Cegah Krisis Kemanusiaan di Afghanistan, UE Siapkan Dana Triliunan Rupiah

Baca Juga

MATA INDONESIA, BRUSSEL – Paket bantuan senilai 1 miliar Euro telah disiapkan oleh Uni Eropa (UE) untuk dialokasikan ke Afghanistan. Bantuan ini diberikan demi mencegah keruntuhan kemanusiaan dan sosial ekonomi yang besar, demikian dikatakan Kepala UE, Ursula von der Leyen.

Von der Leyen membuat janji pada pertemuan puncak G20 virtual yang diselenggarakan oleh Italia yang didedikasikan untuk membahas situasi kemanusiaan dan keamanan di Afghanistan.

Setelah pertemuan G7 sebelumnya di Afghanistan yang kini dipimpin oleh Taliban, Perdana Menteri Italia, Mario Draghi mendorong diskusi yang lebih luas yang melibatkan kekuatan dunia lainnya.

Pernyataan Von der Leyen menekankan bahwa dana Uni Eropa adalah bentuk dukungan langsung untuk Afghanistan dan akan disalurkan ke organisasi internasional yang bekerja di lapangan, bukan ke pemerintah sementara Taliban, yang tidak diakui oleh Brussels.

“Kita harus melakukan semua yang kita bisa untuk mencegah keruntuhan besar kemanusiaan dan sosial ekonomi di Afghanistan. Kita harus melakukannya dengan cepat,” kata von der Leyen, mengamati bahwa musim dingin sudah dekat, melansir Al Jazeera, Rabu, 13 Oktober 2021.

“Kami sudah jelas tentang kondisi kami untuk setiap keterlibatan dengan pihak berwenang Afghanistan, termasuk tentang penghormatan hak asasi manusia. Sejauh ini, laporan berbicara sendiri. Tetapi orang-orang Afghanistan seharusnya tidak membayar harga dari tindakan Taliban,” tuturnya.

Negara-negara Uni Eropa mewaspadai kemungkinan gelombang pencari suaka asal Afghanistan yang mencoba memasuki Benua Biru, seperti yang terjadi pada 2015 di mana pengungsi asal Suriah melarikan diri dari perang saudara yang melanda negara mereka.

Stefanie Dekker dari Al Jazeera, melaporkan dari Kabul, mengatakan bahwa Afghanistan telah menjadi sepenuhnya bergantung pada bantuan internasional.

“Karena (bantuan) telah ditahan … itu berarti orang tidak dapat memberi makan keluarga mereka. Artinya mereka tidak punya uang, artinya tidak ada pekerjaan,” kata Stefanie.

Wakil Direktur Eksekutif UNICEF, Omar Abdi mengatakan, bahkan sebelum pengambilalihan kekuasaan oleh Taliban, organisasinya memperkirakan sekitar 10 juta anak Afghanistan membutuhkan dukungan kemanusiaan.

“Setidaknya 1 juta orang di antaranya berisiko meninggal akibat gizi buruk. Kami memperkirakan situasinya akan semakin buruk dengan datangnya musim dingin,” kata Omar Abdi.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Reformasi UU P2SK Menjaga Stabilitas sekaligus Mendorong Pertumbuhan Ekonomi

*) Oleh: Dinda ParamitaPengesahan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan(P2SK) menjadi undang-undang oleh DPR RI dalam Rapat Paripurna ke-20 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025–2026 merupakan langkah strategis yang patutdiapresiasi. Di tengah dinamika ekonomi global yang sarat ketidakpastian, Indonesia membutuhkan fondasi sektor keuangan yang tidak hanya kuat dalam menjagastabilitas, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonominasional. Reformasi regulasi ini menunjukkan komitmen pemerintah dan DPR dalammemastikan sektor keuangan nasional tetap relevan terhadap perkembangan zaman sekaligus responsif terhadap berbagai tantangan baru. Kehadiran UU P2SK yang diperbarui menjadi bukti bahwa agenda reformasi ekonomi terus berjalan secaraberkelanjutan.Dalam konteks pembangunan nasional, sektor keuangan memiliki peran sentral sebagai penghubung antara sumber daya ekonomi dan aktivitas produktif masyarakat. Oleh karena itu, penguatan regulasi menjadi kebutuhan mendesak agar fungsiintermediasi keuangan dapat berjalan lebih efektif dan efisien. Stabilitas sektorkeuangan yang terjaga akan menciptakan kepercayaan investor, memperluas aksespembiayaan, serta mempercepat perputaran modal di berbagai sektor strategis. Pada akhirnya, kondisi tersebut akan memberikan kontribusi nyata terhadap penciptaanlapangan kerja, peningkatan investasi, dan percepatan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.Selanjutnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini