Menlu AS: Waktunya Pasukan NATO Tinggalkan Afghanistan

Baca Juga

MATA INDONESIA, BRUSSEL – Usai Amerika Serikat (AS) dan Inggris, giliran Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang berencana menarik pasukannya di Afghanistan. Setidaknya, sekitar 7,000 koalisi pasukan pimpinan NATO saat ini berada di negara yang terkurung daratan yang terletak di Asia Selatan dan Asia Tengah tersebut.

Sama seperti Negeri Ratu Elizabeth, NATO juga masih mengandalkan dukungan udara, perencanaan, dan kepemimpinan Paman Sam untuk misi pelatihan mereka di Afghanistan.

Menteri Luar Negeri dan Pertahanan NATO rencananya akan membahas masalah ini pada pertemuan video, yang akan dipimpin oleh Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg bersama dengan Menteri Pertahanan AS, Llyod Austin, dan Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken yang hadir di markas besar aliansi militer di Brussel.

Menlu AS, Antony Blinken mengatakan bahwa sudah waktunya bagi sekutu NATO untuk menarik pasukan di Afghanistan. Blinken juga memastikan bahwa AS akan bekerja sama dengan NATO untuk penarikan pasukan.

“Saya di sini untuk bekerja sama dengan sekutu kami, dengan sekretaris jenderal (NATO), dengan prinsip yang telah kami tetapkan sejak awal: Bersama, beradaptasi bersama dan keluar bersama,” kata Blinken dalam pernyataan yang disiarkan televisi di markas NATO, melansir Reuters, Rabu, 14 April 2021.

“Kami akan bekerja sangat erat dalam beberapa bulan mendatang untuk penarikan pasukan kami yang aman dan terkoordinasi dari Afghanistan,” kata Blinken yang berdiri di samping Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg.

Sebelumnya, Presiden Joe Biden berencana menarik 2,500 pasukan Amerika Serikat (AS) yang tersisa di bumi Afghanistan pada 11 September 2021 atau tepat 20 tahun pasca-serangan Al-Qaeda yang memicu perang terpanjang di AS.

Keputusan Presiden Biden melewati tenggat waktu yang sebelumnya direncanakan, yakni pada 1 Mei –seperti yang disetujui mantan Presiden Donald Trump dan Taliban tahun lalu.  Sebelumnya, Presiden Biden mengatakan, tenggat waktu tersebut sulit dicapai.

Para pemberontak Taliban mengancam akan melanjutkan serangan terhadap pasukan asing jika tenggat waktu itu terlewat. Tetapi Presiden Biden masih akan menetapkan tanggal penarikan jangka pendek, yang berpotensi meredakan kekhawatiran Taliban.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Revitalisasi Irigasi Daerah Percepat Terwujudnya Swasembada Pangan Nasional

Oleh: Kevin Purba )*Pemerintah terus memperkuat fondasi ketahanan pangan nasional melaluipercepatan pembangunan dan revitalisasi jaringan irigasi di berbagaidaerah. Langkah tersebut menjadi bagian penting dari strategi besarmewujudkan swasembada pangan yang berkelanjutan sekaligusmemastikan sektor pertanian mampu tumbuh lebih produktif dan kompetitif. Di tengah meningkatnya kebutuhan pangan dan tantanganperubahan iklim, keberadaan sistem irigasi yang andal menjadi faktorutama dalam menjaga kesinambungan produksi pertanian nasional.Selain pembangunan infrastruktur dasar lainnya, penanganan irigasidaerah menjadi salah satu fokus utama pemerintah karena memilikidampak langsung terhadap produktivitas lahan pertanian dan kesejahteraan petani. Melalui perbaikan jaringan pengairan, pemerintahberupaya memastikan setiap lahan pertanian memperoleh akses air yang memadai sepanjang musim tanam.Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menegaskan bahwapercepatan pelaksanaan program prioritas Presiden terus dikawal secaraketat. Menurutnya, pemerintah tidak hanya berfokus pada penyelesaianproyek secara cepat, tetapi juga memastikan mutu pekerjaan, ketepatansasaran, serta akuntabilitas pelaksanaannya. Salah satu capaian penting yang menunjukkan keseriusan pemerintahterlihat pada program penanganan irigasi daerah. Program tersebutditargetkan menjangkau jaringan irigasi yang melayani area pertanianseluas 19.760 hektare. Hingga akhir Mei 2026, progres fisikpelaksanaannya telah mencapai 82,73 persen, menunjukkan bahwarevitalisasi infrastruktur pengairan berjalan sesuai arah yang telahditetapkan.Kemajuan tersebut menjadi indikator positif bahwa pemerintahmenempatkan sektor pertanian sebagai prioritas pembangunan nasional. Keberadaan jaringan irigasi yang lebih baik akan meningkatkanketersediaan air bagi petani sehingga aktivitas budidaya dapatberlangsung secara lebih optimal. Keberhasilan percepatan program pembangunan infrastruktur tercerminpula dari realisasi anggaran Kementerian Pekerjaan Umum yang menunjukkan tren positif. Hingga akhir Mei 2026, realisasi anggaran telahmencapai Rp33,49 triliun atau 31,39 persen dari total pagu yang tersedia. Sementara itu, progres fisik mencapai 35,71 persen, lebih tinggidibandingkan capaian pada periode yang sama dalam dua tahunsebelumnya.Dukungan terhadap langkah pemerintah juga datang dari DPR RI. KetuaKomisi V DPR RI, Lasarus, memberikan apresiasi terhadap kinerjaKementerian Pekerjaan Umum dalam menjalankan berbagai program strategis. Menurutnya, percepatan pelaksanaan pembangunan perlu terusdilakukan agar target pembangunan nasional dapat tercapai secaraoptimal dan manfaatnya dirasakan secara luas oleh masyarakat.Lasarus menilai pentingnya memperkuat sinergi antara pemerintah dan DPR dalam memastikan program prioritas Presiden berjalan efektif. Kolaborasi yang baik antara seluruh pemangku kepentingan diyakini akanmempercepat pencapaian berbagai target pembangunan, termasuk dalambidang ketahanan pangan yang saat ini menjadi salah satu fokus utamapemerintah.Upaya memperkuat irigasi juga dilakukan oleh pemerintah daerah. Di Provinsi Bengkulu, percepatan penyelesaian persoalan irigasi menjadiperhatian utama dalam mendukung Program Cetak Sawah Rakyat...
- Advertisement -

Baca berita yang ini