Astaga, Kota Banjarbaru Lumpuh Akibat Kabut Asap Kebakaran Lahan

Baca Juga

MINEWS.ID, BANJARBARU – Kebakaran lahan sudah sangat mengganggu warga setempat seperti di Kota Banjarbaru dan Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan yang lumpuh seketika karena diselimuti kabut asap.

“Asap pekat akibat kebakaran lahan mengakibatkan kemacetan lalu lintas akibat jarak pandang terbatas sehingga rawan kecelakaan,” kata Kapolsek Banjarbaru Barat Kompol Syaiful Bob di Banjarbaru, Sabtu 14 September 2019.

Sabtu pagi lalu lintas kota itu benar-benar lumpuh sehingga aparat dari Satuan Lalu Lintas Polres Banjarbaru dan Unit Lantas Polsek Banjarbaru Barat pun dikerahkan untuk mengatur laju kendaraan yang terhenti beberapa saat itu.

Syaiful Bob menegaskan asap tersebut berasal dari kebakaran semak belukar seluas 400 hektar di Kelurahan Landasan Ulin Selatan, Kecamatan Liang Anggang.

Kondisi semak belukar yang kering serta minimnya air dan lokasi yang sulit dijangkau menggunakan mobil tangki pemadam membuat proses pemadaman semakin sulit.

Sebelumnya di lokasi yang tak jauh dari kebakaran lahan sekarang, juga pernah terbakar hebat. Lahan yang terbakar di Kecamatan Bati-Bati tersebut adalah jenis gambut.

Asap tersebut juga mengganggu aktivitas Bandara Syamsudin Noor dalam beberapa hari terakhir ini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Trauma Healing, Upaya Strategis Negara Pulihkan Generasi Pascabencana Sumatra

Oleh : Nancy Dora  Bencana ekologis yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra dan Aceh kembali menegaskanbahwa dampak kebencanaan tidak berhenti pada kerusakan fisik dan kerugian material. Di balikrumah yang runtuh, jalan yang terputus, dan fasilitas umum yang rusak, terdapat luka psikis yang jauh lebih dalam, terutama pada anak-anak sebagai kelompok paling rentan. Dalam konteks ini, trauma healing bukan sekadar program pelengkap pascabencana, melainkan menjadi upayastrategis negara untuk memulihkan dan melindungi masa depan generasi terdampak. Data yang dihimpun menunjukkan bahwa anak-anak mencakup sekitar sepertiga dari total pengungsi pascabencana di Sumatra dan Aceh. Kondisi tersebut menempatkan mereka padasituasi krisis berlapis, mulai dari kehilangan rasa aman, keterputusan akses pendidikan, hinggatekanan psikologis akibat pengalaman traumatis. Wakil Ketua Komisi Perlindungan AnakIndonesia (KPAI), Jasra Putra, menegaskan bahwa pemulihan mental dan sosial anak harusditempatkan sebagai prioritas utama dalam penanganan bencana, karena trauma yang tidaktertangani berpotensi menghambat perkembangan kognitif dan emosional anak dalam jangkapanjang. Pendekatan trauma healing yang didorong KPAI menempatkan anak bukan hanya sebagaikorban, tetapi sebagai subjek pemulihan yang aktif. Melalui konsep eco-healing, anak-anakdiajak berinteraksi kembali dengan lingkungan secara positif. Pendekatan ini menggabungkanpemulihan psikologis dengan edukasi ekologi, sehingga anak tidak tumbuh dengan rasa takutterhadap alam, melainkan dengan kesadaran untuk menjaga keseimbangan lingkungan. Dalampraktiknya, material sisa bencana dimanfaatkan sebagai sarana ekspresi kreatif, seperti karya seniatau fasilitas belajar sederhana, yang membantu anak memaknai ulang pengalaman traumatissecara konstruktif. Lebih jauh, eco-healing juga diarahkan untuk membangun resiliensi jangka panjang denganmengintegrasikan kearifan lokal. Pelibatan tokoh adat seperti Ninik Mamak di Sumatra Barat dan Tuha Peuet di...
- Advertisement -

Baca berita yang ini