Uni Eropa Berencana Embargo Vaksin AstraZeneca

Baca Juga

MATA INDONESIA, BRUSSELS – Presiden Komisi Uni Eropa, Ursula von der Leyen kecewa dengan perusahaan vaksin asal Inggris, AstraZeneca. Hal ini dikarenakan kurangnya pengiriman vaksin COVID-19, padahal gelombang infeksi ketiga tengah melonjak di seluruh penjuru Eropa.

Ursula von der Leyen pun memberi peringatakan keras kepada pihak AstraZeneca dan meminta perusahaan tersebut untuk bertanggung jawab dengan menaati kaidah yang telah disepakati.

“Perusahaan harus mengejar ketertinggalan, harus menghormati kontrak yang dimilikinya dengan negara-negara anggota Eropa, sebelum dapat terlibat lagi dalam mengekspor vaksin,” tegas Ursula von der Leyen, melansir Reuters, Jumat, 26 Maret 2021.

Sang Presiden Komisi Uni Eropa juga berusaha untuk melawan tuduhan bahwa ancaman ekspor UE adalah bentuk nasionalisme vaksin dan mengatakan bahwa Uni Eropa akan mencapai target, sebanyak 70 persen orang yang diinokulasi pada musim panas ini.

Sebanyak 300 juta dosis akan dikirim ke seluruh negara-negara anggota Uni Eropa pada akhir Juni, di mana AstraZeneca telah menargetkan 100 juta vaksin COVID-19.

Senada dengan Presiden Komisi Uni Eropa, Presiden Prancis, Emmanuel Macron menegaskan dukungannya dan menyerukan embargo terhadap AstraZeneca.

“Ini akhir dari kenaifan. Saya mendukung fakta bahwa kita harus memblokir semua ekspor, selama sejumlah perusahaan obat tidak menghormati komitmen mereka dengan Uni Eropa,” tegas Emmanuel Macron.

Selain daripada itu, AstraZeneca juga tengah menjadi polemik, setelah ditemukan 18 laporan pembekuan darah yang sangat langka di otak yang terjadi pada orang setelah beberapa hari menerima vaksin buatan Inggris tersebut.

Keyakinan akan keamanan vaksin COVID-19 buatan AstraZeneca ini pun mendapat pukulan besar di Spanyol, Jerman, Prancis, dan Italia karena laporan pembekuan darah langka. Hal ini membuat banyak negara sempat berhenti menggunakannya, data jajak pendapat menunjukkan pada Senin (22/3).

Perusahaan jajak pendapat YouGov melaporkan bahwa orang Eropa skeptis tentang vaksin AstraZeneca daripada tentang vaksin dari Pfizer Inc / BioNTech dan Moderna Inc. Masalah pembekuan tersebut juga semakin merusak persepsi publik tentang keamanan vaksin buatan Inggris ini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Flu Singapura Tak Ditemukan di Bantul, Dinkes Tetap Waspadai Gejala yang Muncul

Mata Indonesia, Bantul - Dinkes Kabupaten Bantul menyatakan bahwa hingga akhir April 2024 kemarin, belum terdapat kasus flu Singapura yang teridentifikasi. Namun, Dinkes Bantul tetap mengimbau masyarakat untuk tetap waspada. "Kami belum menerima laporan terkait kasus flu Singapura di Bantul. Kami berharap tidak ada," ujar Agus Tri Widiyantara, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul, Sabtu 4 Mei 2024.
- Advertisement -

Baca berita yang ini