Begini Cara Kontrol Gula Darah saat Puasa bagi Penderita Diabetes

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Ada banyak perubahan saat menjalankan puasa, salah satunya adalah menurunnya kadar gula dalam tubuh. Ini bisa menjadi masalah bagi penderita diabetes.

Bukan hanya pengidap diabetes, menjaga gula darah juga perlu dilakukan oleh siapa saja untuk terhindar dari berbagai gangguan kesehatan selama menjalankan ibadah puasa. Sebelum memutuskan untuk berpuasa, sebaiknya lakukan pengecekan gula darah demi mencegah komplikasi diabetes selama puasa.

Berikut cara mengontrol gula darah saat puasa:

  1. Sahur saat mendekati waktu imsak, ini bisa membantu menstabilkan gula darah saat puasa.
  2. Awali berbuka puasa dengan minum air putih untuk mengembalikan cairan di dalam tubuh.
  3. Atur porsi makan saat puasa. Sebaiknya saat sahur atau berbuka puasa perhatikan jumlah porsi yang dikonsumsi. Jangan makan langsung dalam jumlah porsi yang besar. Sebaiknya konsumsi makanan secara perlahan untuk mencegah lonjakan kadar gula darah.
  4. Perhatikan asupan makanan. Misalkan:
  • Konsumsi karbohidrat yang mengandung serat seperti nasi merah atau gandum.
  • Konsumsi makanan yang mengandung gula alami dari buah-buahan. Batasi asupan gula tambahan atau pemanis buatan.
  • Protein yang dianjurkan adalah ikan, susu rendah lemak, dan daging tanpa lemak.
  • Gunakan minyak yang mengandung lemak tak jenuh, seperti minyak palem, minyak zaitun, dan minyak kanola.
  • Perbanyak minum air putih untuk mencegah dehidrasi, setidaknya 8 gelas per hari. Kamu bisa memenuhinya dengan minum 2 gelas air saat berbuka puasa, 4 gelas air saat makan malam setelah tarawih, dan 2 gelas air saat sahur.

Saat bulan Ramadan, pengidap diabetes dianjurkan untuk rutin melakukan pengecekan darah, terutama saat sebelum sahur, siang hari, 2 jam sebelum berbuka, dan 2 jam setelah berbuka.

Pengecekan juga bisa dilakukan dengan rutin kontrol ke dokter (setidaknya 2-3 kali seminggu) atau dengan menggunakan alat khusus seperti glukometer, yaitu perangkat medis untuk menentukan perkiraan konsentrasi glukosa dalam darah.

Selain mengatur pola makan, kamu juga bisa melakukan beberapa cara lain untuk membantu mengontrol gula darah selama menjalani ibadah puasa.

  1. Olahraga Ringan
    Meskipun sedang berpuasa, jangan lewatkan untuk melakukan olahraga ringan secara rutin. Kamu bisa berjalan kaki, bersepeda, atau yoga menjelang berbuka puasa atau setelah sahur. Pastikan durasi olahraga yang kamu lakukan sesuai dengan kondisi tubuh. Jangan paksakan kegiatan ini jika kamu merasa tidak nyaman pada tubuh.
  2. Kelola Tingkat Stres
    Mengelola tingkat stres saat menjalani ibadah puasa menjadi salah satu hal yang bisa membantu kamu untuk mengontrol kadar gula darah dalam tubuh. Kamu bisa melakukan berbagai hal yang menyenangkan sambil menunggu waktu berbuka atau beristirahat pada siang hari.
  3. Atur Waktu Tidur
    Kekurangan atau terlalu banyak tidur dapat menyebabkan gangguan pada kadar gula darah. Untuk itu, pastikan kamu mengatur waktu tidur dengan baik agar kadar gula darah dapat terkontrol dengan baik.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Resiliensi Media Perkuat Pertahanan Semesta Hadapi Ancaman Disinformasi

Oleh: Nizam Ahmad )*Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalamkehidupan masyarakat. Di balik berbagai kemudahan yang ditawarkan, ruang digital juga menghadirkan tantangan baru berupa meningkatnyaancaman disinformasi, hoaks, pencurian data, hingga serangan siberyang dapat mengganggu stabilitas nasional. Kondisi tersebutmenempatkan resiliensi media sebagai salah satu pilar penting dalammemperkuat pertahanan semesta bangsa.Pemerintah menunjukkan komitmen kuat dalam menghadapi tantangantersebut melalui penguatan sistem keamanan siber nasional sekaligusmenjaga kualitas ekosistem informasi publik. Langkah ini menjadi bagiandari strategi nasional agar transformasi digital berjalan seiring denganterciptanya ruang informasi yang aman, sehat, dan produktif bagi seluruhmasyarakat.Kepala Staf Kepresidenan, Dudung Abdurachman, menjelaskan bahwapemerintah melalui berbagai kementerian dan lembaga terusmeningkatkan koordinasi lintas sektor guna memperkuat sistemkeamanan siber nasional. Menurutnya, sinergi antarlembaga menjadifaktor utama agar setiap ancaman digital dapat ditangani secara cepat, terukur, dan terpadu sehingga tidak berkembang menjadi gangguanterhadap kepentingan nasional.Urgensi penguatan tersebut tercermin dari data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang mencatat sekitar 5,5 miliar serangan sibersepanjang 2025. Jumlah itu meningkat tajam hingga 714 persendibandingkan rata-rata tahunan pada periode 2020-2024. Tren tersebutjuga berlanjut pada awal 2026 dengan lebih dari 1,5 miliar serangan yang terjadi hanya dalam kurun Januari hingga pertengahan April.Berbagai ancaman tersebut tidak hanya berupa upaya peretasan sistempemerintahan, tetapi juga meliputi pencurian data pribadi, penipuandigital, penyebaran hoaks, hingga propaganda melalui media digital. Kondisi ini menunjukkan bahwa ancaman terhadap keamanan nasionalkini tidak hanya datang dari ruang fisik, tetapi juga dari ruang siber yang semakin kompleks.Dudung menilai pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam menghadapisituasi tersebut. Menurutnya, partisipasi masyarakat menjadi bagianpenting dalam menjaga keamanan digital melalui peningkatan literasidigital, perlindungan data pribadi, serta penggunaan media sosial secarabertanggung jawab agar tidak mudah terpengaruh informasi yang menyesatkan.Penguatan ketahanan informasi juga memerlukan sistem keamanandigital yang kokoh. Karena itu, BSSN terus mendorong setiap daerahmenjadikan keamanan siber sebagai fondasi utama transformasi digital pemerintahan. Langkah tersebut diyakini mampu menghadirkan layananpublik yang lebih efektif, aman, dan terpercaya.Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Pemerintahan danPembangunan Manusia BSSN, Andri Pancoro, menjelaskan bahwadigitalisasi layanan publik tidak cukup hanya dengan membangun aplikasimaupun mendigitalisasi dokumen. Menurutnya, seluruh proses tersebutharus didukung sistem keamanan informasi yang kuat agar inovasi digital dapat berkembang tanpa mengorbankan perlindungan data masyarakat.BSSN mencatat sekitar 93 persen dari 5,5 miliar anomali trafik sibersepanjang 2025 merupakan aktivitas berbahaya yang berkaitan denganupaya pencurian data dan berbagai bentuk serangan digital lainnya. Faktatersebut menunjukkan bahwa ancaman siber terus berkembang danberpotensi mengganggu keberlangsungan layanan publik apabila tidakdiantisipasi secara sistematis.Untuk memperkuat kesiapsiagaan, BSSN memberikan asistensi kepadaaparatur pemerintah daerah melalui bimbingan teknis keamanan siber danpersandian. Program tersebut mencakup pengelolaan aset teknologiinformasi, manajemen risiko keamanan informasi, penyusunan SistemManajemen Keamanan Informasi, pembentukan Tim Tanggap InsidenSiber, hingga perlindungan data pribadi.Selain penguatan keamanan siber, pemerintah juga menaruh perhatianbesar terhadap ketahanan media sebagai benteng utama dalammenghadapi disinformasi. Di tengah derasnya arus informasi digital, keberadaan media profesional menjadi sangat penting untuk memastikanmasyarakat memperoleh informasi yang akurat, berimbang, dan dapatdipertanggungjawabkan.Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menilai tantanganyang dihadapi industri media saat ini tidak lagi semata berkaitan dengankeberlangsungan bisnis perusahaan pers. Menurutnya, melemahnyamedia arus utama dapat berdampak langsung terhadap kualitas informasipublik dan kesehatan demokrasi digital.Disrupsi teknologi telah mengubah pola distribusi informasi sekaligusmenggeser pendapatan media ke platform digital. Kehadiran kecerdasanartifisial juga memperbesar tekanan terhadap industri media melaluipenurunan trafik yang berimbas pada berkurangnya pendapatanperusahaan pers.Nezar mengungkapkan laporan Asosiasi Media Siber Indonesia menunjukkan penggunaan fitur AI pada mesin pencari menyebabkan trafiksejumlah media turun hingga sepuluh kali lipat. Kondisi tersebut memicuefisiensi di berbagai perusahaan media, termasuk media lokal yang selama ini menjadi sumber informasi penting bagi masyarakat di daerah.Meski demikian, pemerintah memandang persoalan yang lebih mendasaradalah menjaga kualitas informasi publik. Menurut Nezar, ruang informasitidak boleh didominasi oleh sumber-sumber yang menyebarkan informasimanipulatif maupun tidak dapat dipertanggungjawabkan karenaberpotensi memperbesar penyebaran disinformasi.Atas dasar itu, pemerintah terus memperkuat ekosistem media melaluiberbagai bentuk kolaborasi. Salah satunya dengan mendorongimplementasi Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2024 tentangTanggung Jawab Perusahaan Platform Digital untuk MendukungJurnalisme Berkualitas atau Publisher...
- Advertisement -

Baca berita yang ini