Pelatihan Kopdes Merah Putih Proporsional dengan Tugas Manajerial di Desa

Baca Juga

Oleh: Bagas Nurahman)*

Pelaksanaan pelatihan bagi calon pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih) terus disusun secara proporsional dengan tugas manajerial yang akan dijalankan di desa. Materi pembelajaran difokuskan pada penguatan kompetensi kepemimpinan, tata kelola koperasi, pengelolaan keuangan, kewirausahaan, serta pengembangan usaha desa agar para peserta memiliki kemampuan yang sesuai dengan tanggung jawabnya sebagai pengelola koperasi. Langkah tersebut mencerminkan komitmen pemerintah dalam menyiapkan sumber daya manusia yang profesional, adaptif, dan mampu mengoptimalkan peran Kopdes Merah Putih sebagai penggerak ekonomi kerakyatan di tingkat desa.

Orientasi pelatihan yang disesuaikan dengan tugas manajerial tersebut memperoleh dukungan dari berbagai pihak, termasuk DPR RI. Penyesuain materi pembelajaran dinilai sebagai langkah strategis untuk memastikan setiap peserta memperoleh kompetensi yang relevan dengan tanggung jawabnya sebagai pengelola Kopdes Merah Putih maupun Kampung Nelayan Merah Putih. Melalui pendekatan tersebut, para lulusan pelatihan diharapkan mampu menerapkan tata kelola koperasi yang profesional, memperkuat kelembagaan, serta mendukung keberhasilan program pemberdayaan ekonomi masyarakat di tingkat desa.

Ketua DPR RI, Puan Maharani, mengatakan pelatihan bagi calon pengelola Kopdes Merah Putih perlu lebih menitikberatkan pada penguatan kompetensi manajerial yang menjadi tanggung jawab utama peserta setelah ditempatkan di daerah. Menurutnya, orientasi pelatihan harus disusun secara proporsional dengan tugas yang akan diemban sehingga seluruh kemampuan yang dibangun benar-benar relevan dengan kebutuhan pengelolaan koperasi di tingkat desa.

Sebagai bagian dari penyempurnaan program, Puan Maharani mendukung langkah pemerintah yang mengubah format pelatihan menjadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial. Penyesuaian tersebut merupakan langkah penyempurnaan pemerintah agar materi pelatihan semakin sesuai dengan kebutuhan pengelolaan koperasi di desa.

Selain perubahan format pelatihan, Puan Maharani menekankan pentingnya penyesuaian menyeluruh terhadap penyelenggaraan program. Menurutnya, penyempurnaan perlu dilakukan mulai dari tahap perencanaan, mekanisme seleksi peserta, standar kesehatan, hingga metode pembelajaran agar pelaksanaan pelatihan berlangsung semakin efektif, aman, dan menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas.

Lebih lanjut, materi pelatihan hendaknya difokuskan pada kemampuan kepemimpinan, tata kelola koperasi, pengelolaan keuangan, kewirausahaan, serta pengembangan usaha desa. Seluruh kompetensi tersebut merupakan bekal utama bagi para pengelola Kopdes Merah Putih dalam menjalankan berbagai program pemberdayaan ekonomi masyarakat dan meningkatkan produktivitas desa.

Komitmen DPR RI untuk terus mengawal hasil penyesuaian pemerintah menjadi bagian dari upaya memastikan pelaksanaan Program Kopdes Merah Putih semakin optimal. Pengawasan tersebut diharapkan mampu mendorong penerapan seluruh rekomendasi perbaikan sehingga kualitas pelatihan terus meningkat dan memberikan manfaat nyata bagi pengembangan koperasi di seluruh Indonesia.

Sejalan dengan upaya tersebut, Kementerian Pertahanan memastikan penyelenggaraan pelatihan dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku melalui kolaborasi bersama kementerian teknis. Sinergi tersebut bertujuan menghasilkan calon pengelola koperasi yang tidak hanya memiliki karakter disiplin dan jiwa kepemimpinan, tetapi juga menguasai kompetensi manajerial yang dibutuhkan dalam mengelola koperasi desa.

Sementara itu, Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait, mengatakan pelaksanaan pelatihan kedisiplinan bagi peserta SPPI menggunakan standar pembiayaan pendidikan dan pelatihan Komponen Cadangan yang telah ditetapkan pemerintah. Sistem pembiayaan tersebut menjadi bagian dari tata kelola program yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

Menurut Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait, penyelenggaraan program juga didukung oleh kementerian teknis sesuai bidang masing-masing. Kementerian Koperasi bertanggung jawab terhadap pelatihan manajerial bagi calon pengelola Kopdes Merah Putih, sedangkan Kementerian Kelautan dan Perikanan memberikan dukungan terhadap pelatihan manajerial bagi calon pengelola Kampung Nelayan Merah Putih. Pembagian peran tersebut menunjukkan sinergi pemerintah dalam menyiapkan pengelola koperasi yang kompeten.

Pada gelombang pertama pelaksanaan SPPI yang berlangsung mulai 17 Juni hingga 31 Juli 2026, sebanyak 35.476 peserta mengikuti pelatihan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 30 ribu peserta merupakan calon pengelola Kopdes Merah Putih, sedangkan 5.476 peserta dipersiapkan menjadi pengelola Kampung Nelayan Merah Putih. Besarnya jumlah peserta mencerminkan keseriusan pemerintah dalam membangun kapasitas pengelola koperasi hingga ke seluruh wilayah Indonesia.

Pelatihan diselenggarakan di 67 satuan pendidikan yang tersebar di berbagai daerah dengan pendekatan yang mengombinasikan pembentukan karakter melalui pembekalan bela negara serta penguatan kompetensi manajerial. Setelah mengikuti pembekalan dasar, peserta memperoleh pelatihan manajerial yang disusun bersama kementerian teknis agar sesuai dengan kebutuhan pengelolaan koperasi di lapangan.

Penguatan kemampuan manajerial menjadi inti dari keseluruhan proses pembelajaran karena para peserta nantinya akan bertanggung jawab mengelola kelembagaan koperasi, menyusun perencanaan usaha, mengembangkan potensi ekonomi desa, mengelola keuangan secara akuntabel, serta membangun kemitraan dengan berbagai pihak. Kompetensi tersebut menjadi fondasi penting bagi keberhasilan Program Kopdes Merah Putih sebagai salah satu instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Melalui penyelarasan materi pelatihan dengan tugas manajerial di desa, Program Kopdes Merah Putih diharapkan mampu menghasilkan pengelola koperasi yang profesional, adaptif, dan memiliki kapasitas kepemimpinan yang kuat. Dukungan DPR RI serta sinergi Kementerian Pertahanan, Kementerian Koperasi, dan Kementerian Kelautan dan Perikanan menjadi modal penting untuk memastikan setiap pengelola koperasi mampu menjalankan amanah secara optimal dalam memperkuat ekonomi kerakyatan dan mewujudkan desa yang semakin mandiri dan sejahtera.

)* Penulis adalah Mahasiswa tinggal di Jakarta

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Pelatihan Kopdes Merah Putih Makin Aman, Relevan, dan Menguatkan Aspek Manajerial

Oleh: Citra Kurnia Khudori )*Keberhasilan sebuah koperasi tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal ataubanyaknya anggota, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang mengelolanya. Sama halnya dengan Koperasi Desa Merah Putih, penguatankapasitas para manajer menjadi faktor penting agar koperasi mampu berkembangsebagai motor penggerak ekonomi desa yang profesional dan berkelanjutan.Karena itu, penyempurnaan konsep pelatihan bagi calon manajer Koperasi DesaMerah Putih merupakan langkah yang patut diapresiasi. Penyesuaian materipelatihan menunjukkan bahwa pemerintah berupaya memastikan proses pembekalan lebih relevan dengan kebutuhan pengelolaan koperasi sekaligusmampu menjawab berbagai masukan yang berkembang di masyarakat.Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, menjelaskan bahwa istilah latihan dasar militer (latsarmil) tidak lagidigunakan dalam program pembekalan calon manajer Koperasi Desa Merah Putih. Sebagai gantinya, pelatihan difokuskan pada pembekalan bela negara dan peningkatan kompetensi yang mendukung kemampuan kepemimpinan sertapengelolaan organisasi.Menurut Rico, perubahan tersebut merupakan bentuk penyempurnaan konsep agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Program ini sama sekalitidak diarahkan untuk membentuk calon manajer menjadi personel militer, melainkanmembangun karakter disiplin, tanggung jawab, nasionalisme, dan etos kerja yang dibutuhkan dalam mengelola koperasi.Ia juga menegaskan bahwa materi yang diberikan telah disesuaikan dengankebutuhan dunia manajerial. Pembekalan bela negara diposisikan sebagaipendidikan karakter yang bertujuan memperkuat integritas, kedisiplinan, kepemimpinan, kemampuan bekerja sama, serta semangat pengabdian kepadamasyarakat.Karakter disiplin dan kepemimpinan yang menjadi bagian dari pembekalan belanegara justru dapat menjadi modal penting dalam menjalankan fungsi-fungsitersebut. Nilai-nilai tersebut bersifat universal dan telah lama diterapkan dalamberbagai program pengembangan kepemimpinan di banyak institusi.Meski demikian, pemerintah juga menunjukkan sikap adaptif dengan melakukanevaluasi terhadap konsep pelatihan. Respons terhadap berbagai masukan publikmenjadi bagian dari proses penyempurnaan agar pelaksanaan program semakinditerima oleh masyarakat luas.Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman menjelaskanbahwa durasi pelatihan calon manajer Koperasi Desa Merah Putih turut disesuaikanmenjadi sekitar satu setengah bulan. Penyesuaian tersebut dilakukan agar materipembekalan lebih efektif, fokus, dan sesuai dengan kebutuhan pengelolaan koperasidi lapangan.Dudung mengungkapkan, pelatihan tetap diarahkan pada peningkatan kapasitaskepemimpinan, kedisiplinan, serta kemampuan manajerial para peserta. Denganwaktu yang lebih efisien, calon manajer diharapkan dapat segera kembali ke daerahmasing-masing untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh dalammengembangkan koperasi desa.Penyesuaian durasi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pemerintah lebihmengutamakan kualitas pembelajaran dibandingkan lamanya pelatihan. Yang terpenting bukan seberapa panjang proses pendidikan berlangsung, melainkansejauh mana kompetensi yang dibutuhkan benar-benar dapat dikuasai oleh peserta.Di sisi lain, kebutuhan pengelolaan koperasi modern memang semakin kompleks. Manajer tidak hanya dituntut memahami aspek administrasi, tetapi juga mampumembaca peluang usaha, memanfaatkan teknologi digital, mengelola risiko, sertamembangun jejaring kemitraan dengan berbagai pihak.Karena itu, materi pelatihan yang berorientasi pada penguatan kapasitas organisasimenjadi semakin relevan. Koperasi yang dikelola secara profesional memilikipeluang lebih besar untuk tumbuh sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakatdesa.Komitmen pemerintah untuk menjaga relevansi pelatihan juga tercermin dalampenyempurnaan substansi materi yang diberikan kepada peserta. Berbagai materiyang dinilai tidak berkaitan langsung dengan kebutuhan calon manajer kemudiandisesuaikan agar fokus pembelajaran tetap berada pada peningkatan kapasitaskepemimpinan dan tata kelola.Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Pertahanan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia, menyampaikan bahwa materi menembaktidak lagi dimasukkan dalam pembekalan calon manajer Koperasi Desa Merah Putih. Langkah tersebut merupakan bagian dari penyesuaian kurikulum agar pelatihan lebih relevan dengan tujuan pengembangan kompetensi peserta.Kini pembekalan lebih difokuskan pada nilai-nilai bela negara dan pembentukankarakter. Dengan demikian, pelatihan benar-benar diarahkan untuk mendukungkeberhasilan pengelolaan koperasi, bukan untuk memberikan kemampuan yang berada di luar kebutuhan tugas para manajer.Penyempurnaan kurikulum tersebut membuktikan bahwa pemerintah membukaruang evaluasi dalam setiap tahapan pelaksanaan program. Fleksibilitas semacamini penting agar kebijakan publik dapat terus berkembang mengikuti aspirasimasyarakat tanpa kehilangan tujuan utamanya.Perlu dipahami oleh semua pihak bahwa keberhasilan Koperasi Desa Merah Putihakan sangat ditentukan oleh kualitas para pengelolanya. Investasi pada pengembangan sumber daya manusia merupakan langkah strategis agar koperasimampu menjadi lembaga ekonomi desa yang profesional, transparan, dan berdayasaing.Dengan konsep pelatihan yang semakin aman, relevan, dan berorientasi pada penguatan aspek manajerial, pemerintah memberikan fondasi yang lebih kokoh bagilahirnya para manajer koperasi yang berintegritas. Dengan begitu, Koperasi DesaMerah Putih memiliki peluang lebih besar untuk menjadi motor penggerak ekonomidesa sekaligus memperkuat kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.)* Pemerhati isu sosial-ekonomi
- Advertisement -

Baca berita yang ini