Mata Indonesia, Jakarta – Pemerintah terus memperkuat investasi sebagai salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi nasional. Target realisasi investasi 2027 ditetapkan sebesar Rp2.322 triliun, meningkat 13,8 persen dibandingkan target 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun. Pemerintah juga mengarahkan investasi agar tidak berhenti pada peningkatan modal, tetapi menghasilkan lapangan kerja, memperkuat industri lokal, meningkatkan penerimaan negara, dan menciptakan nilai tambah melalui hilirisasi.
Ekonom Senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai prospek pencapaian target investasi masih terbuka lebar. Menurutnya, realisasi investasi hingga semester I 2026 telah mencapai Rp1.010,6 triliun atau 49,5 persen dari target tahunan.
“Kalau kita berbicara target, memang selama lima hingga delapan tahun terakhir, targetnya selalu tercapai. Kita melihat angkanya tahun 2026, investasi sudah terjadi sebesar Rp1.010 triliun. Artinya itu 49,5 persen dari target, yang menurut saya akhir tahun mendekati lebih 100 persen,” ujarnya.
Capaian tersebut juga menunjukkan peran investasi yang semakin besar terhadap perekonomian. Pada triwulan II 2026, investasi tumbuh 6,87 persen dan menyumbang sekitar 39 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Realisasi semester I juga menyerap 1.448.862 tenaga kerja Indonesia.
Wijayanto menjelaskan investasi dapat memberikan dampak berantai apabila diarahkan ke sektor yang memiliki rantai pasok panjang, padat karya, serta mampu menciptakan nilai tambah.
“Investasi yang mempunyai supply chain panjang, yang menciptakan nilai tambah, lapangan kerja berkualitas, dan penerimaan negara yang tinggi bagi pemerintah,” katanya.
Karena itu, pemerintah perlu terus mendorong investasi yang menggerakkan manufaktur, perikanan, agroindustri, pariwisata, serta UMKM. Investasi di sektor-sektor tersebut dinilai dapat memperkuat ekonomi daerah sekaligus memperluas kesempatan kerja.
Hilirisasi juga menjadi bagian penting dari strategi tersebut. Wijayanto menilai hilirisasi perlu didorong hingga menghasilkan produk jadi.
“Kalau bisa memproduksi mobil dan motor listrik, kemudian akan terus bergerak ke hilir. Dan di situ baru muncul nilai tambah perekonomian negara, pekerjaan berkualitas,” tegasnya.
Data pemerintah menunjukkan investasi hilirisasi pada semester I 2026 mencapai Rp300,1 triliun atau 29,7 persen dari total investasi nasional. Sebanyak 75,7 persen investasi hilirisasi tersebut berada di luar Jawa.
Dengan penguatan hilirisasi, industri lokal, UMKM, pariwisata, serta tata kelola penerimaan negara, investasi diharapkan tidak sekadar mengejar angka realisasi. Pemerintah memiliki ruang untuk memastikan modal yang masuk menghasilkan kapasitas produksi, lapangan kerja berkualitas, dan nilai tambah yang semakin besar bagi perekonomian nasional.

