Danantara dan Jalan Terang Reformasi Korporasi Negara

Baca Juga

Oleh: Aditya Akbar )*

Upaya pemerintah melalui Danantara Indonesia untuk merampingkan struktur badan usaha milik negara (BUMN) merupakan salah satu langkah transformasi korporasi terbesar yang pernah dilakukan Indonesia. Rencana mengurangi jumlah entitas BUMN dari 1.077 perusahaan menjadi sekitar 200 hingga 300 entitas tidak sekadar menyangkut perubahan organisasi, melainkan mencerminkan upaya serius membangun perusahaan negara yang lebih sehat, efisien, dan mampu bersaing dalam lanskap ekonomi yang semakin kompetitif.

Selama bertahun-tahun, struktur BUMN berkembang menjadi sangat kompleks. Di bawah perusahaan induk berdiri berbagai anak usaha, yang kemudian memiliki perusahaan turunan hingga beberapa lapis. Pada satu sisi, pola tersebut lahir dari kebutuhan ekspansi bisnis. Namun dalam praktiknya, struktur yang terlalu gemuk sering kali memunculkan tumpang tindih fungsi, proses birokrasi yang panjang, serta biaya operasional yang tidak sedikit. Akibatnya, sebagian perusahaan justru kehilangan fokus terhadap bisnis inti yang seharusnya menjadi sumber utama penciptaan nilai.

Data yang diungkapkan Danantara menunjukkan bahwa persoalan tersebut bukan sekadar asumsi. Dari total 1.077 entitas yang saat ini berada dalam ekosistem BUMN, sekitar 52 persen tercatat mengalami kerugian. Akumulasi kerugian yang mencapai Rp20 triliun menjadi sinyal bahwa terdapat persoalan struktural yang perlu segera dibenahi. Dalam konteks inilah kebijakan perampingan menjadi relevan dan mendesak.

Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa salah satu sumber inefisiensi berasal dari praktik transaksi berlapis antara perusahaan induk, anak usaha, hingga perusahaan turunan lainnya. Mekanisme tersebut membuat banyak biaya muncul tanpa menghasilkan nilai tambah yang signifikan. Temuan Danantara menunjukkan bahwa inefisiensi akibat pola tersebut mencapai sekitar Rp30 triliun setiap tahun.

Gambaran konkret dapat dilihat pada langkah penggabungan sejumlah entitas di lingkungan Pertamina. Integrasi PT Pertamina Patra Niaga, Kilang Pertamina Internasional, dan Pertamina International Shipping dilakukan karena ketiganya berada dalam rantai bisnis yang saling berkaitan. Dengan menghilangkan berbagai lapisan transaksi internal, perusahaan mampu memangkas biaya yang sebelumnya muncul akibat fragmentasi organisasi. Menurut Dony, langkah tersebut telah menghasilkan penghematan antara 600 juta hingga 700 juta dollar AS.

Temuan serupa juga ditemukan pada kelompok usaha Telkom. Dalam sejumlah proyek pembangunan jaringan serat optik, pekerjaan harus melewati beberapa lapis perusahaan sebelum sampai kepada pelaksana. Setiap lapisan menambah biaya dan memperpanjang proses pengambilan keputusan. Dari sudut pandang bisnis modern, model seperti ini sulit dipertahankan karena mengurangi kelincahan perusahaan dalam merespons kebutuhan pasar.

Di tengah berbagai upaya efisiensi tersebut, aspek yang patut diapresiasi adalah komitmen pemerintah untuk menjaga keberlangsungan tenaga kerja. Salah satu kekhawatiran yang lazim muncul dalam proses restrukturisasi korporasi adalah potensi pemutusan hubungan kerja. Namun Danantara menegaskan bahwa seluruh karyawan akan tetap menjadi bagian dari perusahaan hasil konsolidasi.

Komitmen tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menghendaki transformasi BUMN berjalan tanpa mengorbankan pekerja. Pertimbangan ekonominya pun cukup rasional. Berdasarkan perhitungan Danantara, biaya tenaga kerja dari perusahaan-perusahaan yang akan dirampingkan hanya berkisar Rp2 triliun hingga Rp3 triliun per tahun. Angka tersebut jauh lebih kecil dibandingkan potensi efisiensi yang diperkirakan mencapai Rp50 triliun. Dengan kata lain, penghematan dapat dicapai tanpa harus menjadikan pekerja sebagai korban restrukturisasi.

Dari perspektif ekonomi, pendekatan ini menunjukkan bahwa efisiensi tidak selalu identik dengan pengurangan tenaga kerja. Dalam banyak kasus, sumber pemborosan justru berada pada struktur organisasi yang berlebihan, proses bisnis yang berulang, serta pengambilan keputusan yang tidak efektif. Karena itu, fokus pada penyederhanaan tata kelola menjadi pilihan yang lebih berkelanjutan dibandingkan sekadar memangkas jumlah karyawan.

Dukungan terhadap langkah tersebut juga datang dari DPR. Anggota Komisi VI DPR Firnando Ganinduto menilai perampingan merupakan langkah tepat untuk menghilangkan potensi kerugian yang selama ini muncul akibat struktur perusahaan yang terlalu besar dan tidak efisien. Ia melihat bahwa penataan ulang perusahaan berdasarkan sektor usaha dan fungsi strategis akan membantu menciptakan BUMN yang lebih efektif dalam menjalankan perannya.

Pandangan serupa disampaikan Anggota Komisi VI DPR Herman Khaeron. Menurutnya, penyederhanaan struktur perusahaan negara memang diarahkan untuk meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat kinerja korporasi. BUMN yang lebih fokus pada bisnis inti diyakini memiliki daya saing yang lebih kuat, baik di pasar domestik maupun global.

Meski demikian, keberhasilan program ini tidak hanya ditentukan oleh jumlah perusahaan yang berhasil digabungkan atau dibubarkan. Tantangan terbesar justru terletak pada integrasi budaya kerja, penyelarasan sistem operasional, serta kemampuan menciptakan tata kelola yang lebih transparan dan profesional. Tanpa perubahan pada aspek tersebut, perampingan berisiko hanya menjadi pengurangan jumlah entitas di atas kertas.

Karena itu, agenda yang sedang dijalankan Danantara perlu dipandang sebagai momentum untuk membangun paradigma baru pengelolaan BUMN. Tujuannya bukan semata mengejar penghematan puluhan triliun rupiah, melainkan menciptakan perusahaan negara yang lebih adaptif, sehat, dan mampu menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat. Jika transformasi ini berjalan konsisten, Indonesia tidak hanya memperoleh efisiensi fiskal, tetapi juga fondasi korporasi nasional yang lebih kuat untuk menghadapi persaingan ekonomi global pada masa mendatang.

)* Penulis adalah pengamat sosial ekonomi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Ketahanan Pangan dan Jalan Terang Mewujudkan Kesejahteraan Petani

*) Oleh : Gavin AsaditKetahanan pangan terus menjadi salah satu prioritas utama pemerintahan PresidenPrabowo Subianto pada 2026. Di tengah meningkatnya tantangan perubahan iklim, dinamika geopolitik global, dan fluktuasi harga pangan internasional, pemerintahmemandang bahwa kemampuan memenuhi kebutuhan pangan secara mandirimerupakan fondasi penting bagi stabilitas ekonomi nasional. Namun, ketahananpangan tidak hanya dimaknai sebagai tersedianya stok pangan yang cukup, melainkan juga sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan petani sebagai pelakuutama produksi pangan nasional.Pemerintah menjalankan berbagai kebijakan yang mengintegrasikan peningkatanproduksi, modernisasi pertanian, hilirisasi komoditas, pembangunan infrastrukturirigasi, serta penguatan akses pasar agar manfaat pembangunan pertanian dapatdirasakan langsung oleh masyarakat. Pendekatan tersebut menjadi bagian daristrategi besar mewujudkan swasembada pangan sekaligus memperkuat ekonomikerakyatan yang berkelanjutan. Pemerintah menilai bahwa petani memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitasnasional. Selama beberapa tahun terakhir, berbagai program peningkatan produksiterus diperluas melalui optimalisasi lahan, rehabilitasi jaringan irigasi, penyediaan alatdan mesin pertanian, serta penyaluran pupuk bersubsidi yang lebih tepat sasaran. Langkah tersebut dilakukan agar produktivitas pertanian terus meningkat di tengahtantangan perubahan iklim yang semakin kompleks. Pada saat yang sama, pemerintah juga memperkuat cadangan pangan nasional sebagai instrumen untukmenjaga stabilitas harga sekaligus memberikan kepastian pasar bagi hasil panenpetani. Hingga pertengahan 2026, cadangan beras nasional mencapai sekitar 5,2 jutaton, menjadi salah satu capaian tertinggi dalam beberapa tahun terakhir dan mencerminkan semakin kuatnya fondasi ketahanan pangan Indonesia. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa seluruh kebijakanpembangunan pertanian diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan petanisekaligus memperkuat kemandirian pangan nasional. Menurutnya, pemerintah tidakhanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga mempercepat hilirisasikomoditas pertanian agar petani memperoleh nilai tambah yang lebih besar dari hasilusahanya. Ia menjelaskan bahwa pembangunan pertanian saat ini dilakukan melalui optimalisasilahan di berbagai daerah, pembangunan irigasi, penyediaan alat dan mesin pertanianmodern, serta dukungan teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas secarasignifikan. Amran juga menegaskan bahwa swasembada pangan merupakankebutuhan strategis bangsa karena hanya dengan produksi yang kuat Indonesia dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor sekaligus memberikan kepastianpendapatan bagi petani. Selain memperkuat produksi, pemerintah juga mendorong percepatan hilirisasi sektorpertanian agar komoditas yang dihasilkan petani memiliki nilai ekonomi yang lebihtinggi. Pengembangan industri pengolahan pangan di sentra-sentra produksi menjadisalah satu strategi untuk memperpendek rantai distribusi sekaligus meningkatkandaya saing produk pertanian Indonesia. Melalui hilirisasi, hasil panen tidak lagi dijualsebagai bahan mentah semata, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah yang mampu meningkatkan pendapatan petani dan membuka lapangan kerja baru di daerah. Pendekatan tersebut juga mendukung pembangunan ekonomi berbasiskawasan sehingga manfaat pertumbuhan ekonomi dapat tersebar lebih merata.Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi menyampaikan bahwa penguatanketahanan pangan harus dibangun melalui keseimbangan antara kepentinganprodusen dan konsumen. Menurutnya, pemerintah terus menjaga stabilitas hargapangan agar masyarakat memperoleh akses terhadap bahan pangan dengan hargayang terjangkau tanpa mengorbankan kesejahteraan petani. Karena itu, pemerintah memperkuat cadangan pangan pemerintah, memperluaspenyerapan hasil panen dalam negeri, serta meningkatkan koordinasi dengan PerumBulog dan pemerintah daerah untuk menjaga stabilitas pasokan di seluruh wilayah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini