Topeng Perjuangan dan Air Mata Perempuan Jila

Baca Juga

Oleh: Desius Tabuni

Anak Pegunungan Papua

Hati saya mendidih dan dada ini sesak luar biasa menyaksikan kelakuan biadab gerombolan bersenjata di tanah kelahiran kita sendiri. Selama bertahun-tahun, mereka berkoar-koar menjual narasi suci tentang perjuangan kemerdekaan dan pembelaan hak-hak Orang Asli Papua (OAP). Namun, tragedi berdarah yang menimpa saudara-saudari kita di Distrik Jila, Mimika, membuka topeng kemunafikan mereka selebar-lebarnya. Ini bukan perjuangan bangsa, melainkan aksi kriminalitas biadab dari sekumpulan penjahat bersenjata yang tega menginjak-injak harkat dan martabat tanah leluhur!

Tengoklah apa yang mereka perbuat pada momentum 17 Agustus lalu. Gerombolan faksi John Lokbere dan Prisko Lokbere tidak hanya menyerang pos aparat keamanan, tetapi melampiaskan kebiadaban mereka kepada kaum yang paling lemah: mama-mama dan anak-anak gadis kita. Mereka mendatangi honai perempuan dan mencegat anak-anak perempuan Suku Amungme yang hendak beraktivitas damai di kampungnya sendiri. Sebanyak sembilan anak gadis kita diseret secara paksa. Ketika seorang ibu, Mama Neregingget Magai, berusaha sekuat tenaga melindungi dan menahan anak perempuannya agar tidak dibawa lari, moncong senjata mereka tanpa ampun memuntahkan peluru ke perut sang mama hingga roboh bersimbah darah dan tewas seketika. Jenazahnya diseret layaknya binatang ke semak-semak, sementara seorang warga lainnya yang mencoba mengejar dijatuhkan ke jurang hingga patah kaki.

Di mana letak perikemanusiaan dan nilai adat yang selama ini diagung-agungkan? Adat suku mana di seluruh pelosok Tanah Papua yang menghalalkan membunuh mama-mama tak berdosa dan menculik anak gadis orang dari kampung halamannya?

Fakta membuktikan kebusukan niat mereka. Mereka membawa lari para sandera perempuan ini menembus hutan rimba belantara bukan untuk revolusi, melainkan demi nafsu bejat: merebut perempuan untuk dikawini paksa di bawah todongan laras senjata! Korban Deremina Uamang bahkan baru dilepaskan setelah kelompok itu mengetahui dirinya dalam kondisi hamil dan sudah memiliki suami. Sementara anak-anak gadis yang belum bersuami tetap ditahan dan dijadikan tawanan pelampiasan nafsu. Saudarinya, Yosina Senawatme, meregang nyawa di tengah belantara basah Gunung Bela karena kelelahan dan kelaparan selama 15 hari pelarian yang penuh teror ketakutan.

Lebih menjijikkan lagi, para pengecut ini membungkus kejahatan kemanusiaan tersebut dengan video propaganda murahan. Mereka mendudukkan anak-anak perempuan kita di bawah todongan senjata di Markas Olunmu, lalu memaksa mereka membaca narasi palsu bahwa mereka “sukarela bergabung dengan perjuangan”. Seluruh keluarga di Timika tahu persis itu adalah dusta besar. Siapa yang percaya anak gadis melarikan diri ke hutan dengan sukarela jika pada awalnya mereka ditarik paksa dari honai dan mama kandungnya ditembak mati di tempat?

Perilaku ini murni perangai bandit liar yang haus legitimasi kekuasaan. Demi mendirikan kodap baru di luar kendali pimpinan mereka sendiri, demi ambisi menguasai pendulangan tambang emas dan rute penyelundupan senjata, mereka rela menumbalkan darah sesama orang Papua. Bahkan sesama kelompok bersenjata pun kini muak dan mengutuk kelakuan kelompok kriminal ini sebagai aksi pemerkosaan tatanan adat dan tindakan terorisme terhadap warga sendiri.

Kepada seluruh masyarakat di Papua Pegunungan, Papua Tengah, dan pesisir: buka mata kalian lebar-lebar! Jangan pernah lagi tertipu oleh propaganda kosong yang mengatasnamakan pembelaan rakyat Papua. Mereka tidak sedang membela kita, mereka sedang memangsa darah dan kehormatan anak-anak perempuan kita sendiri. Sudah saatnya kita bangkit bersuara mengutuk kekejian ini dan menuntut para bajingan bertopeng pejuang itu membebaskan seluruh perempuan Jila tanpa syarat!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Penindakan Komandan OPM di Maybrat Perkuat Stabilitas dan Pembangunan Tanah Papua

Oleh: Yohanes Wandikbo )*Stabilitas keamanan merupakan salah satu fondasi utama bagi keberlanjutan pembangunan di Tanah Papua. Situasi yang aman...
- Advertisement -

Baca berita yang ini