Menuju Rusia, Kim Jong-un Naik Kereta untuk Temui Putin

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Besok, Kamis 25 April 2019 akan terjadi salah pertemuan paling strategis di dunia, yakni antara Pemimpin Tertinggi Korea Utara dan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Mengutip Reuters, Kim dikabarkan sudah tiba di Rusia. Ia akan bertemu Putin di Kota Vladivostok, Rusia Timur. Kim dalam perjalanannya menuju lokasi pertemuan tidak menggunakan pesawat layaknya pemimpin sebuah negara, ia lebih memilih naik kereta pribadi.

Naik kereta untuk berkunjung ke negara lain bukan pertama kalinya bagi Kim Jong-un. Sebelumnya, ia juga pernah menaiki kereta ketika hendak bertemu Presiden AS Donald Trump di Vietnam pada Sabtu 23 Februari 2019 lalu

Kim terinspirasi dari kebiasaan almarhum ayah dan kakeknya yang melakuka perjalanan ke luar negeri menggunakan kereta api saat menjadi pemimpin negara.

Ini adalah pertemuan pertama kali antara kedua pemimpin negara. Kim sebelumnya tidak pernah bertatap wajah langsung dengan Putin. Namun, selama ini hubungan antara Korea Utara dan Rusia berjalan lancar, apalagi kedua negara pernah bersekutu saat Perang Dingin.

Pertemuan Kim Jong-un dan Vladimir Putin kali ini dikabarkan akan fokus pada pembahasan upaya politik dan diplomatik penyelesaian masalah nuklir di semenanjung Korea yang sempat diributkan oleh Amerika Serikat.

Berita Terbaru

Sistem Kontrak Kerja jadi Masalah Generasi Muda, GMNI Singgung Keadilan Ketenagakerjaan di Indonesia

Sistem Kontrak Kerja jadi Masalah Generasi Muda, GMNI Singgung Keadilan Ketenagakerjaan di Indonesia Kondisi ketenagakerjaan saat ini menghadirkan berbagai tantangan signifikan yang berdampak pada kesejahteraan pekerja, terutama dalam menghadapi ketidakpastian kerja dan fenomena fleksibilitas yang eksploitatif atau dikenal sebagai flexploitation. Sistem kontrak sementara kerap menjadi salah satu akar permasalahan, karena tidak menjamin kesinambungan pekerjaan. Situasi ini semakin diperburuk oleh rendahnya tingkat upah, yang sering berada di bawah standar kehidupan layak, serta minimnya kenaikan gaji yang menambah beban para pekerja. Selain itu, kurangnya perlindungan sosial, seperti jaminan kesehatan yang tidak memadai, serta lemahnya penegakan hukum memperkuat kondisi precarization atau suatu kerentanan struktural yang terus dialami oleh pekerja. Di sisi lain, keterbatasan sumber daya negara juga menjadi penghambat dalam mendorong pertumbuhan sektor ekonomi kreatif yang potensial, di mana banyak pekerja terjebak dalam tekanan produktivitas tanpa disertai perlindungan hak yang memadai. Dalam konteks ini, generasi muda, termasuk kader-kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), menjadi kelompok yang paling rentan terhadap dinamika pasar kerja yang semakin eksploitatif. Generasi ini kerap menghadapi kontradiksi antara ekspektasi tinggi terhadap produktivitas dan inovasi dengan realitas kerja yang penuh ketidakpastian. Banyak dari mereka terjebak dalam sistem kerja fleksibel yang eksploitatif, seperti tuntutan kerja tanpa batas waktu dan kontrak sementara tanpa jaminan sosial yang memadai. Akibatnya, kondisi precarization semakin mengakar. Bagi kader GMNI, yang memiliki semangat juang dan idealisme tinggi untuk memperjuangkan keadilan sosial, situasi ini menjadi ironi. Di satu sisi, mereka harus tetap produktif meskipun kondisi kerja tidak mendukung, sementara di sisi lain mereka memikul tanggung jawab moral untuk terus memperjuangkan aspirasi kolektif para pekerja. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi kesejahteraan individu, tetapi juga dapat mengikis potensi intelektual, semangat juang, serta daya transformasi generasi muda dalam menciptakan struktur sosial yang lebih adil. Oleh karena itu, peran negara menjadi sangat penting untuk merumuskan kebijakan yang konkret dan menyeluruh. Kebijakan ini harus memastikan pemenuhan hak-hak dasar pekerja, termasuk perlindungan sosial yang layak, serta penegakan regulasi yang konsisten untuk mengurangi ketimpangan dan menghentikan eksploitasi dalam sistem kerja fleksibel. Tanpa langkah nyata tersebut, ketimpangan struktural di pasar tenaga kerja akan terus menjadi ancaman bagi masa depan generasi muda dan stabilitas tatanan sosial secara keseluruhan.
- Advertisement -

Baca berita yang ini