Stop Jadi Penonton, Noor Misuarie Ajak Pemuda Bongkar Paradoks Pembangunan di Sumpah Pemuda

Baca Juga

Mata Indonesia, Yogyakarta – Menyongsong momentum Hari Sumpah Pemuda 2026, Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Noor Misuarie Erbachan, menyerukan panggilan moral bagi generasi muda.

Ia mengajak kaum intelektual muda untuk melakukan refleksi mendalam guna merespons berbagai kompleksitas persoalan bangsa, mulai dari tekanan ekonomi, isu kemanusiaan, hingga krisis ekologi dan bencana alam.

Di tengah dinamika zaman, Noor Misuarie menegaskan bahwa pemuda tidak boleh mengambil posisi aman sebagai penonton.

Sebaliknya, kepekaan sosial, keberanian moral untuk mengkritisi kebijakan, serta peran aktif dalam merumuskan solusi konkret adalah harga mati yang harus dibayar oleh setiap generasi muda demi masa depan bangsa.

“Refleksi pemuda tahun 2026 bukan sekadar berbicara tentang prestasi dan masa depan generasi muda. Kita juga harus berani melihat kenyataan di sekitar kita. Masih ada masyarakat yang berjuang memenuhi kebutuhan hidup, masih ada persoalan kemanusiaan yang membutuhkan perhatian, dan lingkungan kita menghadapi berbagai ancaman. Pemuda tidak boleh kehilangan kepekaan terhadap semua itu,” tegas Noor Misuarie, Rabu 28 Oktober 2026.

Ekonomi Tumbuh, Kesejahteraan Rakyat Tetap Harus Dijamin

Dalam tinjauannya terhadap sektor ekonomi, Noor Misuarie menyoroti paradoks pembangunan yang sering kali terjebak dalam angka-angka statistik tanpa melihat realitas di tingkat akar rumput.

Berdasarkan data resmi, ekonomi Indonesia tercatat tumbuh sebesar 5,29 persen secara tahunan pada triwulan II 2026, dengan tingkat kemiskinan nasional per Maret 2026 berada di angka 8,07 persen atau mencakup sekitar 22,93 juta jiwa.

Sementara itu, dinamika regional di DIY menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang positif sebesar 5,84 persen secara tahunan pada triwulan I 2026. Namun, di sisi lain, catatan tingkat kemiskinan DIY masih berada di angka 10,08 persen per September 2025.

Bagi GPII DIY, angka-angka makro ini menuntut instrospeksi serius mengenai sejauh mana buah pembangunan benar-benar dirasakan oleh kelompok rentan, pekerja informal, serta angkatan kerja muda.

“Angka pertumbuhan ekonomi patut dicermati, tetapi kita juga harus melihat bagaimana kondisi masyarakat di lapangan. Apakah kesempatan kerja semakin terbuka? Apakah anak muda memiliki peluang untuk mandiri secara ekonomi? Apakah masyarakat kecil benar-benar merasakan manfaat pembangunan? Pertanyaan-pertanyaan ini harus menjadi bagian dari refleksi kita,” ujarnya.

Krisis Ekologi: Alam Bukan Objek Eksploitasi

Selain menyoroti ketimpangan ekonomi, Noor Misuarie memberikan peringatan keras atas darurat ekologis yang melanda Indonesia. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tercatat sebanyak 1.730 kejadian bencana melanda berbagai wilayah di Indonesia sejak 1 Januari hingga 7 September 2026. Bencana tersebut didominasi oleh kebakaran hutan dan lahan, banjir, cuaca ekstrem, tanah longsor, hingga kekeringan panjang.

Menurutnya, angka bencana yang masif ini merupakan alarm bahwa model pembangunan yang mengabaikan aspek ekologis harus segera dihentikan. Pemuda didorong untuk berdiri di garis depan dalam mengawal tata kelola lingkungan yang berkelanjutan.

“Alam tidak boleh terus-menerus diperlakukan hanya sebagai objek eksploitasi. Pemuda harus berani menyuarakan pentingnya tata kelola lingkungan yang bertanggung jawab. Ketika alam rusak dan bencana terjadi, masyarakat kecil sering kali ikut menanggung dampaknya. Karena itu, kepedulian lingkungan harus menjadi gerakan nyata, bukan hanya slogan,” kata Noor Misuarie menekankan.

Mengokohkan Solidaritas Kemanusiaan dan Literasi Digital

Panggilan moral ini juga diarahkan pada penguatan solidaritas kemanusiaan.

Noor Misuarie mengingatkan agar idealisme kepemudaan tidak tereduksi menjadi sekadar aktivitas seremonial belaka. Kerja-kerja sosial, pendampingan masyarakat akar rumput, serta keberanian mengawal kebijakan publik harus menjadi manifestasi nyata dari nilai-nilai Sumpah Pemuda.

Di era keterbukaan informasi saat ini, ia turut mengingatkan pentingnya kebijaksanaan dalam bermedia sosial.

Ruang digital harus difungsikan sebagai sarana edukasi, literasi kebangsaan, dan perekat solidaritas sosial, alih-alih dibiarkan menjadi medan penyebaran informasi palsu yang memecah belah persatuan.

Menutup Nurani: Pemuda Sebagai Penentu Arah Bangsa

Menutup pandangannya menjelang Hari Sumpah Pemuda 2026, Noor Misuarie mengingatkan kembali bahwa tantangan terbesar pemuda hari ini bukan sekadar menggapai kesuksesan material pribadi, melainkan menjaga nurani agar tetap peka terhadap penderitaan sesama dan kelestarian bumi pewarisan anak cucu.

“Pemuda harus memiliki keberanian berpikir kritis, kepekaan sosial, dan integritas. Jangan sampai kita sibuk mengejar kesuksesan pribadi, tetapi menutup mata terhadap kesulitan masyarakat. Jangan sampai kita berbicara tentang masa depan, tetapi mengabaikan kerusakan alam yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya,” tegasnya.

Ia berharap momentum Sumpah Pemuda tahun ini menjadi titik balik kebangkitan gerakan intelektual, sosial, and kemanusiaan yang berpihak kepada rakyat.

“Pemuda bukan hanya pewaris masa depan, tetapi juga bagian dari penentu arah bangsa hari ini. Ketika persoalan kemanusiaan, ekonomi, dan lingkungan membutuhkan perhatian, pemuda harus hadir dengan gagasan, keberanian, dan tindakan nyata,” kata Noor.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Sederet Upaya Perkuat Transparansi Pasar Modal demi Kepercayaan Investor

MataIndoonesia, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) terus memperkuat transparansi dan tata kelola pasar...
- Advertisement -

Baca berita yang ini