Ditinggal Meninggal Tuannya! Kisah 5 Anjing Setia Ini Bisa Bikin Mewek

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Ada yang bilang kalau anjing adalah satu-satunya makhluk di bumi ini yang lebih mencintai pemiliknya daripada mencintai diri mereka sendiri. Benar gak sih?

Tapi memang tidak dapat dipungkiri bahwa anjing telah lama mendapatkan reputasi karena kesetiaannya yang tak tergoyahkan kepada tuannya, bahkan kematian saja tidak cukup untuk menghentikan sahabat hewan ini dari tinggal di sisi tuannya.

Berikut lima kisah-kisah tentang anjing yang setia kepada tuannya:

1. Kisah Anjing Hachiko 

Dibesarkan oleh seorang profesor di Universitas Tokyo, pada akhir setiap hari, Hachiko akan menuju ke stasiun Shibuya untuk menunggu tuannya pulang dari kerja. Sayangnya, pada tahun 1925, tuannya meninggal karena pendarahan otak. Tapi itu tidak menghentikan Hachiko untuk melanjutkan rutinitasnya.

Sampai kematiannya sendiri, Hachiko tidak pernah tidak mengunjungi stasiun Shibuya setiap hari, berharap tuannya akan pulang ke rumah setiap waktu. Loyalitasnya Hachiko kepada tuannya yang telah meninggal membuatnya mendapat tempat di cerita rakyat Jepang dan patungnya berdiri di stasiun Shibuya yang sibuk.

2. Kisah Anjing Sabinus

Pada masa pemerintahan Kaisar Romawi Tiberius, seorang pria bernama Sabinus secara bodoh membuat musuh di tempat-tempat tinggi. Penulis Cassius Dio dan Pliny the Elder mencatat bahwa anjing kesayangan Sabinus mengikuti tuannya yang bernasib malang ke penjara dan dengan sabar menunggu di luar, tidak menyadari fakta bahwa tuannya sedang dieksekusi.

Ketika mayat Sabinus dibuang ke jalan, anjing itu berlari ke sisi tuannya yang sudah meninggal dan melolong dengan menyedihkan. Ia kemudian mengambil makanan dari orang yang lewat dengan simpatik, tetapi alih-alih memakannya, anjing itu meletakkan makanan itu ke mulut Sabinus, berharap untuk membangkitkannya kembali.

Ketika mayat itu akhirnya dibuang ke Sungai Tiber, anjing itu melompat ke dalam air dan mencegahnya agar tidak tenggelam.

3. Kisah Anjing Capitan

Pada 2006, seorang pria Argentina bernama Miguel Guzman meninggal di kotanya Villa Carlos Paz. Selama prosesi pemakaman, sedikit perhatian diberikan pada keberadaan Capitan, anjing campuran Alsatian yang diberikan Miguel kepada putranya Damian tahun sebelumnya.

Capitan dianggap telah melarikan diri dari rumah, dan dianggap hilang atau mati. Sampai seminggu kemudian, ketika keluarga mengunjungi makam Guzman untuk menemukan Capitan di sana sedang merintih.

Hal yang membuat aneh adalah bagaimana anjing itu menemukan kuburan sendiri, karena keluarga tidak membawanya ke sana pada saat pemakaman Miguel.

Sementara dia sesekali kembali ke rumah dengan Guzmans, dia akhirnya selalu berlari kembali ke kuburan untuk menjaga kuburan.Pengasuh kuburan mengasihani dia dan memberi makan anjing yang bisa ditemukan terbaring di kuburan Guzman.

Setelah menderita penyakit komplikasi, Capitan meninggal di pemakaman yang sama pada Februari 2018.

4. Kisah Anjing Fido

Pada November 1941, Carlo Soriani, seorang pekerja di Borgo San Lorenzo, Italia sedang dalam perjalanan pulang dari kantor ketika dia melihat seekor anjing yang terbaring terluka di parit. Mengasihani anjing itu, ia membawanya pulang pada malam itu dan merawatnya kembali sehat.

Soriani dan istrinya menamai anjing itu, Fido, nama yang berasal dari kata Latin “fidelis” yang berarti setia. Selama dua tahun berikutnya, Fido akan menunggu setiap hari di halte bus untuk bertemu dan menyapa tuannya kembali dari pekerjaan sebelum pulang bersama.

Sayangnya, Perang Dunia Kedua menghantam rumah pada tahun 1943, Soriani terbunuh dalam serangan bom di tempat kerjanya. Fido pergi ke halte bus seperti biasa, tetapi ketika Soriani tidak muncul. Fido pulang hanya untuk kembali ke halte bus pada hari berikutnya dan lusa.

Sampai kematiannya pada tahun 1958, Fido tidak pernah absen mengunjungi halte, berjaga-jaga dan mengendus-endus udara, dengan penuh semangat menunggu tuannya kembali.

Penduduk setempat akhirnya menangkapnya dan pada tahun 1957, walikota memberinya medali emas dengan persetujuan istri Soriani. Anjing itu akan meninggal di halte bus masih menunggu tuannya; dia akan dibaringkan di sebelah Soriani.

Pengabdiannya diabadikan oleh patungnya dengan tulisan, “A Fido, Esempio di Fedeltà (Kepada Fido, Contoh Kesetiaan).”

5. Kisah Anjing Kostya

Pada musim panas 1995, kecelakaan lalu lintas di kota Tolyatti Rusia menewaskan seorang pria dan putrinya. Dalam kecelakaan tersebut, anjing peliharaan mereka menjadi yang satu-satunya selamat.

Selama tujuh tahun berikutnya, anjing itu, yang oleh warga telah dinamai Kostya atau Constantine, ia rutin kembali ke lokasi kecelakaan. Kostya tetap di sana melalui musim panas yang panas dan musim dingin Rusia yang membeku, terus-menerus menunggu dan berlari ke mobil yang lewat, seolah-olah mengharapkan tuannya.

Terlepas dari upaya untuk mengadopsi dia, Kostya tetap kembali ke tempat yang sama, hanya mengambil makanan dari warga yang peduli.

Setelah kematiannya, kota ini mendirikan sebuah peringatan untuk Kostya yang telah menjadi situs populer untuk kunjungan dari pengantin baru, dengan anjing menjadi simbol kesetiaan yang kekal.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Evaluasi Berkala Koperasi Desa Jadi Kunci Keberlanjutan Program Pemberdayaan Ekonomi

Oleh: Firly Tsaqila )*Komitmen pemerintah dalam memperkuat fondasi ekonomi desa terusdiwujudkan melalui pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan MerahPutih sebagai instrumen strategis pemberdayaan masyarakat. Koperasi Desa dirancang bukan sekadar menjadi wadah aktivitasekonomi lokal, melainkan sebagai infrastruktur ekonomi nasional yang mampu memperluas akses masyarakat desa terhadap layanan usaha, distribusi kebutuhan pokok, pembiayaan produktif, hingga penguatankesejahteraan berbasis komunitas. Sehingga evaluasi berkala menjadi elemen penting agar implementasiprogram berjalan tepat sasaran, adaptif terhadap tantangan lapangan, dan mampu memberikan manfaat berkelanjutan.Langkah cepat Kementerian Koperasi dalam merespons berbagaimasukan masyarakat menunjukkan keseriusan pemerintah menjagakualitas pelaksanaan program ini. Berbagai sorotan yang muncul di ruangpublik dipandang sebagai bentuk partisipasi konstruktif yang justrumemperkuat proses pembenahan. Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menilai perhatian masyarakatterhadap kondisi dan kesiapan Kopdes Merah Putih merupakan bagiandari pengawasan publik yang sangat dibutuhkan untuk memastikanprogram berkembang sesuai tujuan awal.Menurut Ferry, setiap laporan, masukan, dan perhatian masyarakatmenjadi bahan evaluasi yang sangat berharga bagi kementerian untukmelakukan koreksi secara menyeluruh. Ia menegaskan bahwa pemerintahmemandang keterlibatan publik sebagai bagian dari mekanismepengawasan yang memperkuat akuntabilitas tata kelola. Denganketerbukaan terhadap kritik, pemerintah menunjukkan pendekatan adaptifdalam memastikan program ini terus mengalami penyempurnaan.Pendekatan evaluatif ini penting karena skala program Kopdes MerahPutih sangat luas dan menyentuh langsung berbagai aspek kehidupanekonomi desa. Pemerintah tidak menempatkan evaluasi sebagai responsatas persoalan semata, melainkan sebagai instrumen manajemen modern yang memungkinkan setiap kelemahan terdeteksi lebih awal untuk segeradiperbaiki. Dengan demikian, proses pembenahan dapat dilakukan secarasistematis tanpa mengganggu tujuan besar pembangunan ekonomi desa.Ferry juga menekankan bahwa pemerintah akan terus menyelaraskankoordinasi lintas lembaga agar evaluasi yang dilakukan menghasilkanlangkah perbaikan konkret. Kolaborasi antara kementerian, pengelola koperasi, dan masyarakat diyakini menjadi kunci agar setiap temuanlapangan dapat segera ditindaklanjuti secara efektif. Pendekatan inimencerminkan keseriusan pemerintah membangun tata kelola koperasiyang terbuka dan responsif.Di sisi lain, penguatan evaluasi juga tampak dari keterlibatan berbagaiinstitusi pendukung. Badan Pengawas Obat dan Makanan melalui Kepala BPOM, Taruna Ikrar, mempertegas peran pengawasan distribusi obat danpangan dalam ekosistem Kopdes Merah Putih. Kehadiran BPOM memperlihatkan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada aspekkelembagaan koperasi, tetapi juga memastikan kualitas layanan dankeamanan produk yang sampai kepada masyarakat desa.BPOM menyiapkan sistem pengawasan yang menjangkau hingga level desa, termasuk melalui pelibatan puluhan ribu kader terlatih. Langkah inimenjadi bukti bahwa evaluasi program dilakukan secara terintegrasidengan penguatan kapasitas pengawasan di lapangan. Pemerintahmemahami bahwa keberlanjutan koperasi tidak dapat dilepaskan dariterjaminnya standar mutu, keamanan, dan keandalan distribusi produk.Kepala BPOM menilai pengawasan distribusi obat dan pangan di koperasidesa membutuhkan mekanisme yang presisi karena cakupan wilayahyang luas menuntut sistem kendali yang kuat. Oleh sebab itu, pemerintahterus merancang skema baru agar distribusi tetap terkendali sekaligusmenjangkau masyarakat secara merata. Upaya ini memperlihatkanorientasi evaluasi yang tidak berhenti pada identifikasi masalah, melainkan diarahkan pada inovasi kebijakan.Pandangan mengenai pentingnya evaluasi berkala juga diperkuat ekonom CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli. Ia menilai bahwa pengawasanberlapis sangat diperlukan mengingat fungsi Kopdes Merah Putihmencakup aspek komersial, sosial, hingga layanan distribusi strategis. Menurutnya, pembagian peran pengawasan lintas lembaga akanmemperkuat akuntabilitas sekaligus meminimalkan potensipenyimpangan.Dipo menekankan pentingnya audit independen secara berkala sebagaiinstrumen untuk mendeteksi potensi moral hazard sejak dini. Ia jugamemandang bahwa tata kelola internal yang kuat harus ditopang olehrekrutmen pengelola profesional yang tetap berbasis komunitas lokal. Keterlibatan warga desa dinilai penting untuk menumbuhkan rasa memilikisehingga keberlanjutan koperasi terjaga secara alamiah.Pandangan Dipo sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang menempatkan evaluasi sebagai fondasi penguatan kelembagaan. Pemerintah memahami bahwa keberhasilan program tidak cukup diukurdari jumlah koperasi yang terbentuk, tetapi dari kualitas operasional, efektivitas layanan, dan dampak nyata terhadap kesejahteraanmasyarakat.Koperasi Desa Merah Putih diproyeksikan menjadi simpul distribusi hasilpertanian, penyalur barang strategis, penyedia layanan keuangan, hinggapenggerak aktivitas ekonomi produktif di tingkat akar rumput. Denganperan sebesar itu, evaluasi berkala menjadi syarat mutlak agar setiapfungsi berjalan optimal.Melalui keterbukaan terhadap masukan, sinergi lintas lembaga, sertapenguatan pengawasan berjenjang, pemerintah menunjukkan keseriusanmenjaga keberlanjutan program ini. Evaluasi yang konsisten bukanlahtanda kelemahan, melainkan bukti hadirnya tata kelola modern yang mengedepankan perbaikan berkelanjutan demi memastikan KopdesMerah Putih benar-benar menjadi motor penggerak pemberdayaanekonomi desa di masa depan.*) Pengamat Ekonomi Desa
- Advertisement -

Baca berita yang ini