Korps Paskhas. (strategi-militer.blogspot.com)

MINEWS.ID, JAKARTA – Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara (disingkat Korpaskhasau, Paskhas atau sebutan lainnya Baret Jingga), merupakan pasukan khusus yang dimiliki TNI Angkatan Udara.

Komando itu merupakan satuan tempur darat yang memiliki kemampuan tiga matra, udara, laut dan darat.

Maka, setiap prajurit Paskhas minimal harus memiliki kualifikasi para-komando (Parako) untuk dapat melaksanakan tugasnya serta ditambah kemampuan khusus kematraudaraan sesuai spesialisasinya.

Cikal-bakal Paskhas adalah pasukan payung AURI yang tugas pertamanya membantu pembangunan di Kalimantan sesuai permintaan Gubernur Kalimantan, Ir Pangeran Muhammad Noor 17 Oktober 1947.

Dalam perkembangannya pasukan itu berubah-ubah namanya dari Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP), Air Base Defence Troop (ABDT) pada sekitar 1950-an, Resimen Tim Pertempuran PGT (RTP-PGT) pada 1960 -an, dan Komando Pertahanan Pangkalan Angkatan Udara (KOPPAU) pada 1962.

Lalu, pada 17 Mei 1966 Koppau berubah lagi menjadi Komando Pasukan Gerak Tjepat (Kopasgat). Pada 1985 nama pasukan itu diubah menjadi Pusat Pasukan Khas TNI Angkatan Udara (PUSPASKHASAU).

Baru pada 17 Juli 1997 status Puspaskhas ditingkatkan dari Badan Pelaksana Pusat menjadi Komando Utama Pembinaan (Kotamabin) sehingga sebutan PUSPASKHAS menjadi Korps Pasukan Khas TNI AU (KORPASKHASAU). Nama itu lebih dikenal dengan sebutan Paskhas.

P6 ATAV

(autography.co)

Dalam setiap menjalankan tugasnya pasukan tersebut mengandalkan kendaraan P6 ATAV dan senjata kompak yang memiliki kemampuan tempur yang canggih.

P6 ATAV (All Terrain Assault Vehicle) memang tidak memiliki versi sipil. Itu memang kendaraan untuk pasukan khusus seperti Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI Angkatan Darat dan Korps Pasukan Khas (Paskhas) TNI Angkatan Udara.

Kendaraan taktis yang pernah digunakan Presiden Joko Widodo dalam beberapa acara TNI itu, adalah buatan dalam negeri yaitu Setra Surya Ekajaya (SEE).

Kendaraan itu dirancang untuk sanggup dikendarai di segala medan, terutama jalur ekstrem.

Untuk melibas jalur tersebut P6 ATAV itu hanya dibekali mesin disel berkapasitas 2.500 cc empat silinder yang mampu menghasilkan 142 tenaga kerja dengan transmisi otomatis enam percepatan.

Kendaraan itu juga dirancang bisa menempuh jarak jauh karena tangki bahan bakarnya mampu menampung 120 liter. Dengan bahan bakar penuh P6 ATAV mampu menempuh 500 kilometer.

P6-ATAV punya dimensi lebar dan lebar sekilas mirip jip Humvee yang digunakan militer Amerika Serikat. Dimensinya memiliki panjang 4,6 m, lebar 2,3 m dan tinggi 1,5 m.

Dari segi keamanan, penumpang P6 ATAV dilindungi rangka tubular dan kaca anti-peluru di depan. Sedangkan samping kiri dan kanannya tidak berpintu untuk memudahkan para penumpangnnya menggunakan senjata.

Empat sisi kendaraan taktis tersebut bisa digunakan sebagai dudukan senapan serbu dengan kaliber peluru 7,62 mm.

Mobil tersebut juga sudah menggunakan ban berjenis run flat tire, yang membuatnya bisa bergerak meski kondisi ban kempis.

Jelas sekali P6 ATAV sangat sesuai untuk menopang kerja Paskhas yang tidak kenal medan dan membutuhkan gerak cepat.

MANPADS QW-3 dan Oerlikon Skyshield

(radarmiliter.com)

Selain kendaraan taktis, setiap Paskhas juga mengandalkan MANPADS QW-3 dan Penangkis Serangan Udara, Oerlikon Skyshield.

MANPADS QW-3 andalan Paskhas kini tidak lagi terdiri dari peluncur tunggal, tetapi dua peluncur roket.

QW-3 dua peluncur punya beberapa keunggulan dibanding model panggul yang hanya satu peluncur. Pasalnya posisi penembakan lebih stabil, penembaknya pun dalam posisi duduk manis, sehingga bisa membidik sasaran lebih fokus dan tenang.

Hebatnya MANPADS itu sudah bisa diproduksi di dalam negeri, meski rudalnya sendiri masih di impor dari China Aerospace Science and Industry Corporation (CASIC), Cina.

Sementara Oerlikon Skyshield MK 2 merupakan senjata meriam Penangkis Serangan Udara (PSU) dengan kaliber 35 mm yang terintegrasi dengan Radar (sensor unit), dan Command Post. Senjata ini mampu menangkis atau dapat melumpuhkan pesawat, peluru kendali, roket dan mortar sebelum mencapai sasaran.