Cina Tersinggung dengan Iklan Makan Kelelelawar

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Sebuah iklan yang menunjukkan seorang pria memakan roti isi kelelawar dengan lahap saat ini sedang diselidiki pengawas periklanan Australia.

Iklan yang berasal dari perusahaan Boating Camping Fishing (BCF) tersebut sudah ditonton lebih dari 250.000 kali di YouTube. Di dalam iklan tersebut, ada seorang pria yang berguyon bahwa pandemi Covid-19 disebabkan oleh seseorang yang makan seekor kelelawar.

Saat kasus ini muncul pertama kali dari pasar hewan di Wuhan, Cina, masih belum ada bukti pasti dari mana sumber virus dan bagaimana penyebarannya. “Kami telah menerima sejumlah keluhan mengenai iklan kampanye musim panas BCF dan sedang dalam proses menilai keluhan ini untuk melihat apakah akan menimbulkan masalah,” ujar seorang juru bicara dari Biro Standard Iklan.

Juru bicara BCF mengatakan bahwa iklan ini merupakan kampanye pemasaran dengan nuansa gembira. Ia mengakui banyak warga Australia akan tetap di rumah musim panas ini dan mendorong mereka untuk menjelajahi halaman belakang rumah mereka sendiri. ”Tentu saja, kami memahami parahnya pandemi dan penyebaran Covid-19, tapi ini jelas bahwa iklan tersebut dibingkai dengan semangat yang sama,” ujarnya.

BCF sudah tak asing lagi bagi pengawas periklanan Australian karena iklan-iklan mereka yang paling banyak mendapatkan laporan pada tahun 2016 dan 2018.

Hubungan Tegang Australia-Cina

Hubungan antara Australia dan Cina memburuk, dan makin memburuk dalam beberapa dekade terakhir. Iklan tersebut memperlihatkan keburukan hubungan mereka.

Australia mendukung penyelidikan global mengenai asal-usul virus corona pada bulan April lalu. Namun langkah ini ditentang Cina yang disebut dapat merusak hubungan dua negara.

Sejak saat itu, Cina telah memberlakukan tarif dan memblokir pengiriman beberapa barang impor dari Australia, meski itu dibantah oleh pihak Beijing. Cina juga mengeluarkan peringatan kepada warga yang akan melancong atau kuliah ke Australia akan masalah serangan berlatarbelakang rasisme.

November lalu, Cina juga memberlakukan pajak kepada minuman anggur Australia hingga 212 persen dengan mengatakan ini adalah tindakan antidumping sementara untuk menghentikan impor bersubsidi minuman anggur Australia.

Reporter: Muhammad Raja A.P.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Mengawal Reformasi dengan Solusi Lebih Penting daripada Narasi Krisis

Oleh: Rian Suryono )*Wacana Reformasi Jilid II yang disampaikan oleh aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) wilayah Jawa Tengah kembali memunculkan perdebatan mengenai kondisi bangsa saat ini. Aspirasi yang disampaikan mahasiswa merupakan bagian dari kehidupan demokrasi yang harus dihormati. Namun, di tengah berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia, mengedepankan solusi konkret jauh lebih penting dibanding membangunnarasi krisis yang berpotensi memperlemah optimisme publik.Tantangan ekonomi nasional memang menjadi perhatian banyak pihak. Perlambatan ekonomi global, ketidakpastian pasar internasional, dan perubahan dinamika geopolitik dunia memberikan tekanan terhadapberbagai negara, termasuk Indonesia. Kondisi tersebut menuntutpemerintah untuk bekerja lebih keras sekaligus lebih cermat dalammenyusun kebijakan.Pemerintah melalui Istana Kepresidenan menunjukkan sikap terbukaterhadap aspirasi yang berkembang di masyarakat. Respons yang diberikan menunjukkan bahwa pemerintah tidak menutup ruang dialog dan tetap menghargai masukan dari berbagai kelompok, termasukmahasiswa.Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menegaskan bahwa tuntutanyang disampaikan mahasiswa diterima sebagai masukan yang berhargabagi pemerintah. Namun, ia menjelaskan bahwa persoalan ekonomimemiliki tingkat kompleksitas yang tinggi sehingga tidak dapatdiselesaikan secara instan dalam tenggat waktu tertentu.Penjelasan Prasetyo menunjukkan bahwa pengelolaan ekonomi nasionalmemerlukan proses...
- Advertisement -

Baca berita yang ini