Musim Hujan Datang, BMKG: 3 Hal Ini yang Wajib Diwaspadai DKI Jakarta

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA-Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap tiga hal yang harus diwaspadai oleh wilayah DKI Jakarta ketika musim hujan datang.

Pertama yaitu hujan terjadi di atas Jakarta atau hujan lokal. “Ini seperti 1 Januari 2020 kemarin, karena 377 mm terjadi di Halim,” ujar Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG, A. Fachri Rajab.

Selanjutnya, hujan di hulu. Fachri menjelaskan, jika hujan terjadi di daerah Gunung Gede Pangrango dan Salak, Jawa Barat. Selain itu, Jakarta juga harus mewaspadai kondisi air laut kala pasang.

“Paling bahaya tiga-tiga terjadi pada waktu yang sama, dan itu mungkin terjadi mungkin terjadi tahun ini. Itu mungkin untuk Jakarta yang mungkin kita pantau terus, walaupun katakanlah hujan di Jakarta tidak lebat tapi kalau di hulu lebat pasti banjir,” katanya.

Menurutnya, musim hujan ini dikarenakan adanya fenomena La Nina berdampak pada intensitas curah hujan yang meningkat. Sebab itu, dia mengimbau agar wilayah Jabodetabek tetap waspada pada cuaca yang akan diprediksi berlangsung hingga Februari 2021.

“Jabodetabek juga perlu jadi kewaspadaan kita, karena memang kondisi La Nina ini menyebabkan potensi curah hujannya lebih banyak dari 20-40 persen,” katanya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini