SEA Games 2021: Shin Tae-yong Sebut Vietnam Sedikit Punya Keuntungan

Baca Juga

MATA INDONESIA, PHU THO – Timnas Indonesia U-23 akan menghadapi Vietnam pada laga perdana Grup A SEA Games 2021, Jumat 6 Mei 2022. Pelatih Shin Tae-yong menyebut, lawan punya sedikit keuntungan karena berstatus tuan rumah.

Pertandingan perdana SEA Games 2021 Grup antara Indonesia melawan Vietman digelar pada Jumat 6 Mei 2022 di Stadion Viet Tri. Sebagai tuan rumah, tentu Vietnam mendapat dukungan penuh penonton.

Sejak kasus Covid-19 mulai melandai, penonton diperbolehkan hadir langsung ke stadion. Bahkan, dua hari sebelumnya tiket pertandingan dikabarkan sudah ludes terjual.

“Vietnam bertanding di rumahnya sehingga ini menguntungkan, tetapi ini pertandingan sepak bola,” ujar Shin Tae-yong.

“Kalau kami bekerja keras dan berjuang maksimal, kami akan memiliki keberuntungan juga. Jadi, kalau ada kerugian, kami akan manfaatkan menjadi keuntungan,” katanya.

Sejak menukangi timnas Indonesia, Shin Tae-yong sudah dua kali berhadapan dengan Vietnam dan hasilnya belum pernah menang.

“Saya mengakui Vietnam [dua laga sebelumnya] di atas kami. Apa yang terjadi harus diakui, tetapi performa pemain Indonesia semakin meningkat dan mulai ada pemain-pemain yang berkarier di luar negeri,” ucapnya.

“Jadi, dua tahun mendatang bisa bertanding lebih baik melawan Vietnam. Dalam dua pertandingan terakhir memang kami kalah, tetapi belum tentu untuk pertandingan kali ini,” ungkapnya.

Di laga ini, skuat Garuda Muda belum bisa diperkuat Asnawi Mangkualam dan Elkan Baggott karena belum tiba di Vietnam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Employment from the Village: Koperasi Merah Putih dan Ekonomi Kerakyatan

Oleh : Pratama Dika SaputraGagasan membangun ekonomi nasional dari desa kembali menemukan momentumnya melalui program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah. Dalam konteks ketimpanganpembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah, pendekatan berbasis desa menjadi strategi yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak. Desa bukan lagi dipandang sebagai objek pembangunan semata, melainkan sebagai subjek utama yang memiliki potensi besar dalammenciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendorong kemandirian nasional. Program Koperasi Merah Putih menjadi representasi nyata dari upaya tersebut, denganorientasi pada penciptaan employment from the village yang berbasis ekonomi kerakyatan.Target ambisius pemerintah untuk membangun lebih dari 25 ribu koperasi dalam waktu singkatmencerminkan keseriusan dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Presiden Prabowo Subianto menilai bahwa koperasi harus menjadi institusi ekonomi yang nyata, bukan sekadar formalitas administratif. Oleh karena itu, koperasi dirancang memiliki fasilitaslengkap seperti gudang, alat pendingin, hingga kendaraan distribusi agar mampu beroperasisecara efektif dan efisien. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokuspada kuantitas, tetapi juga kualitas kelembagaan yang mampu menjawab kebutuhan riilmasyarakat desa.Kehadiran koperasi sebagai agregator ekonomi desa memiliki implikasi besar terhadappenciptaan lapangan kerja. Dengan memotong rantai distribusi yang panjang, koperasi dapatmeningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus membuka peluang kerja baru di sektorlogistik, pengolahan, hingga pemasaran. Model ini memungkinkan masyarakat desa untuk tidaklagi bergantung pada pusat-pusat ekonomi di kota, melainkan menciptakan ekosistem ekonomiyang mandiri di wilayahnya sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menekanurbanisasi serta mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah.Lebih jauh, Koperasi Merah Putih juga dirancang sebagai solusi terhadap persoalan klasik yang dihadapi petani dan nelayan, yakni keterbatasan akses pasar dan pembiayaan. Dengan adanyalayanan simpan pinjam, distribusi pupuk, hingga fasilitas penyimpanan seperti cold storage, koperasi dapat menjadi tulang punggung bagi sektor produktif di desa. Hal ini sejalan denganupaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, yang sangatbergantung pada optimalisasi potensi daerah.Namun demikian, skala besar program ini juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil. Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengingatkan bahwa keberhasilan koperasi sangatditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini