Perkuat Ketahanan Informasi Nasional Hadapi Ancaman Digital

Baca Juga

Mata Indonesia, Jakarta – Direktur Operasi Keamanan dan Pengendalian Informasi BSSN, Satryo Suryantoro mengatakan ketahanan informasi digital nasional perlu diperkuat agar dapat menghadapi ancaman disinformasi dan rekayasa social berbasis kecerdasan buatan (AI). Hal ini penting dilakukan menyusul meningkatnya ancaman kejahatan siber yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), phishing, hingga rekayasa sosial yang mendorong perlu adanya kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, regulator, dan pelaku industri teknologi.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Operasi Keamanan dan Pengendalian Informasi BSSN, Satryo Suryantoro saat bertemu awak media di Jakarta.

Menurutnya, ketahanan informasi digital nasional harus diperkuat dengan dukungan semua elemen masyarakat sehingga ketahanannya dapat benar – benar menyeluruh dan dapat berhasil.

Ia menambahkan, peningkatan literasi keamanan siber merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa. keberhasilan program literasi tidak dapat dicapai hanya oleh satu lembaga.

“Aksi gerakan nasional 90 hari literasi keamanan siber sebagai bagian dari upaya bersama dalam mendukung implementasi rencana aksi nasional keamanan siber. Keberhasilan literasi keamanan siber tidak dapat diwujudkan oleh satu institusi saja. Diperlukan keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan, baik kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dunia pendidikan, komunitas, dunia usaha, media, maupun masyarakat luas,” jelas Satryo.

Hal senada disampaikan Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Provinsi DKI Jakarta, Marulina Dewi, Ia menilai ancaman siber saat ini telah berkembang melampaui gangguan sistem teknologi semata. Menurutnya, pelaku kejahatan kini semakin sering mengeksploitasi sisi psikologis masyarakat.

“Serangan siber hari ini bukan lagi sekadar soal sistem yang down, melainkan sudah menyasar sisi psikologis manusia melalui social engineering, kebocoran data pribadi, hingga maraknya disinformasi,” kata Marulina.

Sementara itu, dari sisi regulator sektor jasa keuangan, Deputi Direktur Departemen Perlindungan Konsumen OJK sekaligus Sekretariat Satgas PASTI, Daniel Apriandi, mengatakan bahwa rendahnya tingkat literasi digital masih menjadi celah utama yang dimanfaatkan pelaku kejahatan. Kelompok usia produktif menjadi sasaran utama karena aktivitas transaksi digital yang tinggi.

“Kelompok usia 25–49 tahun adalah yang paling produktif sekaligus paling banyak disasar penipu, karena mereka yang paling aktif bertransaksi secara digital. Scam dengan modus phishing dan social engineering terus meningkat, diperparah dengan penggunaan AI dan deep fake yang kini mampu meniru wajah, suara, dan bahasa tubuh korban secara sempurna,” tuturnya.

Dalam forum tersebut, Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI) menyoroti pentingnya edukasi masyarakat mengenai teknologi blockchain dan aset kripto sebagai bagian dari upaya perlindungan konsumen di era digital. Anggota Departemen Advokasi Strategis ABI yang juga Public Policy & Government Relations Manager PINTU, Deny Giovanno, mengatakan pihaknya terus mengembangkan berbagai program literasi guna meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap berbagai modus penipuan digital.

“Untuk memerangi kejahatan siber, kami terus mendorong peningkatan literasi keamanan siber yang dilakukan oleh ABI dan para anggotanya. Salah satunya melalui Bulan Literasi Kripto yang diadakan sejak tahun 2023. BLK adalah kampanye edukasi tahunan berskala nasional di Indonesia yang diinisiasi OJK bersama ABI yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang aset kripto dan teknologi blockchain,” jelas Deny.

Lebih lanjut dikatakannya bahwa berbagai program edukasi tersebut merupakan bagian dari komitmen industri untuk membangun masyarakat yang lebih kritis dan memahami risiko yang muncul dalam aktivitas digital.

“Berbagai inisiatif program literasi dan edukasi yang kami galakkan ini merupakan komitmen bersama kami untuk meningkatkan kritisisme masyarakat Indonesia dalam menghadapi berbagai bentuk penipuan di era digital,” ujarnya.

Ke depan, kami akan memperkuat sinergi dengan regulator, instansi pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan masyarakat dapat memanfaatkan teknologi blockchain dan aset kripto secara aman, bijak, dan bertanggung jawab,” tutup Deny.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Menolak Politisasi Kampus demi Menjaga Marwah Gerakan Mahasiswa

Oleh: Satria Kurniawan )*Gerakan mahasiswa merupakan salah satu pilar penting dalam perjalanandemokrasi Indonesia. Sejak lama, mahasiswa dikenal sebagai kelompokintelektual yang menyuarakan aspirasi masyarakat melalui kajian ilmiah, argumentasi yang kuat, serta sikap kritis terhadap berbagai kebijakanpublik. Karena itu, menjaga independensi gerakan mahasiswa menjadikebutuhan penting agar fungsi kontrol sosial tetap berjalan secara objektifdan bertanggung jawab.Di tengah dinamika politik nasional, muncul berbagai pengingat agar kampus tidak menjadi ruang yang dimanfaatkan untuk kepentingan politikpraktis. Aspirasi mahasiswa dinilai harus tetap lahir dari kepedulianterhadap kepentingan masyarakat, bukan karena dorongan pihak luaryang berpotensi menggeser orientasi perjuangan mahasiswa sebagaikekuatan moral bangsa.Sikap tersebut disampaikan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Bersatu yang secara terbuka menyatakan penolakan terhadap segala bentukpenunggangan gerakan mahasiswa oleh kepentingan politik praktis. Juru Bicara BEM Bersatu, Rahmat Djimbula menilai sejumlah aksimahasiswa belakangan ini mulai kehilangan fokus karena tidak dibangundi atas kajian yang memadai, argumentasi yang kuat, maupun substansituntutan yang jelas. Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengurangikualitas gerakan mahasiswa sebagai ruang intelektual yang selama inidihormati masyarakat.BEM bersatu juga mengingatkan bahwa perhatian mahasiswa sebaiknyadiarahkan pada persoalan yang memiliki dampak langsung terhadapkehidupan masyarakat. Dalam konteks itu, BEM Bersatu memandangProgram Makan Bergizi Gratis sebagai kebijakan yang memberikanmanfaat nyata bagi peningkatan kualitas gizi masyarakat, meskipunpelaksanaannya tetap memerlukan evaluasi agar semakin tepat sasaran, transparan, dan akuntabel.Selain itu, BEM Bersatu menyampaikan adanya dugaan keterlibatan aktorpolitik praktis dalam sejumlah gerakan mahasiswa. Meski demikian, organisasi tersebut juga menyadari bahwa dugaan tersebut tetapmemerlukan proses klarifikasi dan pembuktian sesuai mekanisme yang berlaku sehingga tidak berkembang menjadi kesimpulan yang prematur.Dalam sikap resminya, BEM Bersatu turut menolak narasi krisis yang dinilai tidak didasarkan pada data yang utuh. Organisasi tersebutberpandangan bahwa penyampaian informasi kepada publik harusdilakukan secara proporsional agar perhatian masyarakat tetap terarahpada agenda pembangunan nasional maupun pemberantasan korupsiyang sedang dijalankan pemerintah.Sebagai bentuk komitmennya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini