Mengganti Kepala CIA Jadi Aksi Pertama Joe Biden Jelang Dilantik

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Meski belum diambil sumpahnya dan dilantik secara resmi sebagai Presiden Amerika Serikat, Joe Biden sudah unjuk gigi di hadapan publik.

Baru-baru ini Biden langsung melakukan pergantian Kepala Badan Intelijen Pusat (CIA) AS. Petahana Gina Haspel, akan digantikan oleh mantan diplomat bernama William Burns.

Biden begitu percaya dengan kemampuan Burns dalam menjaga kondusifitas negara jelang pelantikan pada 20 Januari 2021 mendatang. Ia bahkan memuji dan menyebutnya sebagai diplomat teladan.

“Burns adalah seorang diplomat teladan dengan pengalaman puluhan tahun di panggung dunia menjaga rakyat kami dan negara kami aman dan terlindungi,” kata Biden, seperti dikutip dari Reuters, Selasa 12 Januari 2021.

Sebelumnya, Burns dikenal sebagai Duta Besar AS untuk Rusia sejak 2005 hingga 2008. Kepiawaiannya dalam berbahasa Arab dan Rusia, kemudian mengantarkan Burns sebagai pemimpin dalam pembicaraan rahasia kesepakatan nuklir Iran 2015, kala Barack Obama masih menjadi Presiden AS.

Selain ditunjuk sebagai Kepala CIA, Burns juga diminta secara khusus oleh Biden untuk memimpin badan penasihat terkait kerja sama dengan Cina.

Biden memilih tim pejabat teruji yang siap bertugas pada hari pertama karena transisi kekuasaan yang luar biasa kacau. Sebab, Trump masih berupaya memperebutkan kemenangan pemilu yang dimenangkan Biden dengan klaim ada penipuan pemilih sehingga menunda transisi normal.

Hanya saja, meski Biden menunjuk Burns secara langsung, tetap saja harus melewati persetujuan Senat AS.

Sebenarnya, tak sulit bagi Biden meloloskan nama Burns. Pasalnya, sosok ini sudah dikenal sukses selama 33 tahun menjalankan lima tugas khusus yang diberikan oleh Senat.

Salah satunya, menavigasi tugas yang berbahaya secara politik seperti mengepalai divisi Timur Tengah Departemen Luar Negeri selama invasi AS tahun 2003 ke Irak tanpa banyak kontroversi pribadi.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini