Siap-siap, 3 Pintu Air di Jakarta Statusnya Siaga 1

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – DKI Jakarta diguyur hujan sejak Jumat malam 19 Februari hingga Sabtu pagi 20 Februari 2021. Berdasarkan laporan data dari Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta pada Sabtu pukul 07.00 WIB, ada 3 pintu air yang berstatus siaga 1.

Di antaranya pintu air Sunter Hulu, Angke Hulu dan Karet.

Dari tiga pintu air ini, tinggi muka air di pintu air Sunter Hulu dilaporkan sudah mencapai 300 cm, dengan kondisi cuaca mendung.

Sementara tinggi muka air di pintu air Angke Hulu mencapai 350 cm, dan pada pintu air Karet setinggi 630 cm.

Selain itu, tinggi muka air di pintu air Manggarai dilaporkan berstatus siaga 2 dengan ketinggian 865 cm.

Sisanya seperti pintu air Pesanggrahan, Pasar Ikan, PA Marina, dan Cipinang Hulu berstatus siaga 3 dengan ketinggian muka air antara 170 – 200 cm.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini