Moeldoko: Idul Fitri Jadi Momen Menyatukan Kembali Kubu 01 dan 02

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA-Momen Hari Raya Idul Fitri 1440 H diharapkan menjadi momen untuk menyatukan kembali kubu 01 dan 02. Hal itu disampaikan oleh Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko.

“Kita masih punya satu hal yang kita harus selesaikan. Dimana persoalan realita sosial ini masih pekerjaan kita, tapi InsyaAllah dengan Idul Fitri ini kita bisa menyatukan kembali, kita ingin menyatukan kembali,” kata Moeldoko di Istana Negara, Jakarta, Rabu 5 Juni 2019.

Untuk itu Moeldoko meminta masyarakat untuk memanfaatkan dengan sebaik-baiknya momentum lebaran kali ini. “Kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya menuju kepada soliditas dan kohesifitas sosial. Itu makna lebaran yang ingin saya sampaikan,” katanya.

Selain itu, Moeldoko juga menyampaikan rasa syukurnya bahwa pada Idul Fitri kali ini masyarakat dapat mudik ke kampung halaman dengan lancar. Selain itu harga-harga bahan pokok jelang hari raya Idul Fitri dikatakannya cukup stabil.

“Idul Fitri ini kita semuanya, masyarakat sangat happy ya, semua berjalan lancar, perjalanan darat, udara, maupun laut,” katanya.

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini