Dosen Universitas Negeri Medan Nilai Kebijakan Otsus Tepat untuk Kesejahteraan Papua

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Dosen Universitas Negeri Medan (UNM) Dr Rosmaida Sinaga mengungkapkan sejumlah alasan mengapa pemerintah memberikan perhatian yang besar kepada wilayah Papua. Salah satu alasannya karena kondisi Papua sangat berbeda dengan daerah lain di Indonesia.

“Sehingga dalam hal pembangunan mendapatkan perhatian lebih dari Pemerintah,” ujarnya, Kamis 1 Juli 2021.

Rosmaida juga mengapresiasi kebijakan Otonomi Khusus (otsus) yang digalakan pemerintah untuk Papua dan Papua Barat sejak 2001 silam. Ia mengatakan bahwa sejak ada otsus pembangunan dan pendidikan di Papua mulai berkembang.

Hal ini diungkapkannya berdasarkan pengalaman pribadinya sebagai tenaga pendidik selama 25 tahun di Papua. Rosmaida yang mulai mengajar di Papua sejak 1992 itu menjelaskan bahwa pada waktu itu tidak ada SD Inpres yang sebagus dengan yang ada di Pulau Jawa.

“Pertanyaannya apa yang salah dengan kebijakan Papua?” katanya.

Rosmaida yang juga sempat menjadi dosen di Universitas Cenderawasih (Uncen) mengungkapkan bahwa ia kerap menjumpai guru di pedalaman masih menggunakan kurikulum lama, padahal seharusnya sudah memakai K-13.

Rosmaida mengakui saat itu kondisi Papua dan Pulau Jawa sangat jauh berbeda. “Pembangunan yang kita rasakan itu baru terasa setelah Otsus Papua atau 2001. Sebelumya jauh harapan,” ujarnya.

Ia pun berharap agar ke depan pola pendidikan di Papua perlu dirubah. Ia menyarankan metode pendidikan berasrama. Hal ini dinilai cukup membantu menghasilkan kualitas pendidikan.

“Pasalnya, anak-anak yang tempat tinggalnya jauh bisa belajar dengan penuh di asrama. Sebagai contoh tokoh nasional dari Papua juga berasal dari pendidikan asrama seperti Fredy Numberi,” katanya.

Ia pun yakin jika pembangunan dan pendidikan diperbaiki, maka kesejahteraan di Papua akan naik. Pendidikan sampai ke jenjang lebih tinggi akan membuat Papua mampu bersaing dengan daerah lain dan akan terlihat kesetaraan antara rakyat Papua dan daerah lainnya.

“Nasionalisme juga akan berkembang apabila mereka merasa bagian dari NKRI. Untuk itu, kebijakan perlu diperbaiki dengan meningkatkan kesejahteraan,” ujarnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini