Kampus di India Buka Kelas untuk Pasien ‘Kesurupan’, Berminat?

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA-Fenomena psikosomatik, dimana seseorang yang pernah melihat dan dirasuki hantu banyak terjadi di dunia. Nah, Salah satu universitas bergengsi di India menawarkan kursus untuk para dokter mempelajari hal yang biasa disebut dengan ‘kesurupan’ itu.

Dikutip dari BBC, kursus itu berlangsung selama enam bulan di Banaras Hindu University (BHU), tepatnya di Fakultas Ayurveda sistem pengobatan dan penyembuhan Hindu kuno. Kursus ini akan dimulai pada Januari nanti.

Para pejabat kampus mengatakan kursus akan fokus pada gangguan psikosomatik yang sering dikaitkan dengan kejadian paranormal. Kursus ini pun disebut dengan ‘Bhoot Vidya’ atau Studi Hantu.

“Bhoot Vidya terutama berurusan dengan gangguan psikosomatis, penyakit yang disebabkan oleh alasan yang tidak diketahui dan penyakit pikiran atau kondisi psikis,” kata dekan Fakultas Ayurveda, Yamini Bhushan Tripathi.

Kursus ini didasari dari sebuah penelitian tahun 2016 oleh National Institute of Mental Health and Neuroscience (Nimhans) yang menemukan hampir 14 persen orang India mengalami gangguan mental. Pada 2017, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 20 persen orang India mengalami depresi.

Namun dengan 1,3 miliar penduduk yang kurang sadar akan masalah mental ini, hanya ada kurang dari 4.000 tenaga profesional di India.

Bukan hanya itu, stigma sosial soal kesehatan jiwa pun masih tinggi. Sangat sedikit orang yang mencari bantuan atau perawatan profesional di India. Masyarakat di daerah pedesaan lebih memilih untuk mengunjungi dukun dan berharap dapat menyembuhkan penyakit mental mereka.

Kursus Bhoot Vidya ini mulai dipertanyakan di media sosial orang beberapa orang yang menunjukkan bahwa pengobatan dan rehabilitasi adalah metode yang lebih tepat untuk menangani masalah kesehatan mental.

Berita Terbaru

Hilirisasi untuk Ekonomi yang Lebih Sejahtera

Oleh: Yusuf Rinaldi)* Transformasi ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir semakinmenunjukkan arah yang jelas, yaitu dengan memperkuat nilai tambah sumber dayaalam melalui strategi hilirisasi. Kebijakan ini bukan sekadar agenda industrialisasibiasa, melainkan fondasi penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan.  Dalam konteks ekonomi global yang semakin kompetitif, langkah pemerintahmempercepat hilirisasi menjadi salah satu strategi paling rasional untuk memastikankekayaan alam Indonesia benar-benar memberi manfaat optimal bagi masyarakat. Presiden Prabowo Subianto memerintahkan jajarannya untuk memperkuat peranPerusahaan Mineral Nasional (Perminas) sebagai instrumen negara dalammengelola sumber daya mineral secara lebih terintegrasi. Langkah ini sangat penting mengingat selama bertahun-tahun Indonesia lebihbanyak mengekspor bahan mentah tanpa nilai tambah yang signifikan. Denganpenguatan Perminas, pemerintah ingin memastikan bahwa pengelolaan mineral tidak lagi berhenti pada aktivitas eksplorasi dan penambangan, tetapi dilanjutkanhingga tahap pengolahan industri bernilai tinggi di dalam negeri. Presiden menekankan bahwa penguatan Perminas akan menjadi kunci bagiterciptanya pengelolaan sumber daya mineral yang lebih terpadu. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi mampu berkembangmenjadi pusat produksi dan inovasi industri mineral di tingkat global. Langkah inisemakin relevan jika melihat tren investasi nasional. Data terbaru menunjukkanbahwa sektor hilirisasi menyumbang sekitar Rp584,1 triliun atau 30,2 persen daritotal realisasi investasi nasional pada 2025. Angka tersebut mencerminkan bahwatransformasi ekonomi berbasis nilai tambah mulai memberikan dampak nyata bagipertumbuhan ekonomi. Selain penguatan kelembagaan, pemerintah juga mendorong pembangunaninfrastruktur industri melalui pengembangan kawasan ekonomi khusus (KEK). Pemerintah saat ini tengah menunggu persetujuan Presiden atas pembentukanenam KEK baru yang akan difokuskan pada industri berbasis energi dan manufakturberteknologi tinggi. Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK, Rizal Edwin Manansang, menjelaskan bahwa seluruh kajian teknis telah rampung dan kinimenunggu keputusan presiden. Ia mengatakan pihaknya sedang mengusulkan adaenam KEK baru yang akan diresmikan atau disetujui oleh Presiden. Keenamkawasan tersebut akan tersebar di berbagai wilayah strategis, termasuk Kalimantan, Sulawesi, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Fokus industrinya meliputi pengembangankendaraan listrik, smelter pengolahan mineral strategis seperti nikel, hinggapengembangan energi hijau. Strategi ini tidak hanya memperkuat hilirisasi, tetapijuga menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai daerah. Secara kinerja,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini