Polri Mulai Periksa Tersangka Rusuh 22 Mei yang Khusus Terafiliasi dengan ISIS

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Pasca kerusuhan 21 hingga 22 Mei lalu, Polisi saat ini tengah fokus memeriksa sekitar 41 orang pelaku ricuh yang diduga terafiliasi dengan kelompok teroris internasional, ISIS.

Kuat dugaan, ISIS telah menunggangi aksi massa tersebut, sehingga dari yang awalnya berlangsung damai, lalu menjadi kericuhan besar di sekitar Kantor Bawaslu RI.

“Sampai saat ini mereka masih dimintai keterangan aparat,” kaa Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo, baru-baru ini.

Sebelumnya, Polri sampai menerjunkan Densus 88 untuk upaya pencegahan agar pelaku teror tidak memanfaatkan momentum aksi damai menjadi kerusuhan yang besar.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen M Iqbal sebelumnya berkata telah mendaat informasi adanya dugaan terorisme dari hasil penangkapan terhadap dua tersangka warga luar Jakarta.

Kedua orang itu diketahui adalah anggota Gerakan Reformis Islam (Garis) yang pernah menyatakan sebagai pendukung ISIS. Bahkan, dari keterangan yang berhasil digali kepolisian, kedua tersangka itu mengaku berniat melakukan gerakan jihad dalam aksi tersebut.

Polri juga menemukan dan menyita sebuah ambulans milik kelompok Garis yang ditemukan terparkir di belakang Kantor Bawaslu RI, Jakarta, pada Rabu, 22 Mei 2019.

Ambulans itu diketahui berisi uang dan sejumlah busur panah dan bambu runcing. Namun, pihaknya tidak menyebut nominal uang yang disita dari ambulans tersebut. Sebelumnya, Polri melalui Densus 88 menangkap 31 terduga teroris selama bulan Mei 2019.

Total keseluruhan terduga teroris yang ditangkap sejak Januari 2019 sebanyak 70 tersangka. Teroris tersebut berasal dari jaringan yang berbeda, di antaranya yaitu Mujahidin Indonesia Timur, Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Lampung, JAD Bekasi, JAD Jawa Tengah, JAD Sibolga, dan jaringan Fikih Abu Hamzah.

Semua jaringan itu memiliki satu target yang sama, yaitu meledakkan bom di depan Gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 22 Mei 2019.

Berita Terbaru

MBG sebagai Pilar Strategis Mewujudkan Generasi Emas Indonesia

Oleh: Dewi Puteri Lestari* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan langkah visioner yang menegaskan keberpihakan negara terhadap masa depan generasi muda. Kebijakan ini tidak dapat dipandang secarasempit sebagai program distribusi makanan semata, melainkan sebagai strategi besar pembangunan sumber daya manusia yang dirancang secara sistematis, terukur, dan berorientasi jangka panjang. Dalam konteks persaingan global yang semakin kompetitif, kualitas manusia menjadi faktor penentu daya saing bangsa. Karena itu, intervensi negara pada aspek gizi anak sekolah merupakan keputusanstrategis yang mencerminkan kepemimpinan yang berpandangan jauh ke depan. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa MBG tidak mengurangiprogram maupun anggaran pendidikan. Anggaran pendidikan tetap berada pada porsi 20 persen APBN dengan nilai Rp 769,1 triliun, sesuai amanat konstitusi. Seluruh program pendidikan tetap berjalan sebagaimana mestinya dan bahkanmengalami penguatan. Penegasan ini menunjukkan bahwa pemerintah bekerjadengan perencanaan fiskal yang matang, berbasis data, serta melalui koordinasiintensif dengan DPR. Dengan fondasi anggaran yang kokoh dan legitimasi politikyang kuat, MBG hadir sebagai penguat ekosistem pendidikan nasional. Dukungan parlemen terhadap MBG juga memperlihatkan kesadaran kolektif bahwainvestasi pada generasi muda harus ditempatkan sebagai prioritas utama. KetuaBadan Anggaran DPR RI...
- Advertisement -

Baca berita yang ini