Nestapa para Imigran, Tak Dapat Hunian dan Kerjaan Layak di Indonesia

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Ratusan pengungsi dan pencari suaka dari berbagai negara yang sebelumnya menginap di sepanjang trotoar Jalan Kebun Sirih, akhirnya dipindahkan ke bekas Gedung Kodim Jakarta Barat.

Pemindahan ini dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta beserta Dinas Sosial DKI Jakarta.

Namun mereka tak serta merta bisa masuk dan menetap di dalam gedung Kodim tersebut. Untuk masuk ke sana harus teregistrasi oleh pihak Komisi Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi (UNHCR), sehingga bisa mendapatkan makanan dan tempat untuk tidur.

Sesuai pantauan Mata Indonesia News, banyak imigran yang masih terkendala registrasi tersebut. Belum diketahui apa sebabnya karena petugas UNHCR yang hadir di sana masih menolak memberikan komentar.

Seorang imigran asal Afganistan yang bernama Abas, mengisahkan bahwa ia sudah berada di sini hampir 6 tahun. Ia datang sendirian ke sini. Selama ini ia menetap pada lahan seberang Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) yang terletak di Kalideres.

Pria yang berusia 27 tahun tersebut, mengungkapkan bahwa jumlah mereka cukup banyak. “Saat ini,sekitar 1.200 orang. Ada yang dari Somalia, Pakistan, Irak, Sudan dan Afganistan. Kami sangat susah dapat kamar malam (tempat tinggal) dan pekerjaan,” jelas dia dengan bahasa Indonesia terbata-bata kepada Mata Indonesia News, Jumat 12 Juli 2019.

Abas pun sangat mengharapkan agar pihak UNHCR segera memberikan kepastian soal bantuan hunian sementara baginya dan rekan-rekannya.

Sementara itu, Muhammad Taki, salah satu pengungsi yang juga berasal dari Afganistan juga mengungkapkan hal yang sama.

Ia mengaku sudah berada di Indonesia hampir dua tahun. Ia datang ke sini bersama dan ibu dan ke-enam saudaranya. Sementara ayahnya sudah berpulang sejak tahun 2013 silam karena kecelakaan pesawat saat ke Australia.

Alasan pria berusia 24 tahun tersebut datang ke Indonesia karena ingin mendapatkan penghidupan yang layak. Namun impian tersebut tak kunjung didapat.

Selama ini Taki dan keluarganya tinggal di dalam tenda yang dibangun seadanya. Letaknya di seberang jalan gedung Rudenim Jakarta Barat.

“Kami semua yang ada di sini sulit untuk mendapatkan tempat tinggal dan pekerjaan. Selama ini untuk makan kami dibantu oleh pihak Gereja Katolik setempat dan masyarakat sekitar,” katanya.

Taki juga mengungkapkan bahwa banyak imigran yang sudah 2 hingga 3 tahun berada di Indonesia. Bahkan ada yang sudah tujuh hingga delapan tahun. Banyak yang depresi dan putus asa karena tak kunjung mendapatkan hunian dan pekerjaan, apalagi uang.

“Mau kerja tapi perusahaan tak ada yang terima. Kita dilarang untuk kerja karena banyak yang datang ke sini tanpa visa,” kata dia.

Ia pun berharap agar pihak UNHCR segera memberikan kejelasan mengenai bantuan hunian sementara bagi para imigran yang ada di sini Krisantus de Rosari Binsasi)

Berita Terbaru

MBG sebagai Pilar Strategis Mewujudkan Generasi Emas Indonesia

Oleh: Dewi Puteri Lestari* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan langkah visioner yang menegaskan keberpihakan negara terhadap masa depan generasi muda. Kebijakan ini tidak dapat dipandang secarasempit sebagai program distribusi makanan semata, melainkan sebagai strategi besar pembangunan sumber daya manusia yang dirancang secara sistematis, terukur, dan berorientasi jangka panjang. Dalam konteks persaingan global yang semakin kompetitif, kualitas manusia menjadi faktor penentu daya saing bangsa. Karena itu, intervensi negara pada aspek gizi anak sekolah merupakan keputusanstrategis yang mencerminkan kepemimpinan yang berpandangan jauh ke depan. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa MBG tidak mengurangiprogram maupun anggaran pendidikan. Anggaran pendidikan tetap berada pada porsi 20 persen APBN dengan nilai Rp 769,1 triliun, sesuai amanat konstitusi. Seluruh program pendidikan tetap berjalan sebagaimana mestinya dan bahkanmengalami penguatan. Penegasan ini menunjukkan bahwa pemerintah bekerjadengan perencanaan fiskal yang matang, berbasis data, serta melalui koordinasiintensif dengan DPR. Dengan fondasi anggaran yang kokoh dan legitimasi politikyang kuat, MBG hadir sebagai penguat ekosistem pendidikan nasional. Dukungan parlemen terhadap MBG juga memperlihatkan kesadaran kolektif bahwainvestasi pada generasi muda harus ditempatkan sebagai prioritas utama. KetuaBadan Anggaran DPR RI...
- Advertisement -

Baca berita yang ini