Edan! Mourinho Tolak Tawaran 1,5 Triliun dari Klub Cina

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Mourinho lagi-lagi membuat sensasi. Kali ini, The Special One menolak mentah-mentah tawaran menggiurkan dari klub Cina dengan nilai 100 juta euro atau setara Rp 1,58 triliun. Edan!

Padahal, seperti diketahui, Mou sampai saat ini masih nganggur. Tak ada klub yang dilatihnya setelah ia dipecat dari Manchester United, tahun lalu.

Tawaran kali ini kabarnya datang dari Guangzhou Evergrande, yang bersedia membayar Mourinho dengan nilai 30 juta euro per musim, plus 10 juta euro sebagai bonus.

Seandainya Mou mengambil tawaran itu, maka rekor baru akan tercipta. Angka itu jelas adalah bayaran tertinggi sepanjang sejarah sepak bola untuk seorang pelatih.

Mengutip Telegraph, Mourinho bertemu dengan bos besar Evergrande, Xi Jiayin, di London pada April 2019. Di pertemuan itulah, Mourinho ditawari untuk melatih juara dua kali Liga Champions Asia itu.

Akan tetapi, Mourinho dengan sopan menolak tawaran menggiurkan tersebut. Salah satu alasannya berkaitan dengan keluarganya yang selama ini tinggal di London.

Bukan sekali ini saja Mourinho menampik tawaran berkarier di China. Sebelumnya, eks pelatih Chelsea, Inter Milan, dan Real Madrid itu juga ditawari untuk menjadi pelatih tim nasional China setelah ditinggal pelatih kawakan Marcelo Lippi.

Berita Terbaru

Hilirisasi dan Perluasan Lapangan Kerja bagi Masyarakat

Oleh: Alexander Royce*)Di tengah ketidakpastian ekonomi global, arah pembangunan nasional yang bertumpu pada hilirisasi semakin menunjukkan relevansinya sebagai strategi besar untuk memperluas lapangankerja dan meningkatkan kualitas pertumbuhan. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tampakmenempatkan hilirisasi bukan sekadar agenda industri, melainkan sebagai jalan transformasiekonomi yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat: pekerjaan yang layak, berkelanjutan, dan bernilai tambah tinggi. Dalam berbagai pernyataannya, Presiden menegaskan bahwa kekayaan sumber daya alamIndonesia tidak boleh lagi berhenti pada ekspor bahan mentah, karena praktik itu selamabertahun-tahun justru membuat nilai ekonomi terbesar dinikmati negara lain. Pemerintah kinimendorong pengolahan dari hulu ke hilir agar setiap komoditas mampu melahirkan rantaiindustri baru di dalam negeri, dari smelter, manufaktur, hingga sektor teknologi turunan.Gagasan besar tersebut menjadi menarik karena tidak berhenti pada tataran visi. Tahun 2026, pemerintah telah memaparkan sedikitnya 18 proyek hilirisasi prioritas dengan nilai investasimencapai Rp618 triliun yang diproyeksikan menciptakan sekitar 276 ribu lapangan kerja baru. Proyek-proyek itu mencakup sektor strategis seperti aluminium, stainless steel, hilirisasi sawit, rumput laut, kelapa, hingga energi berbasis bioavtur dan DME. Ini menunjukkan bahwa hilirisasi kini berkembang menjadi ekosistem industri lintas sektor yang membuka peluang kerja bagi tenaga terampil, lulusan vokasi, insinyur, hingga pelaku UMKM lokal yang masuk ke rantai pasok industri. Dalam konteks ini, hilirisasi bukan hanya proyekekonomi makro, tetapi mesin distribusi kesejahteraan yang nyata bagi masyarakat luas. Presiden Prabowo Subianto melihat bahwa inti dari transformasi ini adalah mengakhirideindustrialisasi yang selama ini membuat Indonesia kaya bahan baku tetapi miskin nilaitambah. Karena itu, pernyataannya mengenai pentingnya mengolah bauksit menjadi alumina dan aluminium, atau kelapa menjadi produk turunan bernilai tinggi seperti virgin coconut oil, sesungguhnya merupakan gambaran konkret bagaimana satu komoditas dapat melahirkan ribuanpekerjaan baru. Ketika industri pengolahan tumbuh di dalam negeri, kebutuhan terhadap tenagakerja manufaktur, logistik, riset, pemasaran, dan jasa pendukung ikut meningkat. Dampakbergandanya akan terasa hingga daerah-daerah penghasil bahan baku, yang selama ini hanyamenikmati manfaat ekonomi terbatas dari aktivitas ekstraktif. Pandangan ini diperkuat oleh Anggota Komisi XII DPR RI, Nevi Zuairina,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini