Gus Dur
Abdurrahman Wahid alias Gus Dur

MINEWS, JAKARTA – Sepuluh tahun lalu, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur meninggalkan kita semua. Presiden sekaligus ulama beraura kewalian yang lahir di Jombang, 7 September 1940, tepat 79 tahun lalu, itu banyak menitipkan amanah kebangsaan untuk kita, generasi penerus masa kini.

Sebagai tokoh toleransi yang mendunia, Gus Dur hingga kini masih dikenang sebagai sosok yang menyatukan seluruh elemen bangsa, tanpa memandang apa agama dan sukunya. Foto-fotonya banyak terpajang, bukan hanya di masjid, majelis Islam, pondok pesantren, tapi juga di gereja, vihara ataupun pura, sebagai tanda kehormatan.

Di tengah memanasnya situasi Papua belakangan ini, sudah sepatutnya kita mengingat kembali pesan-pesan luhur almarhum Gus Dur. Untuk warga Papua, coba renungkanlah nasihat-nasihat Sang Guru Bangsa ini, agar kita tak lagi bertikai dan tetap menjadi bangsa yang utuh serta kuat.

“Marilah kita bangun bangsa dan kita hindarkan pertikaian yang sering terjadi dalam sejarah. Inilah esensi tugas kesejahteraan kita, yang tidak boleh kita lupakan sama sekali.”

“Menyesali nasib tidak akan mengubah keadaan. Terus berkarya dan bekerjalah yang membuat kita berharga.”

“Tidak penting apapun agama atau sukumu… Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya agamamu.”

“Dengan lelucon, kita bisa sejenak melupakan kesulitan hidup. Dengan humor, pikiran kita jadi sehat.”

“Kemajemukan harus bisa diterima, tanpa ada perbedaan.”

“Saya mengatakan kepada murid-murid bahwa kita mampu mendesak tanpa melakukan kekerasan, dan kita bisa berjalan ke arah demokrasi tanpa kekerasan. Dengan cara itu, Tuhan akan merestui kita.”

“Sabar itu gak ada batasnya, kalau ada batasnya berarti gak sabar.”

“Peran agama sesungguhnya membuat orang sadar akan fakta bahwa dirinya merupakan bagian dari anggota umat manusia, dan bagian dari alam semesta.”