AS Desak Cina Turun Tangan Atasi Gejolak di Myanmar

Baca Juga

MATA INDONESIA, WASHINGTON – Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) mendesak Cina untuk menggunakan pengaruhnya demi menekan kebiadaban junta militer terhadap para pengunjuk rasa anti-kudeta.

AS menambahkan bahwa kekerasan yang terjadi di Myanmar sama sekali bukan untuk kepentingan Beijing. Oleh karena itu, AS meminta Negeri Tirai Bambu untuk mengambil sikap tegas terhadap junta militer.

Myanmar –negara yang berbatasan dengan India dan Bangladesh, berada dalam kekacauan sejak junta militer mengambil alih kekuasaan pada 1 Februari dan menangkap pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi beserta sejumlah pejabat Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD).

Berdasarkan laporan Kelompok Advokasi Asosiasi Bantuan untuk Narapidana Politik atau Assistance Association for Political Prisoners (AAPP), lebih dari 512 warga sipil merenggang nyawa di tangan aparat keamanan Myanmar dalam protes terhadap kudeta dan menuntut Aung San Suu Kyi dibebaskan.

“Kami, tentu saja, terus meminta Cina untuk menggunakan pengaruhnya dan meminta pertanggungjawaban mereka yang bertanggung jawab atas kudeta militer ini,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Ned Price, melansir Reuters, Kamis, 1 April 2021.

“Apa yang dilakukan junta di Burma (Myanmar) bukanlah untuk kepentingan Amerika Serikat. Ini bukan untuk kepentingan mitra dan sekutu kami, dan bukan pula untuk kepentingan Beijing,” sambungnya.

Hubungan Cina dan Myanmar selama ini cukup mesra, terutama dalam hal ekonomi. Beijing melihat Myanmar sebagai mitra strategis untuk kepentingan mereka memperluas pengaruh ekonomi dalam program Gagasan Jalan Sabuk.

Ketika banyak negara di dunia mengutuk tindakan biadab junta militer, Cina justru lebih berhati-hati dengan menekankan pentingnya stabilitas. Beberapa kali protes terhadap kudeta terjadi di luar Kedutaan Besar Cina di kota Yangon dengan ratusan pengunjuk rasa menuduh Cina mendukung junta militer Myanmar.

Namun, negara yang dipimpin oleh Presiden Xi Jinping itu menepis rumor mengenai keterlibatan Cina dalam kudeta di Myanmar sebagai sebuah omong kosong. Meski begitu, Cina kerap menjadi sasaran para pengunjuk rasa, terbukti dengan pembakaran di sejumlah pabrik garmen milik Cina di pinggiran kota Yangon, Hlaing Thaya (14/3).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Bonus Hari Raya Ojol, Kesejahteraan Bagi Gig Worker

Oleh: Alexander Royce*) Transformasi ekonomi digital Indonesia dalam satu dekade terakhir telah melahirkan jutaanpekerja sektor informal berbasis aplikasi atau gig worker. Di antara mereka, pengemudi ojek online (ojol) menjadi tulang punggung mobilitas dan distribusi barang, terutama di momen-momen krusial seperti Ramadan dan Idulfitri. Tahun ini, kabar mengenai pencairan Bonus Hari Raya (BHR) bagi para pengemudi ojol menjadi angin segar yang tidak hanya berdampak pada kesejahteraan pekerja, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi nasional. Langkah pemerintah memastikan kembali pemberian Bonus Hari Raya bagi pengemuditransportasi daring menunjukkan keberpihakan yang nyata terhadap pekerja sektor informal digital. Kebijakan ini relevan dengan situasi terkini, di mana daya beli masyarakat menjadi salah satu kunci menjaga stabilitas ekonomi menjelang Lebaran 2026. Dengan lebih dari 850 ribupengemudi yang dipastikan menerima bonus tahun ini, dampaknya tidak bisa dipandang sebelahmata. Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, memastikan bahwa para pengemudi ojol kembalimendapatkan Bonus Hari...
- Advertisement -

Baca berita yang ini