TANGERANG SELATAN, Minews — Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) kian serius memutus mata rantai stunting. Tak lagi sekadar fokus pada penanganan balita yang sudah telanjur bergejala, pemkot kini menggeser strategi ke arah hulu dengan memperketat pengawasan kesehatan ibu dan anak sejak masa pra-kehamilan.
Langkah ini diambil demi memastikan setiap calon ibu, ibu hamil, hingga anak di masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) mendapatkan intervensi gizi yang optimal. Fase HPK ini krusial karena menjadi penentu tumbuh kembang anak di masa depan, di mana kekurangan gizi pada periode ini bisa berdampak permanen pada kemampuan kognitif mereka.
Melalui Dinas Kesehatan dan Tim Pendamping Keluarga (TPK), Pemkot Tangsel kini gencar melakukan pemeriksaan berkala bagi ibu hamil, pemberian makanan tambahan, hingga pemantauan ketat di posyandu. Bergerak secara lintas sektor, program ini turut melibatkan kader PKK hingga perangkat kecamatan dan kelurahan demi memastikan bantuan tepat sasaran.
Upaya masif ini mulai membuahkan hasil nyata. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Tangerang Selatan, TB Asep Nurdin, mengungkapkan bahwa berdasarkan data terbaru di tahun 2026, angka prevalensi stunting di wilayahnya mengalami penurunan yang cukup signifikan.
“Berkat kerja keras dan sinergi semua pihak, angka stunting di Tangsel saat ini berhasil ditekan hingga menyentuh 8,2 persen. Capaian ini sudah berada jauh di bawah rata-rata target nasional,” kata Asep saat dihubungi, Minggu 19 Juli 2026.
Meski demikian, Asep menegaskan pihak pemkot tidak mau cepat berpuas diri. Menurutnya, akurasi data di lapangan memegang peranan kunci agar angka tersebut bisa terus ditekan hingga mencapai target zero stunting.
“Kami di Diskominfo memastikan seluruh intervensi ini didukung oleh infrastruktur data yang kuat. Melalui integrasi data yang akurat dari tingkat posyandu hingga tingkat kota, kita bisa memetakan wilayah sebaran secara real-time. Digitalisasi ini mempermudah tim di lapangan untuk bergerak cepat dan memastikan tidak ada satu pun keluarga berisiko yang luput dari perhatian,” tambahnya.
Asep juga menjelaskan bahwa Diskominfo Tangsel mengambil peran krusial dalam menyebarluaskan edukasi gizi secara digital agar menyasar generasi muda dan pasangan baru. Pihaknya memanfaatkan berbagai platform multimedia untuk menyederhanakan informasi medis yang rumit terkait stunting agar lebih mudah dicerna masyarakat awam.
“Kami menyadari tantangan terbesar saat ini adalah menyamakan persepsi publik. Banyak ibu muda yang masih termakan mitos pola asuh keliru di media sosial. Oleh karena itu, Diskominfo gencar memproduksi konten edukasi berbasis video pendek, infografis, hingga podcast kesehatan yang bekerja sama dengan para dokter anak. Kami ingin literasi stunting ini masuk ke gawai setiap warga Tangsel,” jelas Asep.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya pemerataan akses informasi hingga ke tingkat lingkungan terkecil melalui penguatan infrastruktur jaringan internet publik.
“Penurunan stunting ini juga ditopang oleh penyediaan fasilitas internet gratis di ruang publik dan balai warga melalui program Smart Kampung atau Smart Kelurahan. Dengan akses internet yang stabil hingga ke pelosok RT/RW, para kader posyandu dan warga bisa lebih cepat mengakses aplikasi pelaporan gizi serta mengikuti kelas pengasuhan anak secara daring tanpa terkendala kuota,” imbuhnya.
Sementara itu, Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie, menegaskan bahwa benteng pertama pencegahan stunting sebenarnya ada pada kesiapan calon ibu sebelum kehamilan terjadi. Oleh karena itu, edukasi bagi calon pengantin kini menjadi salah satu program yang paling intensif dilakukan.
“Pencegahan stunting harus dimulai dari hulu, bahkan sejak masa persiapan kehamilan. Karena itu, Pemerintah Kota Tangerang Selatan terus memperkuat layanan kesehatan ibu dan anak, memastikan ibu hamil mendapatkan pendampingan, pemenuhan gizi, serta akses layanan kesehatan yang optimal. Dengan intervensi yang dilakukan sejak dini, kita berharap setiap anak di Tangerang Selatan dapat tumbuh sehat, cerdas, dan berkembang secara maksimal,” ujar Benyamin pada Selasa lalu.
Benyamin juga mengingatkan bahwa keberhasilan program ini tidak hanya bertumpu pada fasilitas yang disediakan pemerintah, melainkan juga pada kesadaran masyarakat. Pola hidup bersih dan sehat (PHBS) serta keaktifan orang tua membawa balita ke posyandu menjadi kunci utama yang tidak boleh diabaikan.
Ia berharap seluruh lapisan masyarakat bisa lebih proaktif dalam memanfaatkan layanan kesehatan yang ada. Menurutnya, menjaga kesehatan anak sejak dalam kandungan adalah bentuk investasi terbesar untuk masa depan Tangerang Selatan.
“Investasi terbaik untuk masa depan Kota Tangerang Selatan adalah memastikan anak-anak kita tumbuh sehat sejak dalam kandungan hingga memasuki usia emas pertumbuhan. Untuk itu, kami mengajak seluruh masyarakat memanfaatkan layanan kesehatan yang tersedia dan bersama-sama menjaga kesehatan ibu dan anak sebagai fondasi lahirnya generasi unggul,” pungkas Benyamin.

