Polemik Pakta Nuklir Iran 2015, antara Washinton dan Teheran

Baca Juga

MATA INDONESIA, WASHINGTON – Seorang pejabat Amerika Serikat (AS) mengungkapkan, siapa yang akan mengambil langkah pertama untuk melanjutkan kepatuhan dalam Pakta Nuklir Iran 2015 bukanlah masalah bagi Paman Sam.

“Bukan itu masalahnya, siapa yang duluan (akan mengambil langkah),” kata pejabat AS tanpa menyebutkan nama, melansir Reuters, Sabtu, 27 Maret 2021.

“Misalnya, kita akan pergi jam 8 malam dan mereka akan pergi jam 10, atau sebaliknya. Bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah apakah kita setuju mengenai langkah apa yang akan diambil bersama,” sambungnya.

Pemerintahan Presiden Joe Biden berusaha melibatkan Iran dalam dialog kedua negara mengenai Pakta Nuklir Iran 2015. AS bahkan siap mencabut sanksi ekonomi terhadap Teheran sebagai imbalan untuk pembatasan program nuklir dan mempersulit pengembangan senjata nuklir Iran.

AS dan Iran bahkan belum menemui kata sepakat untuk bertemu dan menghidupkan kembali kesepakatan. Peluang kedua negara memperbaiki hubungan justru menyusut setelah Teheran memilih untuk mengambil sikap yang lebih keras.

Dalam pidatonya belum lama ini, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei menegaskan bahwa Washington harus mengurangi sanksi sebelum Teheran melanjutkan kepatuhan Pakta Nuklir.

Seorang ahli nonproliferasi di  lembaga pemikir Brookings Institutions, Robert Einhorn tidak memahami mengenai artikel Urusan Luar Negeri Biden yang berarti Iran harus mengambil langkah lebih dulu.

“Beberapa formulasi lain yang telah digunakan pejabat administrasi – seperti ‘AS akan kembali mematuhi jika Iran melakukan hal yang sama’, tampak cukup netral dalam urutannya dan tidak menyarankan kepada saya bahwa Iran harus mengambil langkah lebih dulu,” kata Einhorn.

Ketegangan antara Teheran dan Washington meningkat sejak 2018, ketika Presiden Donald Trump memutuskan keluar dari Pakta Nuklir Iran. Washington menerapkan kembali sanksi yang telah melumpuhkan ekonomi Iran.

Sejak Washington menarik diri dari kesepakatan itu, Iran secara bertahap telah melanggar batas-batas utamanya, membangun persediaan uranium yang diperkaya rendah, memperkaya uranium ke tingkat kemurnian yang lebih tinggi, dan memasang sentrifugal dengan cara yang dilarang oleh kesepakatan tersebut.

Teheran telah berulang kali mengatakan dapat dengan cepat menghentikan pelanggaran tersebut, asalkan Paman Sam mencabut sanksi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

MBG sebagai Pilar Strategis Mewujudkan Generasi Emas Indonesia

Oleh: Dewi Puteri Lestari* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan langkah visioner yang menegaskan keberpihakan negara terhadap masa depan generasi muda. Kebijakan ini tidak dapat dipandang secarasempit sebagai program distribusi makanan semata, melainkan sebagai strategi besar pembangunan sumber daya manusia yang dirancang secara sistematis, terukur, dan berorientasi jangka panjang. Dalam konteks persaingan global yang semakin kompetitif, kualitas manusia menjadi faktor penentu daya saing bangsa. Karena itu, intervensi negara pada aspek gizi anak sekolah merupakan keputusanstrategis yang mencerminkan kepemimpinan yang berpandangan jauh ke depan. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa MBG tidak mengurangiprogram maupun anggaran pendidikan. Anggaran pendidikan tetap berada pada porsi 20 persen APBN dengan nilai Rp 769,1 triliun, sesuai amanat konstitusi. Seluruh program pendidikan tetap berjalan sebagaimana mestinya dan bahkanmengalami penguatan. Penegasan ini menunjukkan bahwa pemerintah bekerjadengan perencanaan fiskal yang matang, berbasis data, serta melalui koordinasiintensif dengan DPR. Dengan fondasi anggaran yang kokoh dan legitimasi politikyang kuat, MBG hadir sebagai penguat ekosistem pendidikan nasional. Dukungan parlemen terhadap MBG juga memperlihatkan kesadaran kolektif bahwainvestasi pada generasi muda harus ditempatkan sebagai prioritas utama. KetuaBadan Anggaran DPR RI...
- Advertisement -

Baca berita yang ini