MataIndonesia, Jakarta – Presiden RI Prabowo Subianto memperkenalkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) sebagai instrumen strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Pengenalan tersebut disampaikan Prabowo dalam forum World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss.
Presiden menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya bergantung pada perdamaian dan stabilitas, tetapi juga pada tata kelola negara yang baik serta pengelolaan modal yang efisien, khususnya dalam alokasi dan realokasi investasi.
“Pada Februari lalu, kami membentuk sovereign wealth fund kami, Danantara Indonesia,” kata Prabowo.
Dalam pidatonya, Prabowo menjelaskan Danantara dirancang sebagai energi penggerak masa depan Indonesia dengan total aset kelolaan yang mencapai sekitar 1 triliun dolar AS.
Menurut Presiden, keberadaan Danantara menempatkan Indonesia pada posisi yang lebih sejajar dalam percaturan ekonomi global.
“Dengan Danantara, saya dapat berdiri di hadapan Anda semua sebagai mitra yang setara,” ujarnya.
Presiden juga menilai Indonesia kini tidak hanya dipandang sebagai negara yang damai dan stabil, tetapi juga semakin dikenal sebagai negara dengan peluang ekonomi yang besar.
“Indonesia kini bukan hanya negeri yang damai dan stabil. Indonesia semakin menjadi negeri penuh peluang,” kata Prabowo.
Ia menambahkan, Danantara dirancang sebagai instrumen investasi untuk membiayai industri-industri masa depan seiring dengan upaya percepatan industrialisasi nasional.
Untuk menjaga profesionalisme, Prabowo menegaskan Danantara dibangun dengan sistem pengawasan yang kuat dan tanggung jawab institusional yang jelas.
Saat ini, Danantara mengelola 1.044 badan usaha milik negara (BUMN) yang ke depan akan dirasionalisasi menjadi sekitar 300 perusahaan.
Prabowo juga membuka peluang perekrutan eksekutif terbaik, termasuk dari luar negeri, demi pengelolaan berkelas global.
Sejalan dengan itu, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, menyampaikan konsolidasi aset BUMN melalui Danantara bertujuan menyatukan pengelolaan lebih dari seribu perusahaan negara dalam satu kerangka strategis.
“Kami mengonsolidasikan seluruh aset BUMN di bawah Danantara, mencakup lebih dari 1.000 perusahaan,” ujar Rosan.
Menurut Rosan, struktur tersebut memungkinkan dividen BUMN diinvestasikan kembali tanpa bergantung sepenuhnya pada APBN.
“Dana yang berasal dari dividen bisa kami investasikan kembali, termasuk untuk berinvestasi bersama investor asing,” katanya.
Sementara itu, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menilai pembentukan Danantara sebagai langkah positif meski masih memerlukan waktu untuk dinilai dampaknya.
“Karena itu BUMN dibuat bertindak seperti private sector. Harusnya sih bagus,” ujarnya.
