Kebakaran di Muara Baru Sebabkan Kerugian Mencapai Rp 23 M

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Dampak kerugian akibat kebakaran yang terjadi di Pelabuhan Muara Baru, Jakarta Utara diperkirakan mencapai total Rp 23 miliar.

Hal ini disampaikan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono usai pihaknya memeriksa 20 pemilik kapal dari 34 kapal yang terbakar saat insiden terjadi.

“Masih ada 14 kapal lagi yang belum diperiksa,” kata Kombes Argo di Jakarta, Sabtu 2 Maret 2019.

Argo menjelaskan, kebakaran bersumber dari KM Arta Mina Jaya yang disebabkan percikan terak las mengenai fiber glass dan barang yan mudah terbakar.

Saat terbakar, tali pengikat kapal putus, sehingga KM Arta Mina Jaya yang sudah terbakar bergerak mengikuti gelombang air dan api menjalar ke puluhan kapal lainnya.

Kebakaran di Pelabuhan Muara Baru terjadi pada Sabtu 23 Februari 2019 sore sekitar pukul 15.19 WIB. Api baru berhasil dijinakkan pada Minggu 24 Februari 2019 subuh pukul 05.14 WIB.

Saat ini, polisi sudah menetapkan tiga orang sebagai tersangka dalam indisen tersebut.

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini