mencerminkan pergeseran paradigma negara. Pendidikan tidak lagi dipahami semata sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi sebagaistrategi intervensi struktural untuk memperbaiki kualitas hidup. Presiden Prabowo Subianto, dalam berbagai kesempatan, menekankan bahwa tujuan pembangunan bukanlah mengejarstatus negara berpendapatan tinggi, melainkan memastikan rakyat hidup layak, makan cukup, sehat, dan anak-anak memperoleh pendidikan yang baik. Penempatan Sekolah Rakyat dalamkerangka besar Asta Cita menunjukkan bahwa pendidikan ditempatkan sejajar denganswasembada pangan dan energi sebagai fondasi kedaulatan bangsa. Namun, tantangan terbesar Sekolah Rakyat justru terletak pada kualitas proses belajar itusendiri. Banyak anak yang masuk ke Sekolah Rakyat membawa beban ketertinggalan literasiyang serius. Dalam dialog publik bertema “Menjaga Literasi Sekolah Rakyat” di TVRI,Kepala Perpustakaan Nasional, E. Aminudin Aziz menegaskan bahwa literasi tidak bolehdipersempit hanya pada kemampuan membaca teks, melainkan kemampuan mengolahinformasi secara kritis untuk meningkatkan kualitas hidup. Pandangan ini menegaskan bahwaliterasi adalah inti dari transformasi, bukan pelengkap kebijakan. Di sinilah perpustakaan Sekolah Rakyat mengambil peran strategis. Perpustakaan tidak lagidiposisikan sebagai ruang sunyi penyimpanan buku, tetapi sebagai ruang aman bagi anak-anak untuk belajar tanpa stigma. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa ketikaperpustakaan dikelola secara aktif, dengan kegiatan membaca bersama, diskusi buku, dan kelas menulis, anak-anak yang semula pasif mulai berani menyampaikan pendapat. Perubahan ini mungkin tidak langsung terlihat dalam angka, tetapi sangat menentukan arahmasa depan mereka. Pendekatan hibrida yang menggabungkan buku cetak dan teknologi digital juga menjadikunci adaptasi Sekolah Rakyat dengan realitas zaman....
- Advertisement -

Baca berita yang ini