Prabowo Subianto berfoto keluarga bersama Titiek Soeharto dan Didit. (IG @tututsoeharto)

MINEWS.ID, JAKARTA – Ucapan belasungkawa untuk Bapak Teknologi Indonesia Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie terus mengalir dari para tokoh dalam dan luar negeri, hingga orang biasa sejak Rabu 11 September 2019 hingga hari ini 12 September 2019. Namun hingga tulisan ini dibuat minews.id tidak satupun menemukan ucapan itu dari Keluarga Cendana, mengapa bisa begitu?

Entah ada hubungannya atau tidak, BJ Habibie yang pernah menjadi ‘anak emas’ Soeharto usai menyelesaikan doktor ahli pesawat terbangnya di Jerman dengan predikat summa cum laude sekitar 1965, harus mengakhiri hubungan mereka dengan sangat pahit.

Predikat itu diperolehnya karena lelaki yang di masa akhir hidupnya sering dipanggil ‘Eyang’ tersebut berhasil menemukan rumus yang dinamakan “Faktor Habibie” karena bisa menghitung keretakan atau krack propagation on random sampai ke atom-atom pesawat terbang. Habibie pun dijuluki “Mr Crack” karena keahliannya itu

Itulah yang menyebabkan Soeharto memanggilnya pulang pada 1973 dan dipasrahkan sejumlah industri strategis terutama PT Dirgantara Indonesia (PTDI) yang waktu itu bernama Industri Pesawat Terbang Nurtanio pada 24 April 1976.

Karya terbesarnya ada Pesawat N250, sedangkan produk terlarisnya adalah CN 235, CN295 dan NC212-200.

Selain industri pesawat terbang, Habibie juga disuruh mengurus pembangunan 10 industri strategis lainnya seperti PT PAL, Pindad dan sebagainya.

Tetapi hubungan ‘mesra’ dengan Soeharto yang sudah dianggap ayah oleh Habibie berakhir saat drama politik 1998-1999 yang akhirnya melengserkan The Smiling General itu dari 32 masa kepresidenannya.

Seperti diceritakan Probosutejo, dalam ‘Pak Harto: The Untold Stories,’ Soeharto kaget ketika Habibie menyatakan bersedia menggantikannya saat itu. Padahal, sebelumnya ‘Bapak Pembangunan’ itu menyangsikan kemampuan politik Habibie, selain itu dinilai tidak etis karena sebagai wakil presiden tidak ikut mundur.

Hal lain yang dianggap melukai Soeharto adalah saat Timor Timur berhasil memisahkan diri dari Indonesia. Menurut Probo, Soeharto hanya termangu sedih saat mendengar berita itu sambil membayangkan sulitnya mengintegrasikan separuh Pulau Timor tersebut ke dalam NKRI.

Faktor terakhir yang membuat Soeharto dan Keluarga Cendana memutus hubungan dengan Habibie karena mengizinkan penegak hukum menangani kasus dugaan korupsi presiden terlama Indonesia tersebut. Meski pada akhirnya dia memutuskan menghentikan perkaranya.

Komunikasi terakhir Habibie dengan Soeharto adalah 20 Mei 1999 atau sehari sebelum menyatakan mundur dari jabatannya.

Sejak itu Soeharto tidak mau berkomunikasi apalagi menemuinya. Bahkan ada kisah yang menggambarkan betapa besarnya ketidaksukaan Soeharto terhadap Habibie yaitu saat dia sakit berat dan dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP).

Habibie dan istrinya Ainun pada 15 Januari 2008 atau 12 hari sebelum Soeharto wafat, sengaja datang jauh-jauh dari Jerman untuk menjenguknya.

Bahkan sesampainya di Bandara, Habibie dan Ainun tidak pulang ke kediamannya di Patra Kuningan, melainkan langsung ke rumah sakit tersebut.

Namun, saat berada di dalam lift rumah sakit ajudan Soeharto menolak kedatangannya dengan alasan akan mempengaruhi kondisi emosi. Akhirnya keduanya meninggalkan rumah sakit, tidak untuk pulang ke Patra Kuningan tetapi langsung ke Bandara dan terbang kembali ke Jerman.

Sepertinya hingga kini Keluarga Cendana belum bisa ‘move on’ dari luka tersebut. Tidak seperti Prabowo Subianto yang bisa melupakan rasa sakit hatinya dipecat dari Pangkostrad sehingga tetap mengucapkan bela sungkawa kepada Habibie.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here