Ini Daftar Kesadisan John Kei yang Sudah Terkenal

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Nama John Kei tiba-tiba muncul lagi setelah, Minggu 21 Juni 2020 malam setelah polisi menangkap dia beserta anak buahnya akibat penyerangan dan perusakan di Jakarta dan Tangerang, siang harinya. Peristiwa yang sebelumnya marak di media sosial dilakukan dengan gaya khas John Kei yaitu sadis dan bengis.

Lahir dengan nama John Refra di Tutrean, Pulau Kei, Maluku Utara 51 tahun lalu itu sejak remaja sangat dekat dengan kehidupan jalanan yang keras dan sadis. Di usia 15 tahun John sudah terbiasa hidup di kolong jembatan saat merantau di Surabaya pada 1986.

Dia berjuang sendirian untuk hidup hingga setahun kemudian merantau ke Jakarta dan memperkenalkan diri sebagai John Kei. Lagi-lagi pilihan hidupnya adalah lingkungan kekerasan yaitu Berlan dan kesadisan serta kebengisannya dimulai dan mengantarnya menjadi Godfather dunia kejahatan Jakarta;

Masuk penjara pertama kali karena pembunuhan sadis

Dilakukannya di tempat dia bekerja pada 12 Mei 1992. Saat itu lima hingga enam orang ribut di tempat kerjanya dan John berusaha melerai.

Ketika sedang melerai dia sempat terkena pukul dari kelompok yang berkelahi. Pukulan itu membuatnya ikut terlibat dalam perkelahian itu sampai polisi datang menyelesaikan masalah.

Tetapi John menganggapnya belum selesai, maka dia pulang ke tempat tinggal mengambil golok. John mengaku tidak berniat membunuh pemukulnya. “Niat saya mau kasih putus saja tangannya,” begitu John beralasan.

Ternyata saat dia mengayunkan parangnya justru mengenai leher musuhnya dan lawan itu langsung mati di tempat. Sementara kawan-kawan perusuh dia kejar dan dipotong kakinya.

John buron satu minggu, hingga 24 Mei 1992 dia menyerahkan diri ke Polda Metro Jaya, itu lah pertama kali masuk penjara.

Membunuh Anak Buah Basri Sangaji
Bentrokan antara kelompok Basri Sangaji dan John Kei di Diskotek Stadium di kawasan Taman Sari, Jakarta Barat terjadi 2 Maret 2004. Saat itu kelompok Basri menjaga diskotek dan diserang puluhan orang Kei. Dua penjaga keamanan dari kelompok Basri tewas.

Membunuh Basri Sangaji
Basri Sangaji tewas diserang sepuluh preman dari kelompok John Kei di kamar 301 Hotel Kebayoran Inn, Jakarta Selatan 12 Oktober 2004.

Tebas-tebasan parang di Jalan Ampera
Ratusan orang bersenjata parang, panah, pedang, dan celurit berhadapan di Jalan Ampera, Jakarta Selatan 1 Maret 2005, di Jalan Ampera depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan ketika sidang pembunuhan Basri Sangaji. Sejumlah korban dari kedua kelompok terluka dan sidang dihentikan.

Berkelahi di Pengadilan
Keributan antara kelompok Basri Sangaji dan John Kei saat sidang kasus pemukulan di Diskotek Stadium, Jakarta Barat 8 Juni 2005. Kakak kandung John Kei, Walterus Refra Kei alias Semmy Kei, terbunuh di lahan parkir Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Tindakan ini merupakan balas dendam atas pembunuhan Basri Sangaji dan bentrokan di Diskotek Stadium.

Putuskan jari lawan
John Kei, pemuda Ambon, ditangkap Densus Antiteror 88 Kepolisian Daerah Maluku di Desa Ohoijang, Kota Tual, 11 Agustus 2008. Dia diduga kuat terlibat penganiayaan terhadap dua warga Tual, Charles Refra dan Remi Refra, yang menyebabkan jari kedua pemuda itu putus.

Bentrok di Blowfish tewaskan dua orang
Bentrokan di klub Blowfish, Wisma Mulia, Jakarta, 4 April 2010 menewaskan dua orang dari kelompok Kei, M. Sholeh dan Yoppie Ingrat Tubun. Klub Blowfish saat itu dijaga kelompok Flores Ende pimpinan Thalib Makarim.

Pengeroyokan sengketa warisan
Koordinator keamanan Koperasi Bosar Jaya, Logo Vallenberg, dikeroyok kelompok Umar Kei. Penyebabnya sengketa warisan antarkeluarga pemilik koperasi, 12 April 2010.

Bentrokan di Jalan Ampera Lagi
Bentrokan itu melawan Kelompok Flores atau Thalib Makarim ketika sidang kasus Blowfish sedang berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan 29 September 2010. Di Kelompok Kei jatuh korban tewas yaitu Frederik Philo Let Let berusia 29 tahun, Agustinus Tomas 49 tahun, dan seorang sopir Kopaja, Syaifudin, berusia 48 tahun.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Mendukung Instensifikasi Respons Dini Menekan Dampak PHK terhadap Masyarakat

*) Oleh : Prinsa AlisaDinamika perekonomian global yang masih diwarnai ketidakpastian memberikantantangan tersendiri bagi dunia usaha dan sektor ketenagakerjaan di Indonesia. Dalam situasi tersebut, pemerintah terus menunjukkan komitmennya untuk melindungimasyarakat melalui berbagai langkah strategis guna mengantisipasi dan meminimalkan dampak pemutusan hubungan kerja (PHK). Upaya intensifikasirespons dini yang dilakukan pemerintah patut mendapatkan dukungan dari seluruhelemen masyarakat karena menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas ekonominasional sekaligus melindungi kesejahteraan para pekerja dan keluarganya.Langkah respons dini yang diperkuat pemerintah menunjukkan adanya kesadaranbahwa potensi PHK harus diantisipasi sebelum berkembang menjadi permasalahansosial dan ekonomi yang lebih besar. Melalui pemantauan kondisi industri secaraberkelanjutan, penguatan koordinasi lintas kementerian dan lembaga, sertakomunikasi yang lebih intensif dengan pelaku usaha, pemerintah berupayamendeteksi berbagai potensi risiko sejak awal. Pendekatan ini menjadi penting karenapenanganan yang cepat dan tepat dapat mengurangi dampak yang dirasakan oleh pekerja maupun sektor usaha.Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Dirjen PHI dan Jamsos) Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia (KemnakerRI), Indah Anggoro Putri menjelaskan pemerintah terus mendorong berbagaikebijakan yang bertujuan menjaga keberlangsungan dunia usaha agar tetap mampumempertahankan tenaga kerjanya. Berbagai insentif, kemudahan berusaha, hinggaupaya menjaga iklim investasi terus dilakukan untuk menciptakan ruang tumbuh bagisektor industri. Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya fokuspada penanganan dampak setelah PHK terjadi, tetapi juga berupaya mencegahterjadinya PHK melalui penguatan daya tahan ekonomi dan dunia usaha.Selain itu, pengembangan program peningkatan keterampilan dan pelatihan kerjamenjadi salah satu bentuk nyata respons pemerintah dalam menghadapi perubahankebutuhan pasar tenaga kerja. Transformasi ekonomi dan perkembangan teknologimenuntut tenaga kerja memiliki kompetensi yang semakin adaptif. Melalui berbagaiprogram pelatihan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pemerintahberupaya memastikan bahwa pekerja Indonesia tetap memiliki daya saing dan peluang kerja yang luas di tengah perubahan ekonomi yang berlangsung cepat.Dukungan terhadap respons dini pemerintah juga penting karena dampak PHK tidakhanya dirasakan oleh individu yang kehilangan pekerjaan, tetapi juga memengaruhikondisi ekonomi keluarga dan masyarakat sekitar. Ketika lapangan kerja dapatdipertahankan dan risiko PHK dapat ditekan, daya beli masyarakat akan tetap terjaga. Stabilitas konsumsi rumah tangga pada akhirnya akan mendukung pertumbuhanekonomi nasional yang lebih kuat dan berkelanjutan. Oleh karena itu, keberhasilanlangkah pemerintah dalam melakukan mitigasi risiko ketenagakerjaan akanmemberikan manfaat yang luas bagi masyarakat.Pakar demografi dan ketenagakerjaan terkemuka dari Universitas Gadjah Mada(UGM), Tadjuddin Noer Effendi menjelaskan di tingkat daerah, penguatan respons dinidapat membantu pemerintah daerah dan pelaku usaha mengambil langkah antisipatifyang lebih efektif. Informasi yang diperoleh lebih cepat memungkinkan berbagai pihakmenyiapkan solusi sebelum terjadi gejolak ketenagakerjaan yang lebih besar. Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam memastikan setiap kebijakan dapat berjalansecara optimal dan tepat sasaran.Dukungan terhadap langkah pemerintah juga perlu diwujudkan melalui partisipasi aktifberbagai pemangku kepentingan....
- Advertisement -

Baca berita yang ini