Kota Jeddah di Malam Hari
Kota Jeddah di Malam Hari (AP)

MINEWS.ID, JEDDAH – Sumber minyak di Arab Saudi diperkirakan sudah mulai menipis. Devisa negara tempat dua kota suci Makkah dan Madinah ini berada sekarang hanya mengantungkan diri pada jutaan umat Muslim yang datang setiap saat untuk melaksanakan Ibadah Umrah.

Namun pemerintah Arab Saudi pun tak mau hanya mengantungkan diri pada jamaah haji saja. Kini, mereka pun mulai membuka diri untuk menjadikan daerahnya sebagai tempat wisata.

Tahun 2019 ini untuk pertama kalinya Arab Saudi membuka pintunya untuk wisatawan asing dari 49 negara. Langkah tersebut belum pernah terjadi sebelumnya karena selama ini visa Saudi terbatas pada visa umroh dan haji, pebisnis, dan pekerja asing.
Namun Makkah dan Madinah tetap tertutup untuk non-Muslim.

Lantas apa yang dapat dilihat para wisatawan di Arab Saudi?

Al Wahbah

Di tengah padang pasir, sekitar 250 kilometer dari Kota Taif, terdapat Al Wahbah—kawah vulkanis yang besar dengan ladang garam di tengahnya. Dalam beberapa tahun terakhir, Al Wahbah kian populer di kalangan para pendaki. Namun, lantaran kedalamannya mencapai sekitar 250 meter, pendaki yang berpengalaman perlu dua-tiga jam untuk turun ke kawah dan kembali ke atas.

Tempat ini juga populer bagi mereka yang ingin mendirikan tenda dan menikmati pemandangannya.

Mada’in Saleh

Tempat kedua yang siap menampung wisatawan asing adalah Mada’in Saleh. Destinasi ini adalah kota terbesar kedua kaum Nabatean—orang-orang yang bermukim di sepanjang Arab dan Lembah Yordania sampai kerajaan mereka dicaplok bangsa Romawi pada tahun 106. Kini di antara reruntuhan terdapat kompleks pemakaman yang menampung 130 makam, altar kecil era sebelum Islam, dan sejumlah rumah yang terbuat dari tanah.

Mada’in Saleh ditahbiskan sebagai Lokasi Warisan Dunia oleh Unesco pada 2008—tempat pertama di Arab Saudi yang mendapat status tersebut.

Kota tua Jeddah dan Gerbang ke Makkah

Lokasi Warisan Dunia Unesco lainnya adalah Gerbang ke Makkah, yang terdapat di kawasan kota tua Jeddah. Pada abad ke-7, Jeddah merupakan pelabuhan penting dalam rute perdagangan Samudera Hindia sekaligus gerbang masuk bagi para pemeluk agama Islam menuju Makkah.

Benteng Masmak di Riyadh

Benteng Masmak di ibu kota Arab Saudi, Riyadh, pertama kali didirikan pada 1865. Namun, bangunan itu kondang selang 37 tahun kemudian. Pada 1902, anggota keluarga kerajaan yang diasingkan, Abdulaziz bin Abdul Rahman bin Faisal Al Saud, kembali ke kampung halamannya di Riyadh dan mengambil alih banteng ini.

Dengan bermarkas di Masmak, dia kemudian menaklukkan sejumlah kerajaan di kawasan sekitarnya untuk kemudian menyatukannya menjadi Kerajaan Arab Saudi.

Air Mancur Raja Fahd

Air mancur Raja Fahd di Jeddah disebut-sebut sebagai air mancur tertinggi di dunia. Perkiraan konservatif mengestimasi air mancur yang disumbangkan mendiang Raja Fahd ke Kota Jeddah in dapat menyemburkan air laut setinggi 260 meter—meskipun perkiraan lain menyebut ketinggiannya bisa mencapai 304 meter. Pada malam hari, air mancur ini diterangi lebih dari 500 lampu.

Umluj -alias Maladewa-nya Saudi

Pantai Umluj—yang sering disebut sebagai Maladewa-nya Arab Saudi—berada di pesisir Laut Merah. Dari pantai itu, pengunjung bisa menyaksikan pegunungan dan gunung berapi yang kini tak lagi aktif. Di dekatnya, terdapat perkebunan mangga.

Seni era Neolitik Jubbah dan Shuwaymi

Menurut Unesco, dahulu kala terdapat danau dekat bebatuan ini, yang menjadi tempat berkumpul penting baik bagi manusia maupun hewan. Seni era neolitik terlihat pada bebatuan ini dalam wujud gambaran-gambaran kuno.