Akademisi Ajak Masyarakat Tidak Terpengaruh Provokasi Gulingkan Pemerintah

Baca Juga

Mata Indonesia, Jakarta – Kalangan akademisi mengajak masyarakat untuk tidak terpengaruh provokasi ajakan menggulingkan pemerintah yang dinilai bertentangan dengan prinsip demokrasi konstitusional di Indonesia.

Peneliti Senior Bidang Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Lili Romli, menegaskan bahwa wacana menjatuhkan Presiden Prabowo Subianto di tengah masa jabatan tidak tepat dalam sistem presidensial yang dianut Indonesia.

“Saya sendiri berpendapat bahwa usaha untuk menjatuhkan pemerintahan di tengah jalan bukanlah hal yang baik. Dalam sistem presidensial di Indonesia, jabatan pemerintah itu fixed lima tahun dan harus tetap berjalan selama periode tersebut,” kata Lili.

Ia menekankan bahwa konstitusi telah mengatur mekanisme yang jelas terkait masa jabatan presiden maupun proses pemakzulan. Presiden hanya dapat diberhentikan jika terbukti melakukan pelanggaran hukum berat dan melalui tahapan formal yang melibatkan DPR, Mahkamah Konstitusi, hingga MPR.

“Dengan demikian tidak mudah secara substantif dan prosedural, apalagi presiden Prabowo didukung oleh mayoritas partai di DPR,” ucap Lili.

Menurut Lili, ketidakpuasan terhadap kinerja pemerintah seharusnya disalurkan melalui mekanisme demokrasi yang sah, yakni pemilihan umum sebagai sarana evaluasi rakyat.

“Jika tidak cocok dan tidak puas, biarkan pada pemilu sebagai bentuk punishment-nya,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Founder Citra Institute, Yusak Farchan, yang menilai ajakan menggulingkan pemerintah tidak mencerminkan sikap akademisi yang menjunjung tinggi objektivitas dan etika intelektual.

“Seharusnya sebagai polster dan intelektual, akan lebih elegan jika Prof. Saiful menyampaikan kritiknya melalui data sahih,” ujar Yusak.

Ia menilai, penyampaian kritik seharusnya dilakukan secara konstruktif dan berbasis data, bukan melalui ajakan yang berpotensi memicu instabilitas politik.

“Kalau langsung minta gulingkan pemerintahan yang sah, itu tak ubahnya seperti partisan,” tuturnya.

Yusak juga menyayangkan kritik yang tidak disertai solusi, padahal pendekatan berbasis data merupakan ciri utama kalangan intelektual.

“Karena saya kira kritik berbasis data itu menjadi ciri yang selalu melekat pada kelompok intelektual,” tambahnya.

Sebelumnya, beredar video ceramah Saiful Mujani di media sosial yang memuat ajakan konsolidasi untuk menjatuhkan Presiden Prabowo. Pernyataan tersebut menuai polemik karena dinilai mengabaikan mekanisme konstitusional dalam sistem ketatanegaraan Indonesia.

Merespons hal itu, akademisi menekankan pentingnya menjaga kedewasaan dalam berdemokrasi dengan tetap berpegang pada aturan konstitusi, serta mengedepankan kritik yang konstruktif dan bertanggung jawab di ruang publik.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Relaunching AMANAH Hadirkan Program Inovatif, Dari Daur Ulang hingga Pelatihan Industri Kreatif

Oleh: Cintya Kusuma Hakim)*Relaunching AMANAH (Aneuk Muda Aceh Unggul-Hebat) yang dijadwalkan pada 23 April 2026 menjadi momentum penting dalam menghadirkan berbagai program inovatif berbasis kebutuhan generasi muda. Melalui rangkaian inisiatif seperti Future Leaders Bootcamp, pengembangan Galeri UMKM, hingga pameran produk daurulang di Ruang Inovasi, AMANAH tidak hanya fokus pada peningkatan kapasitaspemuda, tetapi juga mendorong lahirnya ekonomi kreatif yang berkelanjutan. Selainitu, pelatihan industri kreatif seperti teknik dasar menjahit turut memperkuat kesiapantalenta muda dalam memasuki dunia usaha, sekaligus menegaskan peran AMANAH sebagai motor penggerak transformasi ekonomi berbasis kreativitas di Aceh.Dalam konteks tersebut, berbagai program pengembangan pemuda yang telahberjalan sebelumnya perlu diperkuat, baik dari sisi kualitas pelatihan, jangkauanpeserta, maupun keberlanjutan dampaknya. Relauching AMANAH Aceh diharapkanmenjadi titik balik dalam merumuskan pendekatan yang lebih adaptif terhadaptantangan zaman.Salah satu inisiatif yang menonjol adalah penyelenggaraan Future Leaders Bootcamp yang bertujuan mencetak pemimpin muda di bidang bisnis. Program yang diikuti oleh 26 anak muda Aceh ini tidak hanya memberikan pelatihan teknis, tetapijuga membangun pola pikir kewirausahaan yang inovatif dan berorientasi global.Ketua Yayasan AMANAH, Dr Saifullah Muhammad menyampaikan pentingnyakehadiran AMANAH sebagai wadah pengembangan generasi muda Aceh. Bootcamp tersebut menekankan pentingnya membekali pemuda dengankemampuan kepemimpinan yang kontekstual. Saifullah menilai bahwa generasi muda Aceh memiliki potensi besar untuk menjadimotor penggerak ekonomi, asalkan diberikan akses dan pendampingan yang tepat.Lebih jauh, bootcamp ini juga menjadi ruang kolaborasi antara pemuda, mentor, danpelaku industri. Interaksi tersebut memungkinkan transfer pengetahuan yang lebihaplikatif dan relevan dengan kebutuhan pasar.Selain itu, pendekatan experiential learning yang digunakan dalam program inidiyakini efektif dalam membentuk karakter kepemimpinan. Peserta tidak hanyabelajar teori, tetapi juga langsung dihadapkan pada simulasi dan tantangan nyatadalam dunia bisnis.Di sisi lain, penguatan program pemuda juga dilakukan melalui kerja sama denganinstitusi pendidikan tinggi. AMANAH menjalin komunikasi dengan Universitas Islam Negeri Ar-Raniry untuk memperkuat pembinaan generasi muda.Dalam pertemuan tersebut, Rektor UIN Ar-Raniry, Mujiburrahman mengungkapkanbahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan untukmenciptakan ekosistem pembinaan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, dalam halini dibutuhkan sinergi antara lembaga pendidikan dan organisasi kepemudaan. Kerja sama ini juga membuka peluang pengembangan kurikulum berbasiskewirausahaan dan kepemimpinan. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya siapsecara akademik, tetapi juga memiliki kesiapan untuk berkontribusi secara nyata di masyarakat.Dalam konteks ekonomi, AMANAH juga menjalin kerja sama dengan Bank Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di kalangan generasimilenial. Langkah ini menjadi relevan mengingat sektor ekonomi kreatif memilikipotensi besar dalam menyerap tenaga kerja muda.Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Agus Chusaini, menjelaskanbahwa generasi muda memiliki peran strategis dalam mengembangkan sektorekonomi berbasis kreativitas. Mereka melihat bahwa inovasi yang dihasilkan anakmuda dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru.Program yang dijalankan tidak hanya berfokus pada pelatihan, tetapi juga fasilitasiakses pembiayaan dan pemasaran. Hal ini penting agar...
- Advertisement -

Baca berita yang ini