Danantara Tancap Gas Menjaga Kesinambungan BUMN

Baca Juga

Oleh: Yusuf Rinaldi)*

Dalam beberapa tahun terakhir, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Indonesia telah mengambil langkah berani dan strategis dalam menjaga kesinambungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Indonesia. Di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah telah meluncurkan berbagai inisiatif untuk mengelola dan mengonsolidasikan aset-aset BUMN yang sebelumnya terpecah dan tersebar di berbagai perusahaan.

Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa kekayaan negara ini dapat dikelola secara optimal, efisien, dan transparan. Salah satu langkah besar yang diambil adalah pembentukan Danantara Indonesia, yang berfungsi sebagai pengelola aset negara dengan fokus pada konsolidasi dan transformasi BUMN, untuk mencapai laba yang lebih tinggi, memperkuat akuntabilitas, dan memberi kontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional.

Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya menekankan pentingnya penyatuan aset BUMN yang tersebar di ribuan perusahaan. Dengan lebih dari 1 triliun dolar Amerika Serikat yang berhasil dihimpun dalam satu pengelolaan melalui Danantara, upaya ini diharapkan dapat memperkuat pengelolaan kekayaan negara dalam satu manajemen terpadu. Sebelumnya, aset-aset negara yang tersebar membuat pengelolaannya menjadi kurang efektif dan efisien, yang berdampak pada kinerja ekonomi nasional yang belum optimal.

Penyatuan ini bukan hanya soal menggabungkan berbagai aset fisik dan finansial, tetapi juga bertujuan untuk meningkatkan tata kelola perusahaan-perusahaan BUMN agar dapat mengoptimalkan kontribusinya terhadap perekonomian negara. Sebagai bagian dari upaya tersebut, Presiden Prabowo juga menegaskan komitmennya untuk memberantas praktik korupsi yang dapat merugikan negara dengan melakukan pemanggilan terhadap mantan pimpinan BUMN yang terlibat dalam penyalahgunaan kekuasaan.

Selain konsolidasi, Danantara juga fokus pada program transformasi yang melibatkan proyek-proyek strategis yang dapat meningkatkan kontribusi BUMN terhadap perekonomian Indonesia. Salah satu langkah yang sangat signifikan adalah hilirisasi sumber daya alam Indonesia, seperti pengolahan bauksit menjadi alumina, pengembangan biofuel, dan berbagai proyek hilirisasi lainnya yang akan memberikan dampak positif terhadap perekonomian nasional.

Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa pada 2026, Danantara menargetkan laba BUMN mencapai sekitar Rp350 triliun, seiring dengan selesainya 41 proyek yang tengah dikerjakan, termasuk proyek hilirisasi dan program transformasi yang melibatkan merger dan konsolidasi BUMN. Menurutnya, pencapaian ini akan mendongkrak return on asset serta memperkuat kontribusi BUMN dalam setoran pajak dan peran sosial.

Tak hanya fokus pada sektor manufaktur dan sumber daya alam, Danantara juga mulai membenahi sektor asuransi yang selama ini dianggap memiliki banyak masalah, terutama dalam hal tata kelola yang tumpang tindih. Dalam sektor ini, langkah besar yang diambil adalah pemisahan antara General Insurance dan Credit Insurance (Penjaminan). Langkah ini penting untuk menyelamatkan mandat Askrindo dan Jamkrindo sebagai tulang punggung program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang memiliki peran vital dalam mendukung pembiayaan sektor UMKM di Indonesia.

Dony Oskaria menjelaskan bahwa pemisahan bisnis ini bukan hanya soal struktur, tetapi juga terkait dengan risiko yang dihadapi. Jika kedua lini bisnis ini digabungkan, maka akan sulit untuk memisahkan antara risiko asuransi kerugian biasa dengan risiko penjaminan kredit. Oleh karena itu, Danantara melakukan kajian mendalam untuk memastikan bahwa bisnis penjaminan tetap terpisah dengan risiko asuransi kerugian.

Konsolidasi sektor asuransi ini diharapkan dapat mengurangi risiko dan memastikan perusahaan-perusahaan asuransi BUMN berjalan secara efisien dan sehat, baik secara finansial maupun operasional. Dengan pendirian Indonesia Financial Group (IFG) sebagai holding perusahaan asuransi BUMN, Danantara mengharapkan adanya pengelolaan yang terpusat dan profesional, untuk memperkuat kinerja perusahaan asuransi BUMN dan memberi dampak positif terhadap perekonomian nasional.

Danantara juga berkomitmen untuk memotong jumlah perusahaan asuransi BUMN yang terlibat dalam sektor ini dari 15 menjadi hanya 3 perusahaan pada 2026. Ini merupakan langkah besar yang diambil untuk memastikan perusahaan-perusahaan asuransi negara memiliki spesialisasi yang jelas dan fokus dalam menjalankan tugasnya. Langkah konsolidasi ini bukan hanya soal efisiensi operasional, tetapi juga untuk memastikan bahwa setiap perusahaan memiliki ruang usaha yang jelas dan terstruktur.

Dalam hal ini, Danantara juga melakukan koordinasi intensif dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memastikan proses pemisahan dan konsolidasi berjalan sesuai dengan peraturan yang berlaku dan tidak menimbulkan risiko besar terhadap sistem keuangan negara. OJK juga menyambut baik langkah ini, dengan menekankan pentingnya pemisahan yang jelas antara lini usaha, karena hal ini akan meningkatkan ketahanan modal dan manajemen risiko yang sangat dibutuhkan untuk masa depan yang lebih berkelanjutan.

Transformasi besar yang dilakukan Danantara Indonesia merupakan langkah maju dalam menjaga kesinambungan BUMN dan memperkuat kontribusinya terhadap perekonomian Indonesia. Dengan berbagai proyek hilirisasi, pemisahan lini bisnis di sektor asuransi, dan konsolidasi BUMN, Danantara siap menjadi motor penggerak ekonomi nasional yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

)*Penulis merupakan Pengamat Ekonomi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Taklimat Presiden Tegaskan Diplomasi Energi, Pemerintah Jaga Kedaulatan Pangan dan Stabilitas Harga BBM

Oleh: Arya Satrya WibisonoDi tengah dinamika global yang semakin tidak menentu, pemerintah terus mempertegas arahkebijakan nasional untuk memastikan ketahanan energi dan pangan tetap terjaga. Salah satu buktikonkret dari ketahanan tersebut tercermin pada kebijakan pemerintah yang tetap menjagastabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) di tengah gejolak ekonomi global dan fluktuasi hargaenergi dunia. Langkah ini tidak hanya menunjukkan kapasitas negara dalam mengelola sektorenergi secara efektif, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam melindungi daya belimasyarakat serta menjaga stabilitas sektor pangan yang sangat bergantung pada distribusi danbiaya logistik. Dalam konteks ini, kebijakan pengendalian harga BBM menjadi bagian integral dari strategi besar pemerintah untuk meredam dampak krisis global sekaligus memperkuatfondasi kemandirian nasional.Dalam arahannya, Presiden menggarisbawahi bahwa pangan, energi, dan air merupakan tigapilar utama yang menentukan keselamatan suatu bangsa. Pandangan ini, sebagaimanadisampaikannya, telah lama diyakini dan diperjuangkan, bahkan sejalan dengan proyeksi global yang disusun oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam kerangka Sustainable Development Goals. Dengan demikian, langkah pemerintah dalam memperkuat ketahanan di ketiga sektor tersebuttidak hanya berbasis pada kebutuhan domestik, tetapi juga merujuk pada agenda pembangunanglobal yang telah mengantisipasi potensi krisis multidimensi.Taklimat yang disampaikan langsung kepada para menteri, wakil menteri, hingga pejabat eselonI menjadi momentum penting dalam menyatukan persepsi seluruh elemen pemerintahan. Pemerintah ingin memastikan bahwa setiap kebijakan yang dijalankan memiliki arah yang selaras, terutama dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Di sektor energi, pemerintah menunjukkan langkah konkret melalui penguatan diplomasi dengannegara-negara sahabat. Presiden mengindikasikan bahwa kunjungan luar negeri yang dilakukannya bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari strategi untukmengamankan pasokan energi nasional, khususnya minyak. Dalam situasi geopolitik yang penuhketidakpastian, pendekatan diplomasi aktif dinilai menjadi instrumen penting untuk menjagastabilitas energi dalam negeri.Diplomasi energi ini mencerminkan kesadaran pemerintah bahwa ketahanan energi tidak dapatsepenuhnya bergantung pada sumber daya domestik. Dibutuhkan jejaring kerja samainternasional yang kuat untuk memastikan keberlanjutan pasokan, sekaligus membuka peluanginvestasi dan transfer teknologi di sektor energi. Kunjungan ke berbagai negara, termasuk di kawasan Asia Timur, menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia dalam peta energiglobal.Di tengah gejolak harga energi dunia yang fluktuatif, pemerintah juga dinilai berhasil menjagastabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Kebijakan ini mencerminkankeberpihakan pada daya beli masyarakat sekaligus menunjukkan kapasitas negara dalammeredam dampak langsung dari tekanan eksternal. Stabilitas harga BBM menjadi indikatorpenting bahwa strategi pengelolaan energi nasional berjalan efektif di tengah tekanan global yang tidak ringan.Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kombinasi kebijakan fiskal, penguatan subsidi yang tepat sasaran, serta hasil dari diplomasi energi yang memastikan pasokan tetap aman. Pemerintahsecara tidak langsung menunjukkan bahwa kendali terhadap sektor energi mampu dijaga denganbaik, sehingga gejolak global tidak serta-merta diteruskan ke masyarakat. Namun demikian, pemerintah tidak mengabaikan penguatan kapasitas dalam negeri. Upayamenuju swasembada energi terus didorong melalui berbagai program strategis, termasukoptimalisasi sumber daya alam dan pengembangan energi terbarukan. Langkah ini menunjukkanbahwa diplomasi internasional berjalan beriringan dengan penguatan fondasi domestik, sehinggaIndonesia memiliki ketahanan yang lebih kokoh dalam jangka panjang.Di sektor pangan, pemerintah juga menempatkan swasembada sebagai prioritas utama. Presidenmengisyaratkan bahwa upaya ini telah lama menjadi bagian dari gagasan besar yang kinidiwujudkan melalui program-program konkret. Ketahanan pangan tidak hanya berkaitan denganketersediaan produksi, tetapi juga distribusi, aksesibilitas, serta stabilitas harga yang harus dijagasecara berkelanjutan.Sementara itu, sektor air sebagai salah satu pilar penting dinilai memiliki potensi besar di Indonesia. Pemerintah melihat bahwa secara umum ketersediaan air masih relatif mencukupi, meskipun terdapat tantangan di beberapa wilayah, khususnya di Indonesia timur. Permasalahanutama lebih banyak terletak pada aspek pengelolaan dan kerusakan lingkungan, sepertideforestasi yang berdampak pada berkurangnya daya serap air.Dalam perspektif ini, pemerintah menekankan pentingnya menjaga kelestarian lingkungansebagai bagian integral dari strategi ketahanan nasional. Pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan menjadi kunci untuk memastikan bahwa potensi yang dimiliki Indonesia dapatdimanfaatkan secara optimal tanpa mengorbankan generasi mendatang. Dengan pendekatan yang tepat, tantangan terkait ketersediaan air diyakini dapat diatasi.Lebih jauh, taklimat Presiden juga menjadi ruang untuk menyampaikan optimisme terhadapmasa depan Indonesia. Pemerintah meyakini bahwa di tengah berbagai krisis global, Indonesia justru memiliki peluang untuk tampil sebagai negara yang relatif stabil dan tangguh. Keyakinanini didasarkan pada kekayaan sumber daya alam, posisi geopolitik yang strategis, serta kebijakanyang diarahkan pada penguatan kemandirian nasional.Pendekatan yang mengombinasikan penguatan domestik dan diplomasi internasionalmenunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya bersikap reaktif terhadap krisis, tetapi juga proaktifdalam membangun ketahanan jangka panjang. Diplomasi dengan negara sahabat menjadijembatan untuk memperkuat posisi Indonesia di kancah global, sekaligus memastikan kebutuhannasional tetap terpenuhi.*) Analis Diplomasi Energi dan Pembangunan Berkelanjutan
- Advertisement -

Baca berita yang ini