Al Naslaa, Batuan yang Terbelah dengan Sempurna

Baca Juga

MATA INDONESIA, JEDDAH – Al Naslaa memang sebuah batu. Namun ia memiliki keunikan dan menjadi salah satu formasi geologis yang paling menarik dalam sejarah.

Pasalnya, keunikan batuan besar yang ada di Oasis Tayma Arab Saudi ini adalah belahan yang membelah batu ini menjadi dua.  Dengan garis lurus yang nyaris sempurna dan presisi.

Celah hasil belahan tersebut benar-benar menghasilkan garis tegak lurus bagai potongan. Tanpa ada tonjolan asimetris bak belahan batu pada umumnya.

Hal unik lainnya, Al Naslaa terlihat seimbang dan kokoh di atas alas yang terlalu kecil jika bandingannya dengan ukuran Al Naslaa yang besar dan berat. Alas tersebut juga sebuah batuan yang terbentuk secara alami.

Bagian depan batunya halus bagaikan di ampelas. Yang tak kalah unik, jika melihat dari dekat, akan terlihat sebuah gambar seseorang dengan kudanya di permukaan Al Naslaa. Hingga kini gambar yang ada pada batuan tersebut masih menjadi misteri bagi para ahli.

Gambar kuda dan orang di Batu Al Naslaa
Gambar kuda dan orang di Batu Al Naslaa

Mengenai sejarahnya, formasi Al Naslaa memang telah ada sejak zaman kuno, dan tentunya ia membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk menghasilkan bentuk seperti itu.

Para ahli memang bingung, namun mereka berasumsi bahwa belahan vertikal yang nyaris sempurna itu adalah hasil dari fenomena alam. Seperti hasil dari pasir yang tertiup angin hingga hujan. Belahan batu yang halus itu juga memiliki sebab alami, ia muncul akibat pergerakan tektonik.

Namun ada ilmuwan lain yang berpendapat bahwa belahan Al Naslaa ini karena pergeseran tanah hingga menyebabkan batu terbelah. Dan ada yang mengatakan bahwa Al Naslaa adalah tanggul gunung berapi dari beberapa mineral yang mengeras.

Meski banyak teori dari para ahli yang masuk akal, namun ada pula segelintir orang yang berspekulasi bahwa batu tersebut adalah hasil karya alien. Dan ada pula yang mengatakan ia adalah hasil karya peradaban kuno.

Dan mengenai spekulasi seputar gambar misterius yang ada di permukaan batu, dulunya wilayah Oasis Tayma pernah menjadi tempat tinggal bagi banyak orang. Baik pedagang hingga keluarga Kerajaan Babilonia.

Di masa-masa kehidupan itulah mereka berinteraksi menggunakan media dengan berbagai cara. Dari sinilah para ahli berasumsi bahwa gambar yang ada di permukaan batu merupakan hasil karya masyarakat di zaman kuno, sebagai media komunikasi.

Hingga kini, sejarah Al Naslaa belum dapat dipastikan secara pasti. Sebagai informasi, batuan menawan yang memiliki tinggi sekitar 6 meter dan lebar 9 meter ini diperkirakan telah berusia 4.000 tahun.

Reporter: Intan Nadhira Safitri

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Employment from the Village: Koperasi Merah Putih dan Ekonomi Kerakyatan

Oleh : Pratama Dika SaputraGagasan membangun ekonomi nasional dari desa kembali menemukan momentumnya melalui program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah. Dalam konteks ketimpanganpembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah, pendekatan berbasis desa menjadi strategi yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak. Desa bukan lagi dipandang sebagai objek pembangunan semata, melainkan sebagai subjek utama yang memiliki potensi besar dalammenciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendorong kemandirian nasional. Program Koperasi Merah Putih menjadi representasi nyata dari upaya tersebut, denganorientasi pada penciptaan employment from the village yang berbasis ekonomi kerakyatan.Target ambisius pemerintah untuk membangun lebih dari 25 ribu koperasi dalam waktu singkatmencerminkan keseriusan dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Presiden Prabowo Subianto menilai bahwa koperasi harus menjadi institusi ekonomi yang nyata, bukan sekadar formalitas administratif. Oleh karena itu, koperasi dirancang memiliki fasilitaslengkap seperti gudang, alat pendingin, hingga kendaraan distribusi agar mampu beroperasisecara efektif dan efisien. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokuspada kuantitas, tetapi juga kualitas kelembagaan yang mampu menjawab kebutuhan riilmasyarakat desa.Kehadiran koperasi sebagai agregator ekonomi desa memiliki implikasi besar terhadappenciptaan lapangan kerja. Dengan memotong rantai distribusi yang panjang, koperasi dapatmeningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus membuka peluang kerja baru di sektorlogistik, pengolahan, hingga pemasaran. Model ini memungkinkan masyarakat desa untuk tidaklagi bergantung pada pusat-pusat ekonomi di kota, melainkan menciptakan ekosistem ekonomiyang mandiri di wilayahnya sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menekanurbanisasi serta mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah.Lebih jauh, Koperasi Merah Putih juga dirancang sebagai solusi terhadap persoalan klasik yang dihadapi petani dan nelayan, yakni keterbatasan akses pasar dan pembiayaan. Dengan adanyalayanan simpan pinjam, distribusi pupuk, hingga fasilitas penyimpanan seperti cold storage, koperasi dapat menjadi tulang punggung bagi sektor produktif di desa. Hal ini sejalan denganupaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, yang sangatbergantung pada optimalisasi potensi daerah.Namun demikian, skala besar program ini juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil. Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengingatkan bahwa keberhasilan koperasi sangatditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini