Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Baca Juga

Oleh: Petrus Pekei*

Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar.

Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok.

Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama.

Sikap serupa juga disuarakan oleh Lambertus Pekuikir, tokoh yang memiliki pengalamanpanjang dalam dinamika Papua dan kini konsisten mendorong perdamaian. Ia menekankanbahwa kedamaian di Keerom terjaga berkat kerja bersama masyarakat adat, tokoh agama, pemerintah daerah, dan aparat keamanan. Pesan moral yang ia sampaikan meneguhkankeyakinan bahwa harmoni sosial bukan hasil satu pihak, melainkan buah kolaborasi yang terus dirawat. Kehidupan rukun antara penduduk asli dan pendatang dipandang sebagaikekuatan sosial yang harus dilindungi dari isu-isu menyesatkan.

Penguatan narasi positif ini menunjukkan arah yang jelas: Papua damai adalah tujuanbersama. Kehadiran negara melalui penegakan hukum yang profesional dan humanis menjadijangkar stabilitas. Aparat TNI-Polri bekerja memastikan keamanan tanpa mengabaikanpendekatan persuasif, sementara pemerintah terus mendorong pembangunan layanan dasar, pendidikan, dan ekonomi lokal. Sinergi ini menegaskan bahwa keamanan dan kesejahteraanberjalan beriringan, saling menguatkan.

Di tingkat masyarakat, partisipasi aktif menjadi kunci. Kewaspadaan lingkungan, pelaporandini terhadap aktivitas mencurigakan, serta penguatan jejaring sosial antarwarga memperkecilruang bagi gangguan keamanan. Ketika masyarakat terlibat, rasa memiliki terhadapkedamaian tumbuh, dan provokasi kehilangan panggung. Budaya gotong royong yang mengakar di Papua menjadi modal sosial yang ampuh untuk merawat ketertiban dan mempercepat pemulihan kepercayaan.

Pendidikan kembali menempati posisi sentral dalam narasi kemajuan. Melindungi guru, pekerja pendidikan, dan fasilitas sekolah berarti melindungi masa depan Papua. Negara hadirmemastikan proses belajar mengajar berlangsung aman, sementara masyarakat bersama-samamenjaga lingkungan sekolah sebagai ruang suci bagi tumbuhnya ilmu dan karakter. Investasipada pendidikan adalah investasi pada perdamaian jangka panjang, karena generasi terdidikadalah agen persatuan dan pembangunan.

Optimisme juga tercermin dari meningkatnya kepercayaan publik terhadap langkah negara. Penanganan keamanan yang terukur, transparan, dan berkeadilan memperkuat legitimasikebijakan. Setiap keberhasilan menjaga ketertiban memberi sinyal positif bagi aktivitas sosialdan ekonomi, mendorong roda pembangunan berputar lebih cepat. Papua yang amanmembuka peluang kerja, memperluas layanan publik, dan mempercepat peningkatankesejahteraan warga.

Pada akhirnya, meneguhkan Papua damai adalah pilihan moral dan strategis. Bangsa inisepakat bahwa kekerasan tidak memiliki tempat dalam perjuangan apa pun. Jalan terbaikadalah persatuan, dialog, dan pembangunan berkelanjutan dengan perlindungan penuh bagiwarga sipil. Dengan dukungan masyarakat, ketegasan aparat, dan kepemimpinan yang menyejukkan, Papua melangkah mantap menuju masa depan yang aman, adil, dan sejahtera. Papua damai bukan sekadar harapan, melainkan komitmen bersama yang terus diperjuangkandemi Indonesia yang utuh dan bermartabat.

*Penulis merupakan Jurnalis Papua dan Pengamat Sosial

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Teror di Balik Dalih Perjuangan: Mengutuk Aksi Biadab OPM yang Menumbalkan Masa Depan Anak Papua

Oleh: Silas Tabuni *) Papua kembali berduka. Ruang kelas yang seharusnya menjadi persemaian peradaban dan masa depan bangsa justru ternoda oleh aksi kekerasan yang melampaui batas kemanusiaan. Peristiwayang terjadi di Sekolah Yakpesmi, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo pada Senin pagi, 2 Februari 2026, bukan sekadar catatan kriminal biasa. Pembunuhan keji terhadap Frengki, seorang tenaga kependidikan yang tengah mendedikasikan hidupnya untuk memperbaiki fasilitasbelajar siswa, adalah serangan langsung terhadap nalar publik dan martabat bangsa. Aksi brutal yang dilakukan oleh kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM), atau yang seringmengatasnamakan diri sebagai Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), menegaskan bahwa kelompok ini tidak lagi berjuang demi rakyat, melainkan telah menjadimesin teror yang menghambat kemajuan Papua. Kejadian bermula ketika ketenangan sekolah pecah oleh suara tembakan. Frengki, pria berusia55 tahun yang dikenal sebagai sosok pekerja keras, berusaha menyelamatkan diri ke ruang guru saat para pelaku mengejarnya. Meski sempat ada upaya penghalangan dari rekan sejawatnya, Dason Wakla, keganasan para pelaku tidak terbendung. Frengki tewas dengan luka senjata tajamdi tempat yang seharusnya menjadi ruang paling aman bagi para pendidik. Tindakan inimerupakan puncak dari demanusiualisasi yang dilakukan oleh OPM, di mana nyawa manusiadianggap sebagai komoditas politik yang murah. Narasi yang dibangun oleh TPNPB Kodap XVI Yahukimo setelah kejadian tersebut adalah polalama yang sangat klise dan tidak berdasar. Melalui siaran persnya, kelompok ini secara sepihakmelabeli korban sebagai agen intelijen negara yang menyamar. Klaim tak berdasar ini adalahupaya putus asa untuk melegitimasi pembunuhan warga sipil di mata internasional. Tanpa buktihukum maupun administratif yang valid, pelabelan "intelijen" menjadi vonis mati instan yang dikeluarkan oleh kelompok bersenjata tanpa proses peradilan apa pun. Sebaliknya, faktalapangan menunjukkan bahwa Frengki adalah warga sipil murni yang direkrut pihak sekolahsejak Desember 2025 untuk membantu pengadaan kursi dan meja belajar. Ia bukan aparat, bukanpemegang senjata, dan sama sekali tidak memiliki rekam jejak militer. Klaim sepihak Mayor Kopitua Heluka yang menyatakan Yahukimo sebagai zona perang danmemerintahkan penutupan fasilitas publik seperti sekolah serta rumah sakit adalah bentukpembangkangan terhadap hak asasi manusia yang paling dasar. Menginstruksikan wargapendatang untuk angkat kaki dan mengancam keselamatan siapa pun yang bekerja sama denganpemerintah merupakan strategi intimidasi yang bertujuan menciptakan kekosongan sosial di Papua. Jika sekolah, rumah sakit, dan kantor pemerintahan ditutup, maka yang paling dirugikanadalah masyarakat asli Papua sendiri yang akan kehilangan hak pendidikan dan kesehatan. OPM secara sadar sedang menghancurkan fondasi kesejahteraan Papua demi agenda sempit mereka. Pemerintah, melalui langkah-langkah strategisnya, harus menyikapi fenomena ini denganketegasan yang tidak setengah-setengah. Agenda pemerintah untuk mempercepat pembangunandan integrasi kesejahteraan di Papua tidak boleh surut hanya karena teror. Justru, kehadirannegara harus semakin nyata untuk mengisi ruang-ruang yang coba dikuasai oleh rasa takut. Penguatan keamanan di objek vital seperti sekolah dan fasilitas kesehatan adalah harga mati. Direktur Eksekutif Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini