Pemerintah: Ekonomi RI Tangguh Hadapi Gejolak Global

Baca Juga

Mata Indonesia, Jawa Barat – Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar mengatakan pihaknya optimis dan sudah menunjukan fakta bahwa ekonomi Indonesia kuat menghadapi berbagai gejolak global terutama disaat perang.

Hal tersebut disampaikan Menko Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar dihadapan awak media di Jawa Barat.

Menurutnya, perekonomian Indonesia saat ini dipastikan kuat dalam menghadapi dinamika geopolitik global.

“Yang pertama, kita optimistis dan sudah menunjukkan fakta bahwa ekonomi kita kuat menghadapi berbagai kondisi global terutama perang. Insya Allah kita akan bekerja total untuk kita memiliki daya tahan atau daya kekuatan menghadapi krisis yang terjadi di tingkat global terutama akibat perang. Kita kuat, fondasi ekonomi kuat,” ujar Menko Muhaimin Iskandar saat membuka Rakernas Ikatan Alumni Universitas Terbuka di Bogor, Jawa Barat.

Hal itu dikatakannya terkait taklimat Presiden Prabowo Subianto kepada anggota Kabinet Merah Putih dalam rapat kerja di Istana.

Dalam taklimat itu, Presiden juga menegaskan bahwa tidak akan ada kenaikan harga BBM hingga akhir tahun 2026.

“Tidak ada kenaikan harga BBM. Insya Allah sampai akhir tahun tidak akan ada kenaikan harga BBM sehingga tidak perlu panik, tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” kata Muhaimin Iskandar.

Selain itu, Presiden juga meminta Kabinet Merah Putih hingga pejabat daerah untuk bekerja keras membangun percepatan transformasi bangsa.

“Pejabat mulai menteri sampai birokrat diberi arahan oleh Presiden untuk tidak main-main, untuk betul-betul kerja keras. Tidak ada waktu untuk berhenti di dalam membangun percepatan transformasi bangsa,” ungkap Muhaimin Iskandar.

Sementara itu hal senada juga di sampaikan Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung. Ia mengatakan fundamental ekonomi Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang solid.

“Pemerintah menjalankan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara prudent dan fleksibel sehingga mampu merespons berbagai risiko eksternal yang muncul akibat ketegangan geopolitik dunia,” jelasnya.

Menurutnya, pendekatan kebijakan fiskal yang berhati-hati tersebut menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

“Ketahanan ekonomi Indonesia juga tercermin dari kinerja pertumbuhan yang tetap positif”, tuturnya.

Pada tahun 2025, pertumbuhan ekonomi nasional tercatat sekitar 5,11 persen, dengan akselerasi yang lebih tinggi pada triwulan IV yang mencapai sekitar 5,39 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi domestik tetap bergerak dinamis meskipun lingkungan global berada dalam kondisi penuh ketidakpastian, kata dia.

“Konsumsi masyarakat, investasi, serta berbagai aktivitas ekonomi produktif terus menjadi penggerak utama pertumbuhan,” pungkasnya.

Ditambahkannya, selain pertumbuhan ekonomi yang stabil, tingkat inflasi Indonesia juga tetap berada dalam rentang yang terkendali.

“Stabilitas harga tersebut menjadi bukti keberhasilan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter dalam menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendukung keberlanjutan aktivitas ekonomi,” ujarnya.

“Kondisi ini semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan stabilitas ekonomi yang relatif baik di tengah tekanan global,” tutup Juda Agung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini