Mantap, Cina Sekarang Lebih Kaya dari AS!

Baca Juga

MATA INDONESIA, BEIJING – Cina berhasil mengalahkan Amerika Serikat (AS) sebagai ekonomi terbesar di dunia berdasarkan produk domestik bruto (PDB) pada akhir 2020. Data ini berdasarkan pada proyek ekonom Barat, Bank Dunia, Dana Moneter Internasional (IMF), serta bank investasi global utama.

Berdasarkan data tersebut, PDB Cina diperkirakan akan mencapai 15,6 triliun USD tahun 2021, dibandingkan dengan 23,2 triliun USD untuk Paman Sam. Angka tersebut dipastikan akan terlampaui dalam waktu kurang dari dua tahun.

“China telah melampaui Amerika Serikat untuk menjadi satu-satunya negara terkaya di dunia dalam hal total kekayaan bersih,” demikian pernyataan McKinsey & Company, sebuah perusahaan konsultan manajemen global, melansir News Fox 24, Rabu, 17 November 2021.

Dalam laporan yang dirilis pada Senin (16/11), McKinsey menghitung bahwa Beijing menyumbang hampir sepertiga dari total pertumbuhan global selama 20 tahun terakhir. Nominal tersebut meningkat lebih dari 110 triliun USD dari titik awalnya tahun 2000 yang hanya memperoleh 7 triliun USD.

Laporan tersebut – yang mengukur kekayaan bersih 10 negara yang menyumbang lebih dari 60 persen dari PDB global, menghitung AS membukukan laba bersih lebih kecil, tetapi juga mengesankan, yakni sebesar 45 triliun USD, dua kali lipat angka yang dirilis tahun 2000.

Sesuai dengan laporan, sekitar 68 persen dari kekayaan bersih kedua negara didasarkan pada sektor real estat ketika harga telah meroket secara substansial di sebagian besar dunia selama 20 tahun terakhir.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Employment from the Village: Koperasi Merah Putih dan Ekonomi Kerakyatan

Oleh : Pratama Dika SaputraGagasan membangun ekonomi nasional dari desa kembali menemukan momentumnya melalui program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah. Dalam konteks ketimpanganpembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah, pendekatan berbasis desa menjadi strategi yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak. Desa bukan lagi dipandang sebagai objek pembangunan semata, melainkan sebagai subjek utama yang memiliki potensi besar dalammenciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendorong kemandirian nasional. Program Koperasi Merah Putih menjadi representasi nyata dari upaya tersebut, denganorientasi pada penciptaan employment from the village yang berbasis ekonomi kerakyatan.Target ambisius pemerintah untuk membangun lebih dari 25 ribu koperasi dalam waktu singkatmencerminkan keseriusan dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Presiden Prabowo Subianto menilai bahwa koperasi harus menjadi institusi ekonomi yang nyata, bukan sekadar formalitas administratif. Oleh karena itu, koperasi dirancang memiliki fasilitaslengkap seperti gudang, alat pendingin, hingga kendaraan distribusi agar mampu beroperasisecara efektif dan efisien. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokuspada kuantitas, tetapi juga kualitas kelembagaan yang mampu menjawab kebutuhan riilmasyarakat desa.Kehadiran koperasi sebagai agregator ekonomi desa memiliki implikasi besar terhadappenciptaan lapangan kerja. Dengan memotong rantai distribusi yang panjang, koperasi dapatmeningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus membuka peluang kerja baru di sektorlogistik, pengolahan, hingga pemasaran. Model ini memungkinkan masyarakat desa untuk tidaklagi bergantung pada pusat-pusat ekonomi di kota, melainkan menciptakan ekosistem ekonomiyang mandiri di wilayahnya sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menekanurbanisasi serta mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah.Lebih jauh, Koperasi Merah Putih juga dirancang sebagai solusi terhadap persoalan klasik yang dihadapi petani dan nelayan, yakni keterbatasan akses pasar dan pembiayaan. Dengan adanyalayanan simpan pinjam, distribusi pupuk, hingga fasilitas penyimpanan seperti cold storage, koperasi dapat menjadi tulang punggung bagi sektor produktif di desa. Hal ini sejalan denganupaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, yang sangatbergantung pada optimalisasi potensi daerah.Namun demikian, skala besar program ini juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil. Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengingatkan bahwa keberhasilan koperasi sangatditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini